Penulis
KOMPAS.com - Para astronom menemukan fakta mengejutkan tentang komet antarbintang 3I/ATLAS. Objek yang datang dari luar Tata Surya ini ternyata mengandung metanol dalam jumlah luar biasa besar, jauh lebih tinggi dibandingkan komet yang terbentuk di lingkungan Matahari kita.
Temuan ini diperoleh melalui pengamatan menggunakan Atacama Large Millimeter/submillimeter Array (ALMA), jaringan teleskop radio raksasa yang berada di Gurun Atacama, Chile. Melalui instrumen tersebut, para peneliti mampu mengidentifikasi “sidik jari kimia” dari gas yang dilepaskan komet saat mendekati Matahari.
Menurut Nathan Roth, profesor dari American University, pengamatan terhadap komet ini memberikan kesempatan langka untuk mempelajari bahan pembentuk sistem planet lain.
“Mengamati 3I/ATLAS seperti mengambil sidik jari dari sistem tata surya lain. Detailnya menunjukkan apa saja penyusunnya, dan komet ini kaya metanol dengan cara yang hampir tidak pernah kita lihat pada komet di Tata Surya kita.”
Baca juga: Komet 3I/ATLAS Tiba-tiba Tambah Kecepatan, Benarkah UFO yang Menyamar?
Tim peneliti menggunakan Atacama Compact Array, bagian dari ALMA, untuk mempelajari komet ketika objek tersebut mendekati Matahari.
Saat terkena panas Matahari, permukaan es komet mulai menguap dan melepaskan gas serta debu. Proses ini membentuk awan gas yang disebut koma, yaitu lapisan kabut yang menyelimuti inti komet.
Dengan menganalisis koma tersebut, astronom dapat mengetahui komposisi kimia material penyusun komet. Dalam penelitian ini, mereka fokus pada dua molekul utama:
ALMA mampu mendeteksi sinyal submilimeter yang sangat lemah dari kedua molekul tersebut. Sinyal inilah yang digunakan untuk mengidentifikasi komposisi kimia komet secara detail.
Baca juga: Misteri Komet 3I/ATLAS, Mirip Fosil Karbon Primitif dari Pembentukan Galaksi Lain
Hasil pengamatan menunjukkan bahwa kadar metanol pada komet 3I/ATLAS sangat tinggi dibandingkan hidrogen sianida.
Dalam dua sesi pengamatan berbeda, para ilmuwan menemukan bahwa rasio metanol terhadap hidrogen sianida mencapai sekitar 70 dan 120.
Angka ini menempatkan 3I/ATLAS sebagai salah satu komet paling kaya metanol yang pernah dipelajari, bahkan dibandingkan dengan komet di Tata Surya kita sendiri.
Para peneliti menyatakan: “Rasio metanol terhadap hidrogen sianida pada 3I/ATLAS termasuk yang paling tinggi yang pernah diukur pada komet mana pun.”
Menurut mereka, temuan ini menunjukkan bahwa material es yang membentuk komet tersebut kemungkinan terbentuk dalam kondisi yang sangat berbeda dari lingkungan pembentukan komet di Tata Surya.
Baca juga: Seberapa Bahaya Objek Antarbintang seperti 3I/ATLAS untuk Bumi?
Pengamatan beresolusi tinggi dari ALMA juga memberikan gambaran menarik tentang bagaimana gas dilepaskan dari komet.
Para ilmuwan menemukan bahwa dua molekul utama ini memiliki sumber yang berbeda.