Di hari kelima, tentara bertanya kepada Tohari apakah ada orang yang bisa menjamin dan memastikan bahwa ia bukan anggota PKI.
Mendengar pertanyaan itu Tohari diam sejenak. Ia meminta secarik kertas dan pulpen. Di kertas itu Tohari menulis nama Abdurrahman Wahid (Gus Dur) beserta nomor teleponnya.
"Saya bilang, telepon orang ini. Dia akan mengatakan bahwa saya bukan PKI. Ternyata mereka (tentara) enggak berani menelepon. Malah saya disuruh pulang," ungkap Tohari.
Tohari sendiri mengenal Gus Dur saat bekerja sebagai redaktur di Jakarta. Kebetulan, lokasi tempat kerja Tohari dekat dengan kantor Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).
Saat itu, Tohari kerap bertemu Gus Dur di kantor PBNU untuk bertukar pikiran atau sekadar mengobrol ringan.
Sebagai cucu pendiri Nahdlatul Ulama Hasyim Asy'ari, Gus Dur memang memiliki pemikiran terbuka, juga terkait peristiwa yang terjadi usai G30S.
Gus Dur secara terbuka juga pernah meminta maaf atas keterlibatan warga Nahdliyin dalam pembunuhan terhadap simpatisan, kader, bahkan orang-orang yang dituduh komunis tanpa putusan pengadilan.
"Dari dulu pun, saya sudah minta maaf. Bukan sekarang saja, tanyakan pada teman-teman di lembaga swadaya masyarakat (LSM). Saya sudah meminta maaf atas segala pembunuhan yang terjadi terhadap orang-orang yang dikatakan sebagai komunis," kata Gus Dur 14 Maret 2000, seperti dimuat di Harian Kompas, 15 Maret 2000.
"Buktikan dong secara pengadilan, enggak begitu saja terjadi. Dan, maaf ya, hal semacam itu terjadi, justru banyak pembunuhan dilakukan oleh anggota NU. Padahal saya Ketua NU, untungnya setelah itu (setelah peristiwa G30S terjadi-Red). Saya enggak pernah nutup-nutupi, memang begitu kok," ujar Gus Dur.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang