Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Komet Antarbintang 3I/ATLAS Mengandung Metanol Sangat Tinggi

Kompas.com, 13 Maret 2026, 21:36 WIB
Wisnubrata

Penulis

Sumber Sci News

KOMPAS.com - Para astronom menemukan fakta mengejutkan tentang komet antarbintang 3I/ATLAS. Objek yang datang dari luar Tata Surya ini ternyata mengandung metanol dalam jumlah luar biasa besar, jauh lebih tinggi dibandingkan komet yang terbentuk di lingkungan Matahari kita.

Temuan ini diperoleh melalui pengamatan menggunakan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA), jaringan teleskop radio raksasa yang berada di Gurun Atacama, Chile. Melalui instrumen tersebut, para peneliti mampu mengidentifikasi “sidik jari kimia” dari gas yang dilepaskan komet saat mendekati Matahari.

Menurut Nathan Roth, profesor dari American University, pengamatan terhadap komet ini memberikan kesempatan langka untuk mempelajari bahan pembentuk sistem planet lain.

“Mengamati 3I/ATLAS seperti mengambil sidik jari dari sistem tata surya lain. Detailnya menunjukkan apa saja penyusunnya, dan komet ini kaya metanol dengan cara yang hampir tidak pernah kita lihat pada komet di Tata Surya kita.”

Baca juga: Komet 3I/ATLAS Tiba-tiba Tambah Kecepatan, Benarkah UFO yang Menyamar?

Mengungkap Komposisi Kimia Komet Antarbintang

Tim peneliti menggunakan Atacama Compact Array, bagian dari ALMA, untuk mempelajari komet ketika objek tersebut mendekati Matahari.

Saat terkena panas Matahari, permukaan es komet mulai menguap dan melepaskan gas serta debu. Proses ini membentuk awan gas yang disebut koma, yaitu lapisan kabut yang menyelimuti inti komet.

Dengan menganalisis koma tersebut, astronom dapat mengetahui komposisi kimia material penyusun komet. Dalam penelitian ini, mereka fokus pada dua molekul utama:

  • Metanol (CH3OH) – molekul organik yang terkait dengan proses kimia pra-biotik, yang dianggap penting dalam pembentukan bahan dasar kehidupan.
  • Hidrogen sianida (HCN) – molekul organik yang mengandung nitrogen dan umum ditemukan pada komet di Tata Surya.

ALMA mampu mendeteksi sinyal submilimeter yang sangat lemah dari kedua molekul tersebut. Sinyal inilah yang digunakan untuk mengidentifikasi komposisi kimia komet secara detail.

Baca juga: Misteri Komet 3I/ATLAS, Mirip Fosil Karbon Primitif dari Pembentukan Galaksi Lain

Rasio Metanol yang Sangat Tinggi

Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar metanol pada komet 3I/ATLAS sangat tinggi dibandingkan hidrogen sianida.

Dalam dua sesi pengamatan berbeda, para ilmuwan menemukan bahwa rasio metanol terhadap hidrogen sianida mencapai sekitar 70 dan 120.

Angka ini menempatkan 3I/ATLAS sebagai salah satu komet paling kaya metanol yang pernah dipelajari, bahkan dibandingkan dengan komet di Tata Surya kita sendiri.

Para peneliti menyatakan: “Rasio metanol terhadap hidrogen sianida pada 3I/ATLAS termasuk yang paling tinggi yang pernah diukur pada komet mana pun.”

Menurut mereka, temuan ini menunjukkan bahwa material es yang membentuk komet tersebut kemungkinan terbentuk dalam kondisi yang sangat berbeda dari lingkungan pembentukan komet di Tata Surya.

Baca juga: Seberapa Bahaya Objek Antarbintang seperti 3I/ATLAS untuk Bumi?

Metanol Tidak Hanya Berasal dari Inti Komet

Pengamatan beresolusi tinggi dari ALMA juga memberikan gambaran menarik tentang bagaimana gas dilepaskan dari komet.

Para ilmuwan menemukan bahwa dua molekul utama ini memiliki sumber yang berbeda.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau