Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mengapa Mata Kucing Bersinar di Kegelapan? Ini Penjelasan Ilmiahnya

Kompas.com, 17 Februari 2026, 19:57 WIB
Wisnubrata

Penulis

KOMPAS.com - Pada suatu malam berkabut tahun 1933, seorang pebisnis bernama Percy Shaw mengemudi pulang dari sebuah pub di Yorkshire, Inggris. Jalanan berkelok dan nyaris tak terlihat. Tiba-tiba, dua titik terang memantul dari pinggir jalan. Percy spontan menginjak rem.

Dua titik bercahaya itu ternyata sepasang mata kucing—dan kemungkinan besar menyelamatkan nyawanya. Jika ia terus melaju, mobilnya bisa saja terperosok keluar jalur.

Dari momen itulah lahir ide brilian: bagaimana jika jalan raya bisa “memantulkan cahaya” seperti mata kucing? Setahun kemudian, Shaw menciptakan reflektor Catseye, paku marka jalan yang hingga kini membantu pengemudi melihat arah di malam hari dengan memantulkan kembali sorot lampu kendaraan.

Namun pertanyaan ilmiahnya tetap menarik: mengapa mata kucing bisa bersinar dalam gelap?

Baca juga: Apakah Mata Kucing Bisa Melihat di Tempat Gelap?

Mitos Kuno dan Fakta Ilmiah

Bangsa Mesir Kuno percaya bahwa mata kucing menyimpan matahari setelah terbenam, sehingga tampak berkilau di malam hari. Penjelasan ilmiahnya baru ditemukan pada 1929, dan butuh beberapa dekade lagi hingga para ilmuwan benar-benar memahami bagaimana struktur tersebut memengaruhi penglihatan.

Jawabannya terletak pada anatomi mata kucing.

Semua mata, termasuk mata manusia, memiliki retina—lapisan tipis di bagian belakang bola mata yang menangkap cahaya dan mengubahnya menjadi sinyal untuk otak. Bayangkan retina sebagai layar transparan yang menangkap cahaya.

Pada manusia, cahaya yang tidak tertangkap retina akan hilang begitu saja.

Namun pada kucing, ada lapisan tambahan di belakang retina yang disebut tapetum lucidum. Lapisan ini bersifat seperti cermin.

Ketika cahaya masuk ke mata kucing dan tidak sepenuhnya diserap oleh retina, cahaya tersebut dipantulkan kembali oleh tapetum lucidum, melewati retina untuk kedua kalinya. Dengan kata lain, retina mendapat “kesempatan kedua” untuk menangkap cahaya.

Cahaya yang kita lihat sebagai kilau hijau atau kuning di mata kucing pada malam hari sebenarnya adalah pantulan dari tapetum lucidum tersebut.

Baca juga: Kenapa Mata Kucing Menyala Saat Gelap?

Mata kucing menyala di dalam kegelapan. Photo by Marek Kupiec from Pexels Mata kucing menyala di dalam kegelapan.

Kacamata Penglihatan Malam Bawaan Alami

Berkat tapetum lucidum, sensitivitas cahaya pada mata kucing jauh lebih tinggi dibandingkan manusia. Mereka mampu melihat dalam kondisi yang bagi kita tampak gelap gulita.

Kemampuan ini sangat penting karena kucing adalah pemburu yang aktif di senja dan malam hari.

Kucing bukan satu-satunya hewan yang memiliki tapetum lucidum. Sapi, kambing, domba, dan kuda juga memilikinya—kemungkinan untuk membantu mendeteksi predator dalam cahaya redup. Ikan, lumba-lumba, dan paus mengandalkannya untuk melihat di perairan yang gelap dan keruh.

Sebaliknya, tupai, babi, dan sebagian besar primata—termasuk manusia—tidak memilikinya karena aktif di siang hari dan tidak membutuhkan penglihatan malam.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau