Kerusakan terjadi di sejumlah titik pada segmen Mauponggo–Puuwada 1 sepanjang dua kilometer.
Retakan kecil serta penurunan kualitas permukaan jalan sempat memicu kekhawatiran masyarakat yang setiap hari bergantung pada akses tersebut, mulai dari petani, pelajar hingga pedagang kecil.
Bagi warga, jalan ini bukan sekadar infrastruktur, melainkan urat nadi aktivitas ekonomi dan sosial.
Kepala Satuan Kerja Pelaksanaan Jalan Nasional (Satker PJN) Wilayah IV NTT, Wilhelmus Sugu Djawa, mengatakan kerusakan tersebut terjadi saat proyek masih dalam tahap pelaksanaan atau sebelum proses serah terima pertama (PHO).
“Kerusakan ini terjadi saat pekerjaan masih berjalan atau belum PHO. Saat ini sudah kami tangani dan kondisinya kembali baik,” ujar Wilhelmus kepada Kompas.com, Jumat (20/3/2026) malam.
Peningkatan Jalan
Ia menjelaskan, proyek peningkatan jalan tersebut merupakan bagian dari dua paket pekerjaan dalam Program Inpres Jalan Daerah Tahun Anggaran 2025 di Kabupaten Nagekeo, dengan total nilai kontrak mencapai Rp 18,39 miliar.
Paket pertama adalah preservasi Jalan Mauponggo–Ngera–Puuwada 1 sepanjang dua kilometer yang dikerjakan oleh CV Ratu Orzora dengan nilai Rp 9,11 miliar.
Sementara paket kedua, dengan panjang yang sama, dikerjakan oleh CV Anugerah Cipta Jaya dengan nilai Rp 9,28 miliar.
Kedua paket tersebut berada di bawah pengawasan konsultan supervisi PT Maha Charisma Adiguna.
Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) proyek tersebut, Richard Manukoa, menegaskan bahwa setiap temuan kerusakan menjadi bagian dari evaluasi yang wajib segera ditindaklanjuti.
“Sudah ditangani dan sekarang kondisinya baik dan mulus,” kata Richard.
Menurutnya, tanggung jawab tidak berhenti pada penyelesaian administratif, tetapi juga mencakup fase pascapekerjaan untuk memastikan kualitas jalan tetap terjaga.
Richard juga mengungkapkan, sejak awal proyek berjalan, pihaknya telah melibatkan Kejaksaan Tinggi NTT dalam pengawasan.
Selain itu, audit juga akan dilakukan oleh Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP) Perwakilan NTT setelah Lebaran.
“Kami memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan dan tidak ada niat untuk mengambil keuntungan pribadi dari proyek ini,” imbuh Richard.
Ia berharap masyarakat dapat kembali memanfaatkan jalan tersebut dengan aman dan nyaman, sehingga distribusi hasil pertanian dan aktivitas sehari-hari bisa berjalan lancar tanpa hambatan.
Sebelumnya, warga Desa Ngera dan Lewa Ngera, Kecamatan Keo Tengah, sempat mengeluhkan kondisi jalan yang baru selesai dibangun pada akhir 2025 namun sudah mengalami kerusakan.
Jalan sepanjang sekitar empat kilometer itu merupakan akses vital yang menghubungkan Kecamatan Mauponggo dan Keo Tengah, serta melayani lima desa dengan jumlah penduduk sekitar 7.000 jiwa.
https://www.kompas.com/properti/read/2026/03/22/085414421/sempat-rusak-jalan-inpres-mauponggo-ngera-rp-18-miliar-kembali-mulus