Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Selera Manusia dan Hewan Soal “Suara Rayuan” Ternyata Sama

Kompas.com, 26 Maret 2026, 17:13 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Physorg

KOMPAS.com - Bayangkan kicauan burung yang merdu, warna cerah sayap kupu-kupu, atau aroma manis bunga. Semua itu sebenarnya bukan sekadar indah bagi manusia—melainkan bagian dari strategi alam untuk menarik pasangan. Menariknya, penelitian terbaru menemukan bahwa manusia ternyata menyukai sinyal-sinyal ini dengan cara yang mirip seperti hewan itu sendiri.

Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Science mengungkap fakta mengejutkan: manusia dan hewan memiliki preferensi yang sama terhadap jenis sinyal tertentu, khususnya suara panggilan kawin. Penelitian ini melibatkan ilmuwan dari Smithsonian Tropical Research Institute (STRI) bersama peneliti di Amerika Serikat, Kanada, dan Selandia Baru.

Tidak hanya itu, di antara beragam suara hewan di alam, manusia dan hewan juga menunjukkan kesamaan selera terhadap kualitas tertentu dalam suara tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa preferensi terhadap suara hewan bersifat lebih universal daripada yang selama ini diperkirakan.

Baca juga: Ini Rayuan Terbaik Menurut Ilmu Pengetahuan

Berawal dari Katak di Hutan Tropis

Penelitian ini berakar dari temuan pada awal 1980-an oleh ilmuwan STRI, A. Stanley Rand dan Michael J. Ryan. Mereka menemukan bahwa di hutan hujan Amerika Tengah, katak betina túngara memilih pasangan berdasarkan kompleksitas suara panggilan pejantan.

Semakin kompleks suara yang dihasilkan pejantan, semakin besar peluangnya untuk menarik pasangan. Temuan ini kemudian memicu pertanyaan lebih lanjut: apakah manusia juga memiliki preferensi yang sama terhadap suara-suara tersebut?

Logan James, peneliti utama studi ini, mengaku tertarik menggali asal-usul preferensi tersebut.

“Setelah melihat langsung preferensi betina yang ditemukan Stan dan Mike, saya menjadi penasaran dari mana preferensi ini berasal,” ujar James.

“Selain itu, penelitian lanjutan menunjukkan bahwa hewan lain, termasuk ‘penyadap’ seperti lalat pengisap darah dan kelelawar pemakan katak, juga menyukai suara yang kompleks. Hal ini membuat kami bertanya: seberapa umum sebenarnya preferensi akustik ini?”

Baca juga: Kupu-Kupu Gunakan Aroma untuk Temukan Pasangan

Eksperimen Global Lewat Game Online

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti melakukan eksperimen unik berbasis citizen science. Mereka mengembangkan permainan komputer daring yang diikuti lebih dari 4.000 partisipan dari seluruh dunia.

Dalam permainan ini, peserta diminta memilih antara dua suara hewan dari 16 spesies berbeda. Menariknya, setiap pasangan suara sudah diketahui sebelumnya memiliki preferensi tertentu dari sisi hewan itu sendiri. Tujuannya adalah melihat apakah manusia akan memilih suara yang sama.

Samuel Mehr, profesor dari Yale University dan penulis senior studi ini, menjelaskan pendekatan tersebut:

“Dalam citizen science berbasis game, orang berpartisipasi karena menyenangkan dan menarik. Metode ini sangat cocok untuk menjawab pertanyaan evolusi yang melibatkan banyak spesies.”

Baca juga: Temuan Baru: Cendrawasih Gunakan Biofluoresensi untuk Menarik Pasangan

Hasilnya: Selera yang Tumpang Tindih

Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan yang luas antara preferensi manusia dan hewan. Bahkan, semakin kuat preferensi hewan terhadap suatu suara, semakin besar kemungkinan manusia juga memilih suara tersebut sebagai yang paling menarik.

Tak hanya itu, manusia juga cenderung lebih cepat memilih suara yang dianggap “menarik”.

Penelitian ini menemukan bahwa kesamaan preferensi paling kuat terjadi pada suara dengan frekuensi rendah (nada lebih dalam) dan suara dengan ornamen akustik seperti “trill”, “klik”, atau “chuck”.

Baca juga: 5 Hewan dengan Ritual Kawin yang Unik, Ada yang Berkelahi hingga Menipu Pasangan

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau