Penulis
KOMPAS.com - Lebih dari setengah abad setelah manusia terakhir kali menjejakkan kaki di Bulan, NASA kini bersiap membuka babak baru eksplorasi antariksa. Melalui misi Artemis II, empat astronaut direncanakan akan mengelilingi Bulan dalam perjalanan sekitar 10 hari—sebuah langkah awal sebelum manusia benar-benar kembali mendarat di sana.
Namun, di balik ambisi besar ini, muncul pertanyaan yang tak terhindarkan: mengapa NASA ingin kembali ke Bulan sekarang?
Jawabannya bukan sekadar romantisme sejarah. Bulan, ternyata, menyimpan banyak hal yang belum benar-benar kita pahami.
Bagi para ilmuwan, Bulan ibarat kapsul waktu raksasa. Ia menyimpan catatan panjang tentang perjalanan tata surya sejak miliaran tahun lalu. Sara Russell, ilmuwan planet dari Natural History Museum London, menggambarkan hubungan Bulan dan Bumi sebagai dua “saudara kembar” yang telah bersama sejak awal terbentuknya tata surya sekitar 4,5 miliar tahun lalu.
Keduanya sama-sama mengalami hantaman asteroid dan komet selama miliaran tahun. Bedanya, di Bumi, jejak peristiwa itu hampir hilang tertutup oleh erosi, cuaca, dan aktivitas kehidupan. Sementara di Bulan, kondisi yang nyaris “mati”—tanpa atmosfer tebal, tanpa hujan, tanpa kehidupan—justru membuat semua jejak itu tetap terawetkan.
“Bulan memiliki catatan selama 4,5 miliar tahun tentang apa yang terjadi di permukaannya,” kata Russell.
“Kita bisa melihat dampak tabrakan di sana, yang juga terjadi di Bumi, tetapi sulit ditemukan jejaknya di Bumi.”
Dengan kata lain, mempelajari Bulan sama seperti membaca sejarah awal Bumi yang telah lama terhapus.
Tidak hanya itu, Bulan juga menjadi semacam laboratorium alami untuk memahami proses geologi paling dasar.
“Ini seperti laboratorium besar untuk memahami geologi tanpa air dan udara,” tambah Russell.
Baca juga: Artemis II Siap Meluncur, Manusia akan Kembali ke Bulan Setelah 50 Tahun
Di sisi lain, misi Artemis II bukanlah perjalanan tunggal. Ia merupakan bagian dari program besar NASA yang dirancang bertahap. Setelah Artemis I berhasil mengelilingi Bulan tanpa awak pada 2022, Artemis II akan menjadi misi berawak pertama. Dari sini, NASA akan melangkah lebih jauh menuju misi-misi berikutnya yang menargetkan pendaratan manusia dan bahkan pembangunan basis permanen di Bulan pada akhir dekade ini.
Menariknya, tujuan eksplorasi kali ini jauh lebih luas dibanding era Apollo. Jika dulu astronaut hanya menjelajahi sisi dekat Bulan di wilayah ekuator, kini NASA ingin menjangkau area yang belum pernah tersentuh, terutama kutub selatan Bulan.
Russell menggambarkan keterbatasan eksplorasi sebelumnya dengan analogi sederhana:
“Seperti melakukan beberapa ekspedisi ke Gurun Sahara, lalu mengatakan kita sudah memahami seluruh Bumi.”
Padahal, justru di kutub selatan inilah para ilmuwan menduga terdapat cadangan es air. Keberadaan air ini menjadi kunci penting, bukan hanya untuk kehidupan di masa depan, tetapi juga untuk memahami asal-usul air di Bumi.