Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 23 November 2022, 08:05 WIB
Monika Novena,
Bestari Kumala Dewi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Tulisan tertua diketahui berasal dari Mesopotamia kuno dan berusia lebih dari 5000 tahun.

Penemuan arkeologi telah mengungkapkan, bahwa tulisan paling awal Mesopotamia itu disebut sebagai cuneiform, berbentuk tanda baji atau paku yang dibuat dengan menekan alat runcing ke tanah liat basah.

Tetapi siapa penulis pertama yang kemudian namanya dikenal oleh publik?

Baca juga: Sains Ungkap Penulis Sebenarnya dari Lagu The Beatles

Menurut Erhan Tamur, dari Museum of Art di New York, banyak orang mengutip tokoh-tokoh Yunani kuno seperti penyair epik Homer, penyair lirik Sappho atau sejarawan Herodotus sebagai penulis pertama yang dikenal namanya.

Namun, mengutip Live Science, Selasa (22/11/2022) sebelum tokoh-tokoh itu ada, satu milenium sebelumnya ada seorang putri, pendeta wanita, sekaligus penyair yang dikenal sebagai Enheduanna. Wanita ini yang kemudian disebut sebagai penulis yang dikenal.

"Dia adalah penulis pertama yang kami kenal namanya, yang dapat kami hubungkan dengan teks yang ada. Untuk sebagian besar sastra Mesopotamia yang kita tahu siapa penulisnya, Enheduanna adalah pengecualian," kata Benjamin Foster, ahli Asiriologi

Lantas siapa Enheduanna? Ia adalah putri raja Akkadia Sargon, yang hidup sekitar tahun 2334 SM hingga 2279 SM.

Sekitar tahun 2300 SM, Sargon menyatukan mayoritas Mesopotamia di bawah pemerintahannya, ketika kebudayaan Akkadia di Mesopotami utara menaklukan bangsa Sumeria di Mesopotamia selatan.

Ini membuka jalan bagi Kekaisaran Akkadia, kerajaan pertama di dunia yang mengumpulkan berbagai wilayah dalam satu otoritas.

Sargon kemudian menunjuk putrinya sebagai pendeta tinggi dewa bulan Sumeria di kota Ur di Sumeria, sebagai bagian dari upanya untuk mengkonsolidasikan kerajaan barunya.

Ketika mengambil peran ini, ia kemudian menerima nama Enheduanna yang berarti pendeta tinggi dan hiasan surga dalam bahasa Sumeria.

Sebagai pendeta tinggi dewa bulan dan perwakilan ayahnya, Enheduanna menjadi sosok penting. Dan menariknya, selain menjalankan tanggung jawabnya, ia juga menulis puisi.

Baca juga: Tulisan 2.000 Tahun Ungkap Kisah Kaisar China yang Ingin Hidup Abadi

Beberapa puisi Enheduanna menghormati dewa bulan Nanna. Selain itu, puisi Enheduanna juga kaya dengan detail otobiogradi seperti perjuangannya melawan Lugalanne, yang kemungkinan besar raja Ur yang berusaha mencopot paksa Enheduanna dari jabatannya.

"Enheduanna adalah penulis pertama yang kami ketahui yang memasukkan detail otobiogradi ke dalam narasinya. Selain itu dia adalah penulis pertama yang memberi tahu kita sesuatu tentang bagaimana ia menciptakan puisi-puisi tersebut," kata Tamur.

"Ia menyamakan tindakan penciptaan sastra dengan persalinan, penggunaan metafora ini yang pertama kali diketahui dan tetap digunakan selama ribuan tahun dalam sastra dunia," tambahnya.

Dunia modern sendiri pertama kali mempelajari Enheduanna dari sisa-sisa piringan pualam, yang digali pada tahun 1927 selama penggalian arkeolog Inggris Sir Leonard Woolley di Ur.

Baca juga: Kartini Bukan Cuma Penulis Surat, Dia Wartawati Pertama Nusantara

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau