Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com – Memasuki dua dekade kiprahnya, Paramount Enterprise mulai menunjukkan ambisi untuk tidak lagi menggantungkan nasib semata pada pembangunan residensial.
Di balik target prapenjualan jumbo sebesar Rp 5,5 triliun pada 2026, raksasa pengembang ini secara agresif mengalihkan kemudi menuju penguatan pendapatan berulang (recurring income).
Sektor perhotelan dipilih sebagai ujung tombak. Melalui unit manajemen hotelnya, Parador Hotels & Resorts, Paramount menggelontorkan belanja modal (capex) fantastis senilai Rp 350 miliar.
Baca juga: Kementerian ATR/BPN No Comment soal Operasional Hotel Sultan
Dana ini dikhususkan untuk melakukan revitalisasi besar-besaran terhadap jaringan Hotel Atria di Gading Serpong, Magelang, dan Malang.
Sebuah langkah berani untuk menyuntikkan nyawa baru pada aset bintang empat yang selama ini menjadi mesin uang cadangan perusahaan.
Strategi "bedah wajah" ini merupakan bagian dari visi besar Presiden Direktur Paramount Enterprise, M. Nawawi.
Ia ingin memisahkan nilai aset ritel dan komersial ke dalam divisi yang lebih fokus agar unit bisnis hospitalitas mampu berdiri tegak sejajar dengan pendapatan dari sektor residensial.
"Harapan kami, recurring income bisa tumbuh setidaknya 3 persen setiap tahun. Saat ini kontribusinya masih di angka 10 hingga 20 persen. Kami mengejar keseimbangan hingga mencapai komposisi 50-50 di masa depan," tegas Nawawi dalam pertemuan media di Gading Serpong, Kamis (26/2/2026).
Baca juga: Menurut Permen, Ini Bedanya Hotel Bintang 1, 2, 3, 4, dan 5
Langkah ini senada dengan dorongan Ketua Umum Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Hariyadi B. Sukamdani.
PHRI memang telah meminta pelaku industri untuk terus berinovasi guna menjaga stabilitas tarif nasional dan mengerek okupansi melalui kolaborasi lokal yang autentik.
Momentum Ramadan dan Idul Fitri tahun ini akan menjadi pembuktian pertama bagi wajah baru Atria.
Chief Operating Officer Parador Hotels & Resorts, Johannes Hutauruk, optimistis bahwa sinergi antara libur awal tahun dan bulan suci akan mendongkrak pendapatan secara signifikan, terutama dari sektor Food & Beverage.
Penyegaran ini tidak berhenti pada fisik bangunan. Di Magelang, Atria mencoba "menjual" pengalaman lewat "Pasar Lawasan", sebuah konsep unik yang menggandeng UMKM lokal dengan sistem transaksi tradisional menggunakan keping kayu.
Baca juga: Ini Arti Label Bintang di Industri Hotel Menurut Regulasi
Sementara di Gading Serpong, program "Ragam Rasa Ramadan" menjadi senjata untuk memikat pasar aglomerasi Jabodetabek melalui perpaduan kuliner Timur Tengah dan Nusantara.
Tak ketinggalan, Atria Hotel Malang merespons pasar dengan "Ramadan Festival".