Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com, 14 Oktober 2023, 15:30 WIB
Lulu Lukyani

Penulis

KOMPAS.com - Sejak lama, para astronom selalu penasaran sekaligus bingung dengan struktur bulan.

Pada awal abad ke-20, para ilmuwan memperdebatkan apakah bulan hanyalah sebuah objek berbatu yang mirip dengan bulan-bulan Mars atau apakah ia memiliki geologi bagian dalam yang lebih kompleks.

Kini, perdebatan tersebut akhirnya dapat terselesaikan.

Menurut model matematika terbaru, bulan memiliki inti luar yang cair dan inti dalam yang padat, mirip dengan Bumi.

Inti bagian dalam bulan terdiri dari logam dengan kepadatan serupa dengan besi dan berdiameter sekitar 500 km, yaitu sekitar 15% dari total diameter bulan.

Baca juga: Mengapa Bulan Terkadang Berwarna Oranye?

Cara terbaik mempelajari komposisi bagian dalam benda-benda di tata surya, termasuk bulan, adalah melalui data seismik.

Gelombang seismik, yang pada dasarnya adalah gelombang akustik, merambat secara berbeda melalui material yang berbeda.

Jadi, gelombang yang dihasilkan oleh gempa bulan dapat mengungkap struktur bagian dalam bulan, bergantung pada apa yang mereka lewati. Hasil akhirnya adalah semacam sinar-X geologis.

Chandrayaan-3 milik India, yang mendarat di bulan pada Agustus 2023, telah mendeteksi gempa bulan pertama dalam lebih dari 50 tahun.

Namun, para peneliti di Universitas Côte d'Azur, Perancis, tidak memiliki akses terhadap data ini ketika mereka pertama kali memulai penelitian ini sehingga harus mengandalkan data lama dari era Apollo.

Baca juga: NASA Akan Bangun Rumah di Bulan Tahun 2040

Tantangannya adalah data kuno memiliki resolusi yang rendah dibandingkan standar saat ini sehingga sulit untuk menentukan keadaan inti bulan.

Untuk itu, para peneliti mengumpulkan data tambahan dari misi luar angkasa dan eksperimen jangkauan laser bulan dan membuat profil fitur bulan.

Hal ini antara lain mencakup kepadatan dan variasi jaraknya dari Bumi. Peneliti kemudian melakukan pemodelan dengan tipe inti yang berbeda untuk menemukan mana yang paling cocok dengan data observasi.

Para peneliti membuat beberapa temuan penting. Pertama, mereka menemukan bahwa materi yang lebih padat di dalam bulan akan jatuh ke pusat bulan, dan materi yang kurang padat akan naik ke atas.

Hal ini sebelumnya telah dikemukakan oleh para peneliti sebagai cara untuk menjelaskan keberadaan unsur-unsur tertentu di wilayah vulkanik bulan.

Baca juga: Ahli Perkirakan 33.000 Meteoroid Menabrak Bulan Setiap Tahun

Para peneliti juga menemukan bahwa inti bulan sangat mirip dengan Bumi, dengan lapisan luar yang cair dan inti dalam yang padat.

Inti tersebut berdiameter sekitar 500 km atau 15% lebar Bulan. Anehnya, pada tahun 2011 lalu, sebuah tim yang dipimpin oleh ilmuwan NASA menemukan hasil serupa dengan menggunakan teknik seismologi pada data Apollo untuk mempelajari inti bulan.

Meskipun temuan ini memberikan sedikit pencerahan pada struktur bulan, masih banyak misteri lain yang belum terpecahkan, seperti apa yang terjadi pada medan magnetnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau