Penulis
KOMPAS.com - NASA akhirnya memberi lampu hijau untuk salah satu misi paling ambisius dalam beberapa dekade terakhir: Artemis II. Setelah melalui serangkaian evaluasi kesiapan penerbangan (flight readiness review), misi ini dijadwalkan meluncur paling cepat pada Rabu, 1 April.
Direktur peluncuran NASA, Charlie Blackwell-Thompson, menegaskan besarnya momen ini. “Sesuatu yang sangat besar akan terjadi,” ujarnya dalam konferensi pers pada 30 Maret.
Pernyataan tersebut bukan tanpa alasan. Artemis II akan menjadi misi berawak pertama NASA ke sekitar Bulan sejak Apollo 17 pada 1972—lebih dari 50 tahun lalu.
Baca juga: Misi Artemis II: Astronaut Akan Lihat Sisi Bulan yang Belum Pernah Disaksikan Manusia
Artemis II dirancang sebagai misi berdurasi sekitar 10 hari, membawa empat astronaut mengelilingi Bulan dan kembali ke Bumi. Ini bukan sekadar perjalanan simbolis, tetapi uji coba penting bagi teknologi masa depan NASA.
Lori Glaze, pejabat sementara NASA untuk pengembangan sistem eksplorasi, menyampaikan optimisme tinggi: “Kami sudah sangat, sangat dekat, dan kami siap.”
Misi ini akan menjadi ajang pertama untuk menguji sistem pendukung kehidupan di kapsul Orion dengan manusia di dalamnya, sekaligus menandai penerbangan berawak pertama di luar orbit rendah Bumi dalam lebih dari setengah abad.
Jika berhasil, Artemis II akan membuka jalan bagi misi berikutnya—termasuk pendaratan manusia di Bulan dan pembangunan pangkalan lunar.
Baca juga: NASA Umumkan Astronot Misi Artemis II yang Akan Mengelilingi Bulan
Dari sisi kondisi alam, NASA mendapatkan kabar baik. Prakiraan cuaca terbaru menunjukkan peluang 80% kondisi peluncuran yang ideal pada hari peluncuran.
Meski begitu, ada beberapa faktor yang tetap diawasi, seperti tutupan awan dan potensi angin kencang di permukaan. Aktivitas hitung mundur sendiri sudah dimulai sejak Senin sore waktu setempat di Kennedy Space Center, Florida.
NASA menargetkan waktu peluncuran paling cepat pada pukul 18:24 EDT hari Rabu tanggal 1 April atau Kamis 05:24 WIB , dengan jendela peluncuran berlangsung hingga 6 April. Jika tertunda, kesempatan cadangan tersedia hingga 30 April.
Baca juga: NASA Siap Ukir Sejarah Lagi: 2026 Jadi Tahun Kembalinya Astronot ke Bulan
Perjalanan Artemis II menuju landasan peluncuran tidaklah mulus. NASA harus mengatasi sejumlah kendala teknis, termasuk kebocoran hidrogen cair dan masalah aliran helium pada tahap atas roket.
Kendala ini sempat membuat tim harus melakukan pekerjaan tambahan di Vehicle Assembly Building sebelum roket kembali ke Launch Pad 39B.
Namun, NASA memastikan semua masalah tersebut telah diselesaikan melalui integrasi akhir, simulasi hitung mundur, dan berbagai persiapan teknis lainnya.
Baca juga: Kenapa Para Ahli Terus Melancarkan Misi ke Bulan?
Artemis II akan membawa empat astronaut yaitu Reid Wiseman (NASA), Victor Glover (NASA), Christina Koch (NASA), dan Jeremy Hansen (Canadian Space Agency).
Mereka akan menempuh jalur free-return trajectory, yakni lintasan yang memungkinkan pesawat kembali ke Bumi tanpa perlu manuver besar tambahan.
Meski tidak akan mendarat di Bulan, misi ini tetap memiliki nilai ilmiah tinggi. Artemis II diharapkan mampu mengambil gambar sisi gelap Bulan dengan detail baru, menguji sistem navigasi dan komunikasi jarak jauh, serta menjadi fondasi untuk Artemis III dan Artemis IV.
Artemis II bukan sekadar misi eksplorasi, tetapi bagian dari visi jangka panjang NASA: membangun kehadiran manusia yang berkelanjutan di Bulan.
Dari sana, NASA menargetkan langkah berikutnya yang lebih besar—misi ke Mars.
Dengan semua persiapan yang hampir rampung, dunia kini menanti momen bersejarah ketika manusia kembali menatap Bulan, bukan hanya sebagai objek di langit, tetapi sebagai tujuan berikutnya dalam perjalanan antariksa.
Baca juga: Misi ke Bulan Semakin Ramai, Mana Saja Negara yang Menuju Bulan?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang