Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asa Baru Industri Nasional di Balik Program Gentengisasi Prabowo

Kompas.com, 7 Februari 2026, 14:00 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto baru saja mencanangkan Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (Asri).

Salah satunya adalah mengganti atap seluruh bangunan di Indonesia dengan genteng, dan bukan lagi seng.

Program "Gentengisasi" yang diproyeksikan sebagai instrumen peningkatan kualitas hunian nasional, bukan sekadar urusan estetika.

Baca juga: 5 Provinsi dengan Gentengisasi Tertinggi di RI, Termasuk Lampung

Ia dipandang sebagai upaya penyelamatan industri genteng nasional yang sedang "berdarah-darah" akibat gempuran produk impor.

Selama hampir satu dekade, industri genteng tanah liat dan beton dalam negeri terhimpit oleh invasi genteng impor, terutama dari China dan Vietnam, yang merangsek masuk sejak tahun 2018.

Produk luar ini menawarkan harga yang tidak masuk akal murahnya dengan material ringan yang memikat konsumen, namun secara perlahan menggerogoti ekosistem produsen lokal.

Ketika Harga Murah Membunuh Kualitas

Serangan genteng impor, khususnya jenis metal pasir dan material komposit ringan, mulai mendominasi pasar domestik sejak pertengahan 2019.

Dengan harga yang bisa lebih murah 30-40 persen dibandingkan genteng beton atau keramik lokal, produk ini langsung menyasar proyek-proyek perumahan massal.

Baca juga: Ternyata Mayoritas Rumah di DKI Masih Pakai Asbes

Berdasarkan estimasi pelaku industri dan Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), diperkirakan lebih dari 45 pabrik genteng skala menengah dan besar berhenti beroperasi.

Di tingkat perajin tradisional atau sentra genteng tanah liat, ribuan tungku pembakaran di wilayah seperti Jatiwangi, Purwakarta, Plered, dan Kebumen dilaporkan padam karena kalah bersaing secara harga dan efisiensi distribusi.

Neraca Pasok dan Kebutuhan 

Kesenjangan antara kapasitas produksi dan serapan pasar menjadi cermin tantangan industri ini.

Kebutuhan genteng nasional pada 2025 saja mencapai estimasi 1,2 miliar keping atau setara dengan pembangunan dan renovasi sekitar 1,5 juta unit rumah.

Sedangkan produksi genteng nasional dengan kapasitas terpasang sebenarnya mencapai 1,8 miliar keping, namun utilitas produksi hanya menyentuh angka 55-60 persen.

Baca juga: Mengapa Rumah di Timur Tengah Berbentuk Kotak dan Tak Pakai Genteng?

Artinya, Indonesia memiliki surplus kapasitas yang sangat besar, namun pasar justru dibanjiri oleh produk impor yang mengakibatkan stok nasional menumpuk di gudang-gudang produsen lokal.

Gentengisasi: Harapan bagi Produsen Besar dan Kecil

Merespons kondisi ini, Program Gentengisasi dalam Gerakan Indonesia Asri hadir sebagai oase.

Halaman:
Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau