Penulis
KARAWANG, KOMPAS.com – Peta industri Nasional tengah mengalami pergeseran signifikan.
Ketika lahan di Bekasi, Jawa Barat, mulai menyentuh titik jenuh dan harga tanah meroket, gravitasi ekonomi manufaktur secara masif bergerak lebih jauh ke arah timur.
Karawang, Purwakarta, hingga Subang kini telah bermutasi menjadi jangkar utama bagi masa depan manufaktur Indonesia.
Baca juga: Pengembang Dukung Aturan Lahan Apartemen di Kawasan Industri
Laporan terbaru dari Colliers Indonesia bertajuk “Eastern Greater Jakarta Corridor Momentum” mengungkapkan, koridor timur kini menjadi palagan baru bagi investasi asing, terutama dari China.
Namun, bayang-bayang ketegangan geopolitik global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dan sekutu AS-Israel, mulai memaksa para pemegang modal untuk menghitung ulang langkah mereka.
Tak ada yang menafikan, selama dekade terakhir, Bekasi adalah primadona. Namun, keterbatasan lahan baru dan matangnya kawasan tersebut memaksa ekspansi industri bergerak ke arah Karawang dan Subang.
Jika Bekasi dan Karawang kini lebih banyak menyerap Standard Factory Buildings (SFB) yang bersifat plug-and-play, maka Purwakarta dan Subang menjadi incaran bagi pemesan lahan skala besar (land hungry industries).
Baca juga: 1 Februari, Pemprov Jabar Terbitkan Aturan Kawasan Industri Wajib Sediakan Lahan Apartemen
Munculnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seperti di Subang dan Batang menjadi bukti nyata pergeseran ini.
Didukung oleh infrastruktur terintegrasi seperti Pelabuhan Patimban dan jaringan jalan tol baru, kawasan-kawasan ini berkembang menjadi pusat distribusi regional.
Tak tanggung-tanggung, Pemerintah pun memberikan insentif fiskal dan non-fiskal di KEK untuk menarik raksasa manufaktur global.
Indonesia kian dipandang sebagai lokasi strategis bagi produsen asal China.
Diversifikasi manufaktur menjadi harga mati bagi perusahaan China guna menghindari hambatan perdagangan di pasar Barat. Namun, stabilitas ini kini diuji oleh sentimen global.
Head of Industrial and Logistics Services Colliers Indonesia, Rivan Munansa, mencatat bahwa meski operasional perusahaan China di Indonesia saat ini masih stabil, calon investor baru mulai menunjukkan perilaku yang berbeda.
Baca juga: 554.000 Hektar Sawah Menyusut Tiap Tahun Sejak 2019, Jadi Rumah dan Kawasan Industri
"Operasional perusahaan China di Indonesia masih berjalan stabil, tetapi investor baru cenderung mengambil langkah yang lebih hati-hati. Potensi implikasi terhadap rantai pasok dapat bervariasi dalam bentuk maupun hasil," ujar Rivan dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).
Berdasarkan analisis Colliers, ketegangan global akan memengaruhi perilaku pasar dalam tiga fase krusial.