Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cegah "Galodo", Pemerintah Bangun 8 Sabo Dam di Tanah Sumbar

Kompas.com, 4 Maret 2026, 11:00 WIB
Suhaiela Bahfein,
Hilda B Alexander

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah mulai membangun delapan sabo dam untuk mencegah terulangnya bencana “galodo” atau banjir lahar dingin dari Gunung Marapi di Sumatera Barat.

Pembangunan infrastruktur pengendali sedimen ini ditandai dengan groundbreaking (peletakan batu pertama) oleh Kementerian Pekerjaan Umum (PU) di Nagari Sungai Jambu, Kecamatan Pariangan, Kabupaten Tanah Datar, Selasa (3/3/2026).

Langkah tersebut menjadi bagian dari program rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur pascaerupsi serta banjir lahar Gunung Marapi tahun 2024.

Selain itu, pembangunan sabo dam juga diarahkan untuk memperkuat sistem mitigasi dan penanganan lahar pascabencana hidrometeorologi di wilayah Sumatera Barat.

Menteri PU Dody Hanggodo menegaskan, pembangunan sabo dam merupakan wujud tanggung jawab negara dalam melindungi masyarakat dari risiko kebencanaan.

Baca juga: Pasca Galodo, Jembatan Kembar Margayasa Beroperasi Terbatas

Seluruh pekerjaan mengacu pada master plan pengendalian sedimen Gunung Marapi yang telah disusun secara komprehensif.

“Bencana tidak bisa lagi dipandang sebagai pekerjaan sektoral semata. Ini harus dibaca sebagai bagian dari strategi ketahanan nasional yang menyentuh langsung kehidupan rakyat. Dalam arah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, ketahanan energi, pangan, dan air menjadi fondasi utama pembangunan bangsa,” kata Dody.

Tahap Awal dari 56 Sabo Dam

Secara keseluruhan, Kementerian PU merencanakan pembangunan 56 unit sabo dam di 24 sungai di kawasan Gunung Marapi secara bertahap sebagai bagian dari penanganan jangka panjang banjir lahar dingin.

Pada Tahap I tahun anggaran 2025–2027, akan dibangun delapan sabo dam dan satu series river training works.

Rinciannya, lima unit berada di Tanah Datar dan tiga unit di Agam, serta pekerjaan river training works di Sungai/Batang Pagu-Pagu, Kabupaten Tanah Datar.

Delapan sabo dam tahap awal ini memiliki total kapasitas tampungan sedimen sekitar 440.000 meter kubik dan ditargetkan rampung pada akhir 2027.

Percepatan penyediaan lahan oleh pemerintah daerah menjadi salah satu faktor pendukung penyelesaian proyek.

Salah satu sabo dam di Sungai Batang Malana bertipe oprit dengan lebar 48,4 meter dan tinggi 8 meter, serta memiliki kapasitas tampung 12.950 meter kubik sedimen.

Lindungi Permukiman dan Lahan Pertanian

Pembangunan sabo dam diharapkan mampu melindungi lahan pertanian seluas kurang lebih 9,56 hektare dan kawasan permukiman dengan total sekitar 37.200 penduduk.

Infrastruktur ini juga dirancang menjaga jalan nasional sepanjang kurang lebih 2,1 kilometer agar tetap berfungsi dan tidak terputus akibat aliran lahar.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau