Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Salin Artikel

Alasan NASA Kembali ke Bulan Lewat Misi Artemis II, Bukan Sekadar Nostalgia

Namun, di balik ambisi besar ini, muncul pertanyaan yang tak terhindarkan: mengapa NASA ingin kembali ke Bulan sekarang?

Jawabannya bukan sekadar romantisme sejarah. Bulan, ternyata, menyimpan banyak hal yang belum benar-benar kita pahami.

Bagi para ilmuwan, Bulan ibarat kapsul waktu raksasa. Ia menyimpan catatan panjang tentang perjalanan tata surya sejak miliaran tahun lalu. Sara Russell, ilmuwan planet dari Natural History Museum London, menggambarkan hubungan Bulan dan Bumi sebagai dua “saudara kembar” yang telah bersama sejak awal terbentuknya tata surya sekitar 4,5 miliar tahun lalu.

Keduanya sama-sama mengalami hantaman asteroid dan komet selama miliaran tahun. Bedanya, di Bumi, jejak peristiwa itu hampir hilang tertutup oleh erosi, cuaca, dan aktivitas kehidupan. Sementara di Bulan, kondisi yang nyaris “mati”—tanpa atmosfer tebal, tanpa hujan, tanpa kehidupan—justru membuat semua jejak itu tetap terawetkan.

“Bulan memiliki catatan selama 4,5 miliar tahun tentang apa yang terjadi di permukaannya,” kata Russell.

“Kita bisa melihat dampak tabrakan di sana, yang juga terjadi di Bumi, tetapi sulit ditemukan jejaknya di Bumi.”

Dengan kata lain, mempelajari Bulan sama seperti membaca sejarah awal Bumi yang telah lama terhapus.

Tidak hanya itu, Bulan juga menjadi semacam laboratorium alami untuk memahami proses geologi paling dasar.

“Ini seperti laboratorium besar untuk memahami geologi tanpa air dan udara,” tambah Russell.

Di sisi lain, misi Artemis II bukanlah perjalanan tunggal. Ia merupakan bagian dari program besar NASA yang dirancang bertahap. Setelah Artemis I berhasil mengelilingi Bulan tanpa awak pada 2022, Artemis II akan menjadi misi berawak pertama. Dari sini, NASA akan melangkah lebih jauh menuju misi-misi berikutnya yang menargetkan pendaratan manusia dan bahkan pembangunan basis permanen di Bulan pada akhir dekade ini.

Menariknya, tujuan eksplorasi kali ini jauh lebih luas dibanding era Apollo. Jika dulu astronaut hanya menjelajahi sisi dekat Bulan di wilayah ekuator, kini NASA ingin menjangkau area yang belum pernah tersentuh, terutama kutub selatan Bulan.

Russell menggambarkan keterbatasan eksplorasi sebelumnya dengan analogi sederhana:

“Seperti melakukan beberapa ekspedisi ke Gurun Sahara, lalu mengatakan kita sudah memahami seluruh Bumi.”

Padahal, justru di kutub selatan inilah para ilmuwan menduga terdapat cadangan es air. Keberadaan air ini menjadi kunci penting, bukan hanya untuk kehidupan di masa depan, tetapi juga untuk memahami asal-usul air di Bumi.

“Kami ingin tahu bagaimana Bulan mendapatkan air, karena kemungkinan besar itu juga menjelaskan bagaimana Bumi mendapatkan air,” jelas Russell.

Selain aspek ilmiah, Artemis II juga membawa misi yang lebih “manusiawi”: memahami bagaimana tubuh manusia bereaksi terhadap perjalanan luar angkasa. Para astronaut akan menjadi bagian dari penelitian tentang dampak perjalanan panjang di luar Bumi—mulai dari kondisi fisik, kesehatan mental, hingga perilaku.

Penelitian ini sangat penting, terutama jika manusia benar-benar ingin melangkah lebih jauh, seperti ke Mars. Sebab, perjalanan ke planet merah jauh lebih kompleks dan berisiko. Dalam konteks ini, Bulan berfungsi sebagai tempat uji coba yang relatif “dekat” sebelum manusia menempuh perjalanan yang lebih ekstrem.

Tak hanya soal sains dan teknologi, Bulan juga menyimpan potensi ekonomi yang besar. NASA bahkan melihat kemungkinan memanfaatkan sumber daya di sana, seperti es air yang bisa diolah menjadi air minum, oksigen, hingga bahan bakar roket. Jika hal ini berhasil, maka eksplorasi luar angkasa tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan dari Bumi.

Lebih jauh lagi, Bulan diyakini mengandung berbagai material berharga, termasuk rare earth elements yang penting untuk industri elektronik, serta helium-3 yang berpotensi menjadi bahan bakar energi bersih di masa depan.

Seiring dengan itu, perlahan mulai terbentuk apa yang disebut sebagai “ekonomi Bulan”. NASA telah bekerja sama dengan berbagai perusahaan swasta untuk mengirim logistik ke Bulan, membuka peluang bisnis baru di sektor antariksa. Jika suatu saat manusia benar-benar menetap di sana, potensi ekonomi ini bisa berkembang jauh lebih besar, termasuk dalam bidang pertambangan luar angkasa.

Namun, ada satu faktor lain yang tak bisa diabaikan: persaingan global.

Jika dulu perlombaan luar angkasa hanya melibatkan Amerika Serikat dan Uni Soviet, kini lebih dari 80 negara telah memiliki kehadiran di luar angkasa. Di antara mereka, China menjadi pesaing utama yang secara terbuka menargetkan pendaratan manusia di Bulan sebelum 2030.

Robert Braun dari Johns Hopkins University bahkan menyebut Bulan sebagai posisi strategis paling penting.

“Ultimate high ground,” katanya, merujuk pada nilai strategis Bulan dalam konteks keamanan, eksplorasi, dan ekonomi.

Dengan kata lain, kembali ke Bulan bukan hanya soal pengetahuan, tetapi juga soal posisi dan pengaruh di masa depan.

Pada akhirnya, Artemis II bukan sekadar misi untuk “kembali” ke Bulan. Ia adalah langkah awal menuju sesuatu yang jauh lebih besar. Dari memahami sejarah tata surya, membuka peluang ekonomi baru, hingga menyiapkan perjalanan manusia ke Mars, semuanya bermula dari sini.

Bulan, yang selama ini tampak diam di langit malam, ternyata kembali menjadi panggung penting bagi masa depan umat manusia.

https://www.kompas.com/sains/read/2026/03/31/123542223/alasan-nasa-kembali-ke-bulan-lewat-misi-artemis-ii-bukan-sekadar-nostalgia

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com