Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bara di Timur Tengah, China Kian Mantap Memilih Karawang-Subang

Kompas.com, 10 Maret 2026, 13:49 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

KARAWANG, KOMPAS.com – Peta industri Nasional tengah mengalami pergeseran signifikan.

Ketika lahan di Bekasi, Jawa Barat, mulai menyentuh titik jenuh dan harga tanah meroket, gravitasi ekonomi manufaktur secara masif bergerak lebih jauh ke arah timur.

Karawang, Purwakarta, hingga Subang kini telah bermutasi menjadi jangkar utama bagi masa depan manufaktur Indonesia.

Baca juga: Pengembang Dukung Aturan Lahan Apartemen di Kawasan Industri

Laporan terbaru dari Colliers Indonesia bertajuk “Eastern Greater Jakarta Corridor Momentum” mengungkapkan, koridor timur kini menjadi palagan baru bagi investasi asing, terutama dari China.

Namun, bayang-bayang ketegangan geopolitik global, termasuk eskalasi konflik di Timur Tengah antara Iran dan sekutu AS-Israel, mulai memaksa para pemegang modal untuk menghitung ulang langkah mereka.

Kebangkitan Subang

Tak ada yang menafikan, selama dekade terakhir, Bekasi adalah primadona. Namun, keterbatasan lahan baru dan matangnya kawasan tersebut memaksa ekspansi industri bergerak ke arah Karawang dan Subang.

Jika Bekasi dan Karawang kini lebih banyak menyerap Standard Factory Buildings (SFB) yang bersifat plug-and-play, maka Purwakarta dan Subang menjadi incaran bagi pemesan lahan skala besar (land hungry industries).

Baca juga: 1 Februari, Pemprov Jabar Terbitkan Aturan Kawasan Industri Wajib Sediakan Lahan Apartemen

Munculnya Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) seperti di Subang dan Batang menjadi bukti nyata pergeseran ini.

Didukung oleh infrastruktur terintegrasi seperti Pelabuhan Patimban dan jaringan jalan tol baru, kawasan-kawasan ini berkembang menjadi pusat distribusi regional.

Tak tanggung-tanggung, Pemerintah pun memberikan insentif fiskal dan non-fiskal di KEK untuk menarik raksasa manufaktur global.

Magnet China

Indonesia kian dipandang sebagai lokasi strategis bagi produsen asal China.

Diversifikasi manufaktur menjadi harga mati bagi perusahaan China guna menghindari hambatan perdagangan di pasar Barat. Namun, stabilitas ini kini diuji oleh sentimen global.

Head of Industrial and Logistics Services Colliers Indonesia, Rivan Munansa, mencatat bahwa meski operasional perusahaan China di Indonesia saat ini masih stabil, calon investor baru mulai menunjukkan perilaku yang berbeda.

Baca juga: 554.000 Hektar Sawah Menyusut Tiap Tahun Sejak 2019, Jadi Rumah dan Kawasan Industri

"Operasional perusahaan China di Indonesia masih berjalan stabil, tetapi investor baru cenderung mengambil langkah yang lebih hati-hati. Potensi implikasi terhadap rantai pasok dapat bervariasi dalam bentuk maupun hasil," ujar Rivan dalam keterangannya, Selasa (10/3/2026).

Berdasarkan analisis Colliers, ketegangan global akan memengaruhi perilaku pasar dalam tiga fase krusial.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau