Penulis
KOMPAS.com - Bayangkan kicauan burung yang merdu, warna cerah sayap kupu-kupu, atau aroma manis bunga. Semua itu sebenarnya bukan sekadar indah bagi manusia—melainkan bagian dari strategi alam untuk menarik pasangan. Menariknya, penelitian terbaru menemukan bahwa manusia ternyata menyukai sinyal-sinyal ini dengan cara yang mirip seperti hewan itu sendiri.
Sebuah studi yang dipublikasikan di jurnal Science mengungkap fakta mengejutkan: manusia dan hewan memiliki preferensi yang sama terhadap jenis sinyal tertentu, khususnya suara panggilan kawin. Penelitian ini melibatkan ilmuwan dari Smithsonian Tropical Research Institute (STRI) bersama peneliti di Amerika Serikat, Kanada, dan Selandia Baru.
Tidak hanya itu, di antara beragam suara hewan di alam, manusia dan hewan juga menunjukkan kesamaan selera terhadap kualitas tertentu dalam suara tersebut. Temuan ini mengindikasikan bahwa preferensi terhadap suara hewan bersifat lebih universal daripada yang selama ini diperkirakan.
Baca juga: Ini Rayuan Terbaik Menurut Ilmu Pengetahuan
Penelitian ini berakar dari temuan pada awal 1980-an oleh ilmuwan STRI, A. Stanley Rand dan Michael J. Ryan. Mereka menemukan bahwa di hutan hujan Amerika Tengah, katak betina túngara memilih pasangan berdasarkan kompleksitas suara panggilan pejantan.
Semakin kompleks suara yang dihasilkan pejantan, semakin besar peluangnya untuk menarik pasangan. Temuan ini kemudian memicu pertanyaan lebih lanjut: apakah manusia juga memiliki preferensi yang sama terhadap suara-suara tersebut?
Logan James, peneliti utama studi ini, mengaku tertarik menggali asal-usul preferensi tersebut.
“Setelah melihat langsung preferensi betina yang ditemukan Stan dan Mike, saya menjadi penasaran dari mana preferensi ini berasal,” ujar James.
“Selain itu, penelitian lanjutan menunjukkan bahwa hewan lain, termasuk ‘penyadap’ seperti lalat pengisap darah dan kelelawar pemakan katak, juga menyukai suara yang kompleks. Hal ini membuat kami bertanya: seberapa umum sebenarnya preferensi akustik ini?”
Baca juga: Kupu-Kupu Gunakan Aroma untuk Temukan Pasangan
Untuk menjawab pertanyaan tersebut, tim peneliti melakukan eksperimen unik berbasis citizen science. Mereka mengembangkan permainan komputer daring yang diikuti lebih dari 4.000 partisipan dari seluruh dunia.
Dalam permainan ini, peserta diminta memilih antara dua suara hewan dari 16 spesies berbeda. Menariknya, setiap pasangan suara sudah diketahui sebelumnya memiliki preferensi tertentu dari sisi hewan itu sendiri. Tujuannya adalah melihat apakah manusia akan memilih suara yang sama.
Samuel Mehr, profesor dari Yale University dan penulis senior studi ini, menjelaskan pendekatan tersebut:
“Dalam citizen science berbasis game, orang berpartisipasi karena menyenangkan dan menarik. Metode ini sangat cocok untuk menjawab pertanyaan evolusi yang melibatkan banyak spesies.”
Baca juga: Temuan Baru: Cendrawasih Gunakan Biofluoresensi untuk Menarik Pasangan
Hasil penelitian menunjukkan adanya kesamaan yang luas antara preferensi manusia dan hewan. Bahkan, semakin kuat preferensi hewan terhadap suatu suara, semakin besar kemungkinan manusia juga memilih suara tersebut sebagai yang paling menarik.
Tak hanya itu, manusia juga cenderung lebih cepat memilih suara yang dianggap “menarik”.
Penelitian ini menemukan bahwa kesamaan preferensi paling kuat terjadi pada suara dengan frekuensi rendah (nada lebih dalam) dan suara dengan ornamen akustik seperti “trill”, “klik”, atau “chuck”.
Baca juga: 5 Hewan dengan Ritual Kawin yang Unik, Ada yang Berkelahi hingga Menipu Pasangan