Penulis
KOMPAS.com - Tanpa pawang hujan, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menggunakan cara ilmiah untuk menghalau cuaca ekstrem selama kegiatan KTT G20 di Bali, yakni dengan modifikasi cuaca.
KTT G20 di Bali telah rampung dilaksanakan sejak 14-16 November. Puncak acara konferensi ini pun berjalan lancar dan tidak terganggu cuaca ekstrem seperti hujan selama penyelenggaraan kegiatan tersebut.
Seperti diberitakan Kompas.com sebelumnya, mendukung penyelenggaraan KTT G20 Bali, BMKG mengoperasikan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Operasi tersebut dilakukan untuk menghalau cuaca ekstrem di lokasi penyelenggaraan KTT G20.
Untuk menghalau cuaca ekstrem, BMKG menggunakan metode modifikasi cuaca dengan menabur garam di langit Bali selama penyelenggaraan KTT G20.
Bekerja sama dengan BRIN, Kementerian Perhubungan, TNI Angkatan Udara dan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR), dikerahkan 28 sorti dan total bahan semai berupa 29 ton NaCl atau garam dalam operasi teknologi modifikasi cuaca ini.
Dilansir dari Britannica, Sabtu (19/11/2022), modifikasi cuaca adalah rekayasa kondisi atmosfer yang dilakukan secara sengaja maupun tidak sengaja oleh aktivitas manusia, yakni dengan mengubah cuaca pada skala lokal atau regional.
Baca juga: Apa Itu Modifikasi Cuaca yang Dilakukan untuk Cegah Cuaca Ekstrem di KTT G20 Bali?
Penerapan modifikasi cuaca ternyata telah sejak lama dilakukan. Upaya mengubah fenomena atmosfer seperti awan, hujan, hujan es, salju, kilat, badai petir maupun tornado telah lama dilakukan oleh manusia.
Namun, sejarah modifikasi cuaca pertama kali dilakukan secara ilmiah di era modern tercatat dimulai pada tahun 1946.
Vincent J. Schaefer dan Irving Langmuir di General Electric Research Laboratories di Schenectady, N.Y. Schaefer adalah dua ilmuwan yang pertama kali menunjukkan bahwa fenomena cuaca dapat diubah secara ilmiah.
Dalam sebuah eksperimen modifikasi cuaca, keduanya menemukan bahwa ketika butiran es kering yakni karbon dioksida beku, dijatuhkan ke dalam awan yang terdiri dari tetesan air di dalam kotak yang sangat dingin, maka dengan cepat tetesan air itu akan berubah menjadi kristal es.
Ukuran kristal es ini akan bertambah dan kemudian jatuh ke dasar kotak.
Dalam eksperimen modifikasi cuaca yang dilakukan Schaefer-Langmuir di laboratorium dan atmosfer menunjukkan apa yang kemudian disebut sebagai awan superdingin dapat menghilang.
Baca juga: Cegah Cuaca Ekstrem di KTT G20 Bali dengan Modifikasi Cuaca Tabur Garam