Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 31 Maret 2026, 15:26 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Pernahkah kamu melihat kucing dengan warna mata yang berbeda antara kiri dan kanan? Satu mata biru, sementara yang lain hijau atau kuning. Penampilan ini sering kali membuat kucing terlihat begitu memikat, apalagi jika dipadukan dengan bulu putih yang bersih.

Dalam dunia kucing, kondisi ini dikenal sebagai odd eyes atau heterochromia—sebuah anomali warna mata yang cukup langka, tetapi bukan hal yang mustahil ditemukan. Menariknya, fenomena ini paling sering muncul pada kucing berwarna putih, meskipun sesekali juga dijumpai pada kucing dengan pola warna lain.

Baca juga: Mengapa Mata Kucing Bersinar di Kegelapan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Mengapa Warna Mata Kucing Bisa Beragam?

Mata kucing bukan hanya indah, tetapi juga dirancang secara biologis untuk mendukung kemampuan berburu di malam hari. Sebagai hewan nokturnal, kucing memiliki ukuran mata yang relatif besar dibandingkan kepalanya, memungkinkan mereka menangkap cahaya dengan lebih efisien.

Tak heran jika warna mata kucing menjadi daya tarik tersendiri bagi para pencinta kucing. Mulai dari biru, hijau, kuning, hingga cokelat—semua hadir dalam gradasi yang memikat.

Menurut Prof Ronny Rachman Noor, Guru Besar Genetika dan Pemuliaan Ternak dari IPB, faktor utama di balik warna mata ini adalah gen.

“Warna mata ini memang dikontrol oleh gen sehingga menurun. Oleh sebab itu, melalui pengaturan perkawinannya kita dapat menghasilkan kucing dengan warna mata yang diinginkan,” ujarnya seperti dikutip IPB University.

Artinya, warna mata bukan kebetulan semata. Para breeder bahkan dapat “merancang” warna mata tertentu melalui proses seleksi genetik. Contohnya, kucing Siam dikenal memiliki mata biru sebagai standar rasnya.

Baca juga: Apakah Mata Kucing Bisa Melihat di Tempat Gelap?

Peran Melanosit dalam Warna Mata

Bagian mata yang berwarna disebut iris, dan warna ini ditentukan oleh pigmen yang dihasilkan oleh sel khusus bernama melanosit.

Jika tidak ada melanosit, maka mata akan berwarna biru. Jika jumlah melanosit rendah, mata akan berwarna kehijauan, namun jika jumlahnya tinggi warna mata menjadi kuning, orange, hingga cokelat.

Selain jumlah, intensitas aktivitas melanosit juga memengaruhi terang atau gelapnya warna mata. Semakin aktif, warna akan semakin pekat.

Yang menarik, proses ini tidak dikendalikan oleh satu gen saja, melainkan oleh banyak gen (polygenes). Inilah yang membuat variasi warna mata kucing begitu kaya—dan bisa “diatur” melalui pembiakan selektif.

Baca juga: Mata Kucing Tampak Aneh dan Seram? Begini Penjelasan Sains

Bagaimana Odd Eyes Bisa Terjadi?

Fenomena odd eyes umumnya terjadi karena gangguan dalam proses perkembangan embrio. Dalam kondisi normal, sel punca (stem cells) bermigrasi ke berbagai bagian tubuh untuk membentuk jaringan, termasuk melanosit di mata.

Namun, dalam beberapa kasus Mmelanosit gagal mencapai salah satu mata dan akibatnya, satu mata memiliki pigmen (hijau/cokelat), sementara mata lainnya tidak memiliki pigmen (biru).

Dengan kata lain, mata biru pada odd eyes muncul karena tidak adanya melanosit, sedangkan warna lainnya tergantung pada jumlah melanosit yang berhasil berkembang.

Kondisi ini paling sering terjadi pada kucing putih polos atau kucing dengan pola putih (white spotted).

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau