Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Hubble Tangkap Detik-Detik Komet ATLAS Terbelah di Dekat Matahari

Kompas.com, 19 Maret 2026, 09:20 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Sci News

KOMPAS.com - Teleskop Luar Angkasa Hubble kembali menghadirkan temuan menakjubkan. Kali ini, ia berhasil menangkap peristiwa langka: pecahnya komet C/2025 K1 (ATLAS) hanya beberapa hari setelah kejadian tersebut berlangsung. Observasi ini membuka wawasan baru tentang betapa rapuhnya inti komet dan bagaimana benda langit ini berevolusi hingga akhirnya hancur.

Menariknya, pengamatan ini justru terjadi secara tidak sengaja. Tim peneliti awalnya tidak merencanakan untuk mengamati komet tersebut.

“Kadang-kadang sains terbaik terjadi secara tidak sengaja,” ujar Profesor John Noonan dari Auburn University, salah satu penulis studi.

Ia menjelaskan bahwa target awal mereka tidak bisa diamati karena kendala teknis. Mereka pun mencari objek pengganti—dan secara kebetulan memilih komet yang sedang berada di ambang kehancuran.

“Kami harus mencari target baru—dan tepat saat kami mengamatinya, komet itu kebetulan terpecah. Ini benar-benar peluang yang sangat kecil,” tambahnya.

Baca juga: Komet Antarbintang 3I/ATLAS Mengandung Metanol Sangat Tinggi

Momen Kritis di Dekat Matahari

Komet C/2025 K1 (ATLAS) mencapai perihelion—titik terdekatnya dengan Matahari—pada 8 Oktober 2025, dengan jarak hanya sekitar 0,33 AU (sekitar sepertiga jarak Bumi ke Matahari).

Posisi ini bahkan berada di dalam orbit Merkurius. Pada fase ini, komet mengalami pemanasan ekstrem dan tekanan maksimum, yang sering kali menjadi pemicu kehancuran struktur intinya.

Pada 8–10 November 2025, Hubble berhasil mengidentifikasi lima fragmen komet dengan resolusi tinggi. Ini menjadi salah satu pengamatan paling awal terhadap proses disrupsi komet yang pernah dilakukan.

“Belum pernah sebelumnya Hubble menangkap komet yang sedang terfragmentasi sedekat ini dengan waktu pecahnya,” jelas Noonan.

“Biasanya kita baru melihatnya beberapa minggu hingga sebulan kemudian. Dalam kasus ini, kami bisa melihatnya hanya beberapa hari setelahnya.”

Temuan ini sangat penting bagi para ilmuwan karena memberikan gambaran langsung tentang proses fisika yang terjadi di permukaan komet.

“Ini memberi tahu kita sesuatu yang sangat penting tentang fisika yang terjadi di permukaan komet,” katanya.

“Kita mungkin sedang melihat skala waktu yang dibutuhkan untuk membentuk lapisan debu tebal yang kemudian bisa terlempar oleh gas.”

Baca juga: Komet Ini Bisa Lebih Terang dari Bulan, Asal Tak Hancur oleh Matahari

Menuju Keluar Tata Surya, Tak Akan Kembali

Saat ini, komet tersebut telah berubah menjadi kumpulan fragmen yang berada sekitar 400 juta kilometer dari Bumi, di rasi Pisces.

Komet ini sedang bergerak menjauh dan kemungkinan besar tidak akan pernah kembali ke Tata Surya bagian dalam.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau