Penulis
KOMPAS.com - Selama beberapa dekade, topik UFO sering dianggap sebagai wilayah spekulasi atau bahkan teori konspirasi. Namun dalam beberapa tahun terakhir, sikap pemerintah AS terhadap fenomena ini berubah drastis. Yang kini menjadi pertanyaan bukan lagi apakah UFO—atau yang kini disebut Unidentified Anomalous Phenomena (UAP)—layak diteliti, melainkan mengapa dunia akademik justru masih enggan menyentuhnya.
Pada Februari 2026, Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan Pentagon dan sejumlah lembaga federal untuk mulai membuka arsip pemerintah terkait UFO dan UAP. Langkah ini merupakan respons atas tekanan yang terus meningkat dari Kongres, para whistleblower militer, serta masyarakat.
Sebenarnya, investigasi UAP bukan hal baru bagi pemerintah. Sejak Desember 2022, Kongres secara resmi memandatkan penelitian fenomena ini melalui National Defense Authorization Act.
Saat ini, badan investigasi resmi Pentagon bernama All-domain Anomaly Resolution Office (AARO) menangani lebih dari 2.000 laporan UAP sejak 1945. Angka tersebut dikonfirmasi langsung oleh Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth.
Laporan-laporan ini berasal dari pilot militer, personel angkatan bersenjata, serta pegawai pemerintah yang melihat objek terbang yang tidak dapat dijelaskan sebagai pesawat, drone, maupun fenomena cuaca.
Bahkan, Amerika bukan satu-satunya negara yang serius meneliti fenomena ini. Jepang, Prancis, Brasil, dan Kanada juga memiliki program investigasi UAP resmi.
Namun di tengah meningkatnya perhatian pemerintah, universitas justru hampir tidak terlibat.
Baca juga: Misteri Cahaya Aneh di Langit 70 Tahun Lalu, Uji Nuklir atau UFO?
Hingga saat ini, hampir tidak ada universitas besar yang memiliki pusat penelitian khusus UAP. Tidak ada pula lembaga sains federal yang menyediakan hibah penelitian kompetitif untuk topik tersebut.
Selain itu, tidak ada program doktoral yang melatih peneliti mengenai metodologi penelitian UAP.
Dengan kata lain, terdapat kesenjangan besar antara pengakuan pemerintah terhadap fenomena ini dengan kesiapan universitas untuk mempelajarinya secara ilmiah.
Darrell Evans, profesor ilmu lingkungan dan keberlanjutan di Purdue University, adalah salah satu akademisi yang mencoba menjembatani kesenjangan tersebut.
Ia mengembangkan temporal aerospace correlation tool, sebuah kerangka metodologis yang menghubungkan laporan penampakan UAP oleh warga sipil dengan aktivitas peluncuran roket dari Cape Canaveral.
Penelitiannya saat ini sedang melalui proses peer review di jurnal ilmiah Limina: The Journal of UAP Studies.
Namun Evans mengakui, membangun metodologi penelitian UAP bukanlah hal mudah.
Ia harus mengambil berbagai keputusan metodologis tanpa standar komunitas ilmiah, tanpa pendanaan institusi, dan tanpa infrastruktur profesional yang biasanya tersedia di bidang penelitian lain.
Menurut Evans, masalah utama bukan kurangnya data atau minat.
“Yang hilang bukanlah rasa ingin tahu atau data. Yang hilang adalah kerangka bersama yang dapat mengubah rasa ingin tahu terpisah menjadi ilmu pengetahuan yang berkembang.”
Baca juga: Video UFO yang Bocor Timbulkan Perdebatan: Apa yang Terbang di Langit Kita?
Salah satu alasan terbesar mengapa penelitian UAP masih jarang dilakukan adalah stigma akademik.
Bukti kuat mengenai hal ini muncul dari penelitian Marissa Yingling, Charlton Yingling, dan Bethany Bell yang dipublikasikan di jurnal ilmiah Humanities and Social Sciences Communications.
Mereka melakukan survei nasional pada 2023 terhadap 1.460 dosen dari 144 universitas riset besar di Amerika Serikat, mencakup 14 disiplin ilmu.
Hasilnya cukup mengejutkan.
Mayoritas responden menganggap penelitian UAP penting. Bahkan di setiap disiplin ilmu yang diteliti, rasa ingin tahu lebih besar daripada skeptisisme.