Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Temuan Mengejutkan dari Gua Kamboja: Ular Terbang hingga Pit Viper Biru

Kompas.com, 26 Maret 2026, 10:07 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber CNN, Guardian

KOMPAS.com - Gua-gua batu kapur di Kamboja selama ini dikenal sebagai wilayah yang masih minim eksplorasi. Membentang hingga ribuan kilometer, kawasan ini menyimpan ekosistem unik yang menjadi rumah bagi berbagai spesies yang tidak ditemukan di tempat lain di dunia.

Kini, sebuah survei terbaru di Provinsi Battambang, Kamboja barat laut, berhasil mengungkap sederet spesies baru yang sebelumnya tidak dikenal sains. Di antaranya adalah ular pit viper berwarna biru turkuois mencolok, ular terbang, beberapa jenis tokek, hingga mikro-siput dan kaki seribu.

Penelitian ini dilakukan antara November 2023 hingga Juli 2025, mencakup eksplorasi 64 gua di 10 perbukitan karst—lanskap yang terbentuk dari pelapukan batu kapur yang menghasilkan gua, aliran air bawah tanah, dan lubang runtuhan.

Spesies tokek baru dari genus Gehyra yang sedang dideskripsikan ditemukan di beberapa daerah karst di distrik Banan, provinsi Battambang.Hun Seiha/Fauna & Flora Spesies tokek baru dari genus Gehyra yang sedang dideskripsikan ditemukan di beberapa daerah karst di distrik Banan, provinsi Battambang.

Yang menarik, setiap bukit dan gua di kawasan karst ini terisolasi satu sama lain. Kondisi ini membuat setiap lokasi menjadi semacam “laboratorium evolusi” yang berdiri sendiri.

Ahli biologi evolusi Lee Grismer menjelaskan fenomena ini dengan cara yang sederhana namun kuat:

“Bayangkan ini sebagai potret kecil keanekaragaman hayati, di mana alam melakukan eksperimen yang sama berulang kali secara independen.”

Ia menambahkan bahwa dengan menganalisis DNA spesies di tiap lokasi, ilmuwan bisa memahami bagaimana evolusi bekerja di lingkungan yang berbeda:

“Kami datang ke tempat-tempat terpisah ini dan menganalisis DNA spesiesnya. Dari situ, kita bisa melihat bagaimana eksperimen evolusi berjalan—ada yang mirip, ada yang berbeda—dan memahami faktor pendorongnya.”

Baca juga: Ular Langka Ditemukan Kembali di China Setelah Lebih dari 100 Tahun Menghilang

Ular terbang (Chrysopelea ornata) ? juga dikenal sebagai ular pohon emas ? meluncur dari pohon ke pohon dengan meratakan tulang rusuknya dan berputar di udara seperti pita yang berkilauan. Warnanya yang cerah membuatnya populer di kalangan kolektor.Phyroum Chourn/Fauna & Flora Ular terbang (Chrysopelea ornata) ? juga dikenal sebagai ular pohon emas ? meluncur dari pohon ke pohon dengan meratakan tulang rusuknya dan berputar di udara seperti pita yang berkilauan. Warnanya yang cerah membuatnya populer di kalangan kolektor.

Spesies baru: dari tokek hingga ular terbang

Dalam survei ini, para peneliti menemukan berbagai spesies baru, meski beberapa masih dalam tahap penamaan resmi, termasuk pit viper dan tiga spesies tokek.

Salah satu contoh menarik adalah tokek Cyrtodactylus kampingpoiensis. Meski awalnya diidentifikasi sebagai satu spesies, peneliti menemukan empat populasi berbeda yang berkembang dengan cara unik di lokasi berbeda.

Temuan ini memperkuat pentingnya eksplorasi biodiversitas.

“Jika kita benar-benar ingin melestarikan keanekaragaman hayati di planet ini, kita harus memahami apa yang ada di dalamnya,” kata Grismer.

“Kita tidak bisa melindungi sesuatu jika kita bahkan tidak tahu bahwa itu ada.”

Selain spesies baru, tim juga menemukan hewan yang sudah terancam secara global, seperti trenggiling Sunda, merak hijau, serta beberapa jenis kera.

Baca juga: Spesies Baru Tokek Hidung Tabung Berduri Ditemukan di Kuil India Selatan

Empat populasi tokek jari bengkok bergaris Kamping Poi ditemukan dan diidentifikasi sebagai spesies baru: Cyrtodactylus kampingpoiensis. Meskipun dideskripsikan sebagai satu spesies, diperkirakan bahwa, karena isolasi formasi karst, keempat populasi ini terpisah secara evolusi, dan analisis genetik lebih lanjut dapat menetapkan apakah mereka adalah empat spesies yang berbeda atau hanya satu spesies.Phyroum Chourn/Fauna & Flora Empat populasi tokek jari bengkok bergaris Kamping Poi ditemukan dan diidentifikasi sebagai spesies baru: Cyrtodactylus kampingpoiensis. Meskipun dideskripsikan sebagai satu spesies, diperkirakan bahwa, karena isolasi formasi karst, keempat populasi ini terpisah secara evolusi, dan analisis genetik lebih lanjut dapat menetapkan apakah mereka adalah empat spesies yang berbeda atau hanya satu spesies.

Penjelajahan malam hari yang menantang

Survei ini dipimpin oleh ahli biologi konservasi Pablo Sinovas dari organisasi Fauna & Flora, bekerja sama dengan peneliti lokal.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau