Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ahmad Tohari dan Cerita di Balik Ronggeng Dukuh Paruk, Pulang Kampung dan Dituduh PKI

Kompas.com, 31 Maret 2026, 10:01 WIB
Luqman Sulistiyawan,
Bayu Galih

Tim Redaksi

"Saya itu sering melihat orang-orang PKI ditembak di depan umum. Tentu saja saya jadi simpati kepada orangnya, kepada manusianya. Bukan simpati kepada paham. Saya tidak simpati pada paham komunisme."

KOMPAS.com - Pernyataan simpatik terhadap korban pembantaian pasca-peristiwa 30 September 1965 dilontarkan sastrawan Ahmad Tohari saat ditanya alasan di balik penulisan novel Ronggeng Dukuh Paruk.

Tohari yang lahir dan tumbuh di Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, menyaksikan secara langsung pembantaian yang terjadi sepanjang 1965-1966.

Masih lekat di ingatan Tohari saat sejumlah orang yang dianggap anggota Partai Komunis Indonesia (PKI) direnggut nyawanya di depan khalayak umum. Tentara mengundang warga di desa untuk menyaksikan peristiwa sadis itu.

Adegan pembunuhan yang ia saksikan terus menghantuinya. Bahkan, Ahmad Tohari enggan menggambarkan bagaimana kengerian yang ia lihat di masa lampau secara detail.

"Waktu itu saya SMA kelas 2. Jadi sudah cukup tahu. Nonton berkali-kali orang PKI dibunuh. Cukup mengerikan, enggak usah saya cerita," ujar Tohari saat ditemui di rumahnya, Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Kamis (26/3/2026).

Peristiwa pembunuhan itu membuat Tohari gelisah. Hatinya bergelok. Tohari tidak tega melihat manusia dibunuh dengan cara keji.

Apalagi, mereka yang dibunuh tidak semuanya anggota PKI. Ada yang sekadar simpatisan atau bahkan dituduh PKI dengan alasan tidak berdasar.

Butuh waktu sekitar 15 tahun bagi Tohari untuk menumpahkan kegelisahannya dalam sebuah tulisan.

Pada periode 1980-an, saat bekerja sebagai redaktur harian Merdeka di Jakarta, Tohari mulai menulis naskah Ronggeng Dukuh Paruk. Naskah itu digarap di sela kesibukannya menyunting tulisan wartawan.

"Jadi kalau pagi menjadi editor harian Merdeka, kalau malam menjadi penulis ronggeng," ujar Tohari.

Sambil menyesap kopi hitam, Tohari bercerita bahwa menerbitkan novel terkait peristiwa 1965-1966 di era Orde Baru bukan perkara mudah.

Apalagi jika karya itu bertentangan dengan pemerintahan Soeharto yang membenarkan pembantaian terhadap orang-orang PKI. Risiko gagal terbit atau disita sudah hampir jadi barang pasti.

Halaman:


Terkini Lainnya
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Prabowo dan Trump Pamerkan Produk Olahan Babi
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Prabowo dan Trump Pamerkan Produk Olahan Babi
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Farel Prayoga Meninggal Dunia pada 1 April 2026
[HOAKS] Farel Prayoga Meninggal Dunia pada 1 April 2026
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Pigai Sebut Yaqut Tidak Melanggar HAM karena Korupsi Sesuai Prosedur
[HOAKS] Pigai Sebut Yaqut Tidak Melanggar HAM karena Korupsi Sesuai Prosedur
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Foto Ronaldo Bentangkan Bendera Portugal Diedit Jadi Bendera Palestina
[KLARIFIKASI] Foto Ronaldo Bentangkan Bendera Portugal Diedit Jadi Bendera Palestina
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Bandara Terbesar di AS Hancur Lebur, Simak Faktanya
INFOGRAFIK: Hoaks Bandara Terbesar di AS Hancur Lebur, Simak Faktanya
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Bahlil Sebut PLN Merugi karena Rakyat Tidak Hemat Listrik
[HOAKS] Bahlil Sebut PLN Merugi karena Rakyat Tidak Hemat Listrik
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Dirjen Bimas Hindu Umumkan Bantuan Rp 15,2 Miliar
[HOAKS] Dirjen Bimas Hindu Umumkan Bantuan Rp 15,2 Miliar
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Ribuan Burung di Texas, Bukan Gagak di Tel Aviv
[KLARIFIKASI] Video Ribuan Burung di Texas, Bukan Gagak di Tel Aviv
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Kemenaker Mulai Salurkan BSU Rp 600.000
[HOAKS] Kemenaker Mulai Salurkan BSU Rp 600.000
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Hoaks Prabowo Nyatakan Indonesia Siap Berperang, Simak Bantahannya
INFOGRAFIK: Hoaks Prabowo Nyatakan Indonesia Siap Berperang, Simak Bantahannya
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Ronaldo Ucapkan Kalimat Syahadat adalah Konten AI
[KLARIFIKASI] Video Ronaldo Ucapkan Kalimat Syahadat adalah Konten AI
Hoaks atau Fakta
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Wapres Gibran Pernah Bertemu Ayatollah Ali Khamenei
INFOGRAFIK: Muncul Hoaks Wapres Gibran Pernah Bertemu Ayatollah Ali Khamenei
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Video Serangan Drone di Bahrain, Bukan Citibank Dubai
[KLARIFIKASI] Video Serangan Drone di Bahrain, Bukan Citibank Dubai
Hoaks atau Fakta
[HOAKS] Tautan untuk Akses Bantuan Budi Daya Ikan dari Dinas Perikanan
[HOAKS] Tautan untuk Akses Bantuan Budi Daya Ikan dari Dinas Perikanan
Hoaks atau Fakta
[KLARIFIKASI] Foto Ini Kecelakaan pada 2018, Bukan Arus Balik 2026
[KLARIFIKASI] Foto Ini Kecelakaan pada 2018, Bukan Arus Balik 2026
Hoaks atau Fakta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau