Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bisakah Aspal Jalan Didaur Ulang Berkali-kali?

Kompas.com, 19 Desember 2025, 08:07 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Aspal kerap dianggap sebagian orang awam sebagai material sekali pakai. Ketika jalan aspal rusak, lapisan lama digerus dan diganti yang baru.

Namun dalam praktik konstruksi, aspal justru menjadi salah satu material infrastruktur yang bisa didaur ulang berkali-kali tanpa kehilangan fungsi utamanya.

Pakar konstruksi jalan dan jembatan, Riski Wahyudi, mengungkapkan perkerasan aspal terdiri dari agregat (batu pecah dan pasir) yang diikat oleh bitumen, produk turunan minyak bumi.

Ketika usia layanan jalan berakhir, lapisan aspal lama tidak serta-merta menjadi limbah. Lapisan tersebut digiling menjadi material yang dikenal sebagai reclaimed asphalt pavement (RAP).

Aspal daur ulang kemudian dapat dicampur kembali dengan aspal baru untuk menghasilkan lapisan perkerasan yang layak pakai. Ini karena aspal bersifat termoplastik, artinya aspal dapat dipanaskan, dilelehkan, lalu dibentuk kembali tanpa merusak struktur dasarnya.

Baca juga: Mengapa Ada Jalan Tol Pakai Aspal dan Beton Secara Bersamaan?

Material hasil pengupasan jalan aspal kemudian dikumpulkan dan dibawa ke unit pengolahan atau asphalt mixing plant (AMP). Di lokasi ini, RAP akan disaring untuk memisahkan ukuran agregat dan memastikan kualitas material masih memenuhi standar.

"Aspal dapat didaur ulang dan digunakan Kembali menggunakan alat daur ulang atau diproses pada asphalt mixing plant," jelas Riski Wahyudi saat dihubungi, Jumat (19/12/2025).

Diungkapkan dosen teknik sipil ini, di fasilitas AMP, RAP dicampur dengan agregat baru dan bitumen tambahan. Penambahan bitumen baru diperlukan karena sifat aspal lama cenderung mengeras seiring usia.

Dalam penerapan teknologi konstruksi jalan saat ini, ditambahkan pula bahan peremaja (rejuvenator) saat proses daur ulang aspal untuk mengembalikan elastisitas bitumen lama.

Di Indonesia, standar Bina Marga Kementerian Pekerjaan Umum (PU) mengatur batas kadar RAP yang boleh digunakan, tergantung jenis lapisan dan kelas jalan.

Hal ini diatur dalam Permen Menteri PUPR Nomor 26/ PRT/M/2017 yang menyebutkan 99 persen jalan terintegrasi antar moda yang memanfaatkan sebanyak-banyaknya material lokal dan menggunakan teknologi recycle.

Baca juga: Jalan Aspal Vs Beton, Mana Lebih Awet?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau