Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Prabowo Subianto baru saja mencanangkan Gerakan Indonesia Aman, Sehat, Resik, dan Indah (Asri).
Salah satunya adalah mengganti atap seluruh bangunan di Indonesia dengan genteng, dan bukan lagi seng.
Program "Gentengisasi" yang diproyeksikan sebagai instrumen peningkatan kualitas hunian nasional, bukan sekadar urusan estetika.
Baca juga: 5 Provinsi dengan Gentengisasi Tertinggi di RI, Termasuk Lampung
Ia dipandang sebagai upaya penyelamatan industri genteng nasional yang sedang "berdarah-darah" akibat gempuran produk impor.
Selama hampir satu dekade, industri genteng tanah liat dan beton dalam negeri terhimpit oleh invasi genteng impor, terutama dari China dan Vietnam, yang merangsek masuk sejak tahun 2018.
Produk luar ini menawarkan harga yang tidak masuk akal murahnya dengan material ringan yang memikat konsumen, namun secara perlahan menggerogoti ekosistem produsen lokal.
Serangan genteng impor, khususnya jenis metal pasir dan material komposit ringan, mulai mendominasi pasar domestik sejak pertengahan 2019.
Dengan harga yang bisa lebih murah 30-40 persen dibandingkan genteng beton atau keramik lokal, produk ini langsung menyasar proyek-proyek perumahan massal.
Baca juga: Ternyata Mayoritas Rumah di DKI Masih Pakai Asbes
Berdasarkan estimasi pelaku industri dan Asosiasi Aneka Industri Keramik Indonesia (Asaki), diperkirakan lebih dari 45 pabrik genteng skala menengah dan besar berhenti beroperasi.
Di tingkat perajin tradisional atau sentra genteng tanah liat, ribuan tungku pembakaran di wilayah seperti Jatiwangi, Purwakarta, Plered, dan Kebumen dilaporkan padam karena kalah bersaing secara harga dan efisiensi distribusi.
Kesenjangan antara kapasitas produksi dan serapan pasar menjadi cermin tantangan industri ini.
Kebutuhan genteng nasional pada 2025 saja mencapai estimasi 1,2 miliar keping atau setara dengan pembangunan dan renovasi sekitar 1,5 juta unit rumah.
Sedangkan produksi genteng nasional dengan kapasitas terpasang sebenarnya mencapai 1,8 miliar keping, namun utilitas produksi hanya menyentuh angka 55-60 persen.
Baca juga: Mengapa Rumah di Timur Tengah Berbentuk Kotak dan Tak Pakai Genteng?
Artinya, Indonesia memiliki surplus kapasitas yang sangat besar, namun pasar justru dibanjiri oleh produk impor yang mengakibatkan stok nasional menumpuk di gudang-gudang produsen lokal.
Merespons kondisi ini, Program Gentengisasi dalam Gerakan Indonesia Asri hadir sebagai oase.