Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
KILAS

UK Maranatha Cetak Dokter Spesialis Obgyn hingga Riset Tanaman Super Melawan Stunting

Kompas.com, 18 Maret 2026, 09:37 WIB
I Jalaludin S,
DWN

Tim Redaksi

KOMPAS.com – Universitas Kristen (UK) Maranatha Bandung resmi mengambil peran dalam mendukung Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC) Presiden Prabowo Subianto. 

Upaya kampus swasta tersebut dilakukan melalui peluncuran Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) Obstetri dan Ginekologi (Obgyn) sekaligus penguatan riset bioteknologi tanaman kelor untuk mendukung upaya penurunan stunting.

Program spesialis tersebut diluncurkan bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) di Grha Sanusi Hardjadinata, Universitas Padjadjaran, Bandung, Rabu (18/2/2026).

Rektor UK Maranatha Frans Umbu Datta menyampaikan apresiasi kepada Universitas Padjadjaran (Unpad) sebagai perguruan tinggi pembina yang membantu persiapan penyelenggaraan program dokter spesialis di Fakultas Kedokteran (FK) Maranatha.

“Memasuki usia 61 tahun, UK Maranatha untuk pertama kalinya membuka program pendidikan dokter spesialis. Ini adalah momentum bersejarah,” ujarnya dalam keterangan tertulis yang diterima Kompas.com, Senin (16/3/2026).

Baca juga: Dapat Hibah Diktisaintek 2025, UK Maranatha Perkuat Riset Berdampak untuk Masyarakat

Frans mengatakan, selama ini UK Maranatha berkontribusi menghasilkan dokter umum di Indonesia. 

Melalui program spesialis tersebut, kampus ingin turut memperkuat dukungan terhadap program nasional di bidang kesehatan.

Menurutnya, pembukaan PPDS Obstetri dan Ginekologi di FK Maranatha juga menunjukkan kepercayaan pemerintah terhadap kualitas pendidikan dan fasilitas Rumah Sakit (RS) Maranatha.

Sementara itu, Sekretaris Umum Yayasan Perguruan Tinggi Kristen Maranatha (YPTKM) Arif Suryanto menyoroti masih terbatasnya jumlah dokter spesialis di Indonesia, khususnya di Jawa Barat (Jabar).

Ia mengatakan, UK Maranatha bersama Unpad ingin bersinergi dengan pemerintah untuk meningkatkan pelayanan kesehatan bagi masyarakat.

Baca juga: Pemkot Bandung Gandeng UK Maranatha Atasi Masalah Permukiman

“Melalui program spesialis ini, FK Maranatha juga terus berkembang agar dapat menghasilkan dokter spesialis yang sesuai dengan kebutuhan zaman,” ujar Arif.

Inovasi bioteknologi tanaman kelor

Bappenas meninjau laboratorium bioteknologi FK Maranatha dalam kunjungan kerja di kampus UK Maranatha, Bandung (11/2/2026). DOK. Humas UK Maranatha Bappenas meninjau laboratorium bioteknologi FK Maranatha dalam kunjungan kerja di kampus UK Maranatha, Bandung (11/2/2026).

Pada kesempatan terpisah, Sekretaris Umum UK Maranatha Pan Lindawaty Suherman Sewu mengungkapkan, UK Maranatha juga berkontribusi dalam penguatan program kesehatan nasional melalui pengembangan riset bioteknologi.

Dia menjelaskan bahwa penguatan riset tersebut sejalan dengan pilar utama pendidikan Maranatha sejak berdiri pada 1965.

Salah satu inisiatif yang tengah dikembangkan adalah rencana pembangunan pusat riset nasional tanaman kelor (Moringa oleifera) bersama Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Republik Indonesia (RI).

Baca juga: Rektor Baru Universitas Kristen Maranatha Didorong Perkuat Peran Akademik dalam Pembangunan Kota Bandung

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau