Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 7 September 2021, 20:15 WIB
Bestari Kumala Dewi

Penulis

Sumber WHO, Britannica

KOMPAS.com - Ada banyak bakteri dan virus yang beredar di sekitar kita. Meski tubuh memiliki banyak cara mempertahankan diri dari patogen (organisme penyebab penyakit), ketika tubuh seseorang rentan dan bertemu dengan organisme berbahaya, maka dapat menyebabkan penyakit bahkan kematian.

Ketika patogen menginfeksi tubuh, pertahanan tubuh kita, yang dikenal dengan sistem kekebalan, akan terpicu dan menyerang patogen.

Respons alami tubuh

Patogen adalah bakteri, virus, parasit atau jamur yang dapat menyebabkan penyakit di dalam tubuh.

Baca juga: Jangan Salah, Ini Perbedaan Vaksinasi dan Imunisasi

Setiap patogen terdiri dari beberapa subbagian, biasanya unik untuk patogen tertentu dan penyakit yang ditimbulkannya. Bagian dari patogen yang menyebabkan pembentukan antibodi disebut antigen.

Antibodi yang diproduksi sebagai respons terhadap antigen patogen adalah bagian penting dari sistem kekebalan tubuh.

Antibodi bisa diandaikan sebagai tentara dalam sistem pertahanan tubuh. Setiap antibodi, atau prajurit, dalam sistem kekebalan dilatih untuk mengenali satu antigen spesifik.

Kita memiliki ribuan antibodi yang berbeda dalam tubuh. Ketika tubuh manusia terkena antigen untuk pertama kalinya, dibutuhkan waktu bagi sistem kekebalan untuk merespons dan menghasilkan antibodi yang spesifik untuk antigen tersebut. Sementara itu, kita akan jatuh sakit.

Setelah antibodi spesifik antigen diproduksi, mereka bekerja dengan sistem kekebalan tubuh lainnya untuk menghancurkan patogen dan menghentikan penyakit.

Begitu tubuh memproduksi antibodi dalam respons utamanya terhadap antigen, ia juga menciptakan sel memori yang memproduksi antibodi, yang tetap hidup bahkan setelah patogen dikalahkan oleh antibodi.

Jika tubuh terpapar patogen yang sama lebih dari satu kali, respons antibodi jauh lebih cepat dan lebih efektif daripada yang pertama kali terjadi, karena sel-sel memori siap untuk memompa antibodi melawan antigen itu.

Ini berarti, jika kita terinfeksi penyakit yang sama di waktu mendatang, maka sistem kekebalan akan dapat segera merespons, melindungi dari penyakit.

Namun, ada cara lain untuk melatih respons antibodi, yaitu dengan vaksin.

Baca juga: Apa Itu Vaksin Booster?

Ilustrasi vaksinasi Covid-19.PICTURE ALLIANCE/ROBBIN UTRECHT via DW INDONESIA Ilustrasi vaksinasi Covid-19.

Apa Itu Vaksin?

Vaksin adalah jenis obat yang melatih sistem kekebalan tubuh, sehingga dapat melawan penyakit yang belum pernah terjadi sebelumnya.

Vaksin dirancang untuk mencegah penyakit. Ini tentu lebih baik, daripada mengobati penyakit setelah Anda tertular.

Vaksin mengandung bagian dari organisme atau virus tertentu (antigen) yang dilemahkan atau tidak aktif untuk memicu respons imun di dalam tubuh.

Baca juga: Bagaimana Vaksin Membunuh Virus?

Vaksin berasal dari antigen yang dilemahkan ini tidak akan menyebabkan penyakit pada orang yang menerima vaksin, tetapi justru akan mendorong sistem kekebalan mereka untuk merespons sebanyak mungkin, terutama terhadap patogen berbahaya yang sebenarnya.

Setelah dirangsang oleh vaksin, sel-sel penghasil antibodi, yang disebut sel B (atau limfosit B), tetap peka dan siap untuk melawan jika patogen masuk ke tubuh.

Namun tak semua vaksin dibuat dari antigen atau virus yang tidak aktif. Sebut saja berbagai vaksin Covid-19 yang dibuat dengan beberapa cara berbeda.

Melansir Britannica, vaksin biasanya diberikan melalui suntikan (pemberian parenteral), tetapi beberapa vaksin lainnya diberikan secara oral atau bahkan melalui hidung.

Sementara vaksin yang diterapkan pada permukaan mukosa, seperti yang melapisi usus atau saluran hidung, tampaknya merangsang respons antibodi yang lebih besar dan mungkin merupakan rute pemberian yang paling efektif.

Pemberian dosis setiap vaksin juga berbeda. Beberapa vaksin diberikan dalam beberapa dosis, dengan jarak berminggu-minggu atau berbulan-bulan. Ini terkadang diperlukan untuk memungkinkan produksi antibodi berumur panjang dan pengembangan sel memori.

Dengan cara ini, tubuh dilatih untuk melawan organisme penyebab penyakit tertentu, membangun memori pathogen, sehingga dapat melawannya dengan cepat jika terpapar di masa depan.

Baca juga: Apa Itu Sistem Kekebalan Tubuh?

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau