Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Ketika Guru SD di Maluku Tengah Tak Menyerah Bimbing Siswa Bisa Membaca

Kompas.com, 3 November 2025, 10:59 WIB
Ayunda Pininta Kasih

Penulis

KOMPAS.com - Di balik semangat meningkatkan capaian belajar anak-anak Indonesia, masih ada pekerjaan besar yang belum selesai: memastikan setiap anak bisa membaca.

Di Kabupaten Buleleng, Bali, misalnya, tercatat 842 siswa SD kelas 4 hingga 6 belum lancar membaca meski sudah mendekati kelulusan.

Padahal, kemampuan membaca adalah jendela dari segala pengetahuan. Tanpanya, anak akan kesulitan mengikuti pelajaran, menafsirkan informasi, bahkan mengembangkan cara berpikir logis yang dibutuhkan untuk tumbuh dan belajar.

Membimbing anak agar bisa membaca bukan perkara mudah. Setiap anak memiliki ritme yang berbeda. Ada yang cepat mengenali huruf, ada pula yang butuh waktu lebih lama untuk mengeja suku kata demi suku kata.

Baca juga: Kisah Guru Nofri, Rela Tempuh 40 Jam Perjalanan demi Berbagi Ilmu

Saat kesabaran dan ketekunan guru berbuah manis

Di tengah tantangan itu, para pendidik di SDN 234 Maluku Tengah memilih untuk tidak menyerah.

Di sekolah yang dipimpin oleh Rugaya Ipaenin, para guru berjuang membimbing murid yang belum bisa membaca lewat program Bengkel Literasi, sebuah ruang belajar yang tumbuh bukan karena kewajiban, tapi karena kepedulian.

“Program ini tumbuh bukan karena kewajiban, tetapi karena kepedulian, bahwa setiap anak berhak merasakan kebahagiaan memahami dunia lewat kata-kata,” ujar Rugaya, yang juga menjadi penggagas program tersebut.

Baginya, mengajar membaca bukan sekadar tugas, melainkan bentuk kasih.

“Mengajarkan membaca memang tidak semudah membalik telapak tangan, tetapi dengan ketekunan, anak-anak akhirnya bisa melihat dan memahami makna di balik setiap kata,” tambahnya.

Hasilnya pun nyata. Siswa kelas 3, Widjayanto Utomo, yang awalnya hanya bisa mengeja suku kata, kini telah mampu membaca lancar.

“Melalui bimbingan intensif dari guru dan dukungan orangtua di rumah, Widjayanto kini telah mencapai level membaca lancar dan resmi ‘lulus’ dari bengkel literasi,” imbuh Rugaya.

Hal serupa juga terjadi pada Azzahra, siswi kelas 2 yang dulu hanya mengenal huruf vokal.

Berkat pendampingan rutin, kini ia bisa membaca tiga kata dalam satu kalimat pendek. Sebuah kemajuan besar yang membuat orang tuanya berharap program ini terus berjalan.

Baca juga: Kisah Guru Rahmayani, Membuka Program Belajar Gratis Berantas Buta Al Quran

Kolaborasi yang menyalakan harapan

Keberhasilan Bengkel Literasi, kata Rugaya, tidak lepas dari kerja tim dan dukungan berbagai pihak.

“Saya berpikir ketika ditangani tim pasti hasilnya jauh lebih bagus. Biar anak-anaknya juga punya perasaan bahwa saya bukan cuma diperhatikan oleh wali kelas saya, tapi guru lain juga memperhatikan,” ucapnya.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau