Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
BRIN
Badan Riset dan Inovasi Nasional

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) adalah lembaga pemerintah yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada Presiden Republik Indonesia. BRIN memiliki tugas menjalankan penelitian, pengembangan, pengkajian, dan penerapan, serta invensi dan inovasi yang terintegrasi.

Artificial Intelligence dan Pertanian

Kompas.com, 25 Juli 2024, 21:00 WIB

Artikel ini adalah kolom, seluruh isi dan opini merupakan pandangan pribadi penulis dan bukan cerminan sikap redaksi.

Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh: Dr. Vina Eka Aristya, S.P., M.Sc.

TEKNOLOGI Artificial Intelligence (AI) telah berkembang pesat dan banyak diadopsi, terutama di bidang teknologi komunikasi dan komputasi.

Pertanian yang notabene sektor krusial penampung lapangan kerja dan penghasil pangan apakah berani menerapkannya?

Baca juga: Apa Aturan yang Tepat untuk Teknologi AI yang Makin Berkembang?

Proporsi tenaga kerja pertanian saat ini 27,52 persen dari total tenaga kerja Indonesia. Sebanyak 138,63 juta orang bermata pencaharian sebagai petani. Namun, petani milenial, berumur 19–39 tahun, hanya 6.183.009 orang. 

Tidak menariknya dunia pertanian untuk digeluti generasi muda karena image pertanian yang belum modern.

Upaya menggaet kaum muda berkarya di desa ialah kepastian kesejahteraan di bidang pertanian melalui perbaikan skema pertanian presisi.

AI dapat berperan dalam memajukan transformasi padat karya pertanian tradisional menjadi smart farming. Membudayakan adopsi teknologi menjadi solusi mengatasi tantangan pemenuhan pangan akibat pesatnya pertumbuhan penduduk.

Jumlah usaha pertanian perorangan kini hanya 29.342.202 unit atau turun 7,45 persen dari dekade lalu, sebanyak 31.705.295 unit. Smart farming berfungsi menggenjot produksi pangan global, mengatasi kelangkaan sumber daya alam, serta fluktuasi pemanasan iklim.

Melirik Smart Farming

Kesenjangan yang ditemui saat ini dalam optimalisasi pertanian modern yaitu kesiapan sumber daya manusia, efisiensi energi, kinerja jaringan, dan keamanan.

Evolusi pertanian cerdas berawal dari hanya mengandalkan ilmu dan tenaga manusia, menjadi penggabungan sains, teknologi, dan domain data.

Penggunaan teknologi komprehensif melalui kolaborasi multidisiplin bagi pertanian, berpotensi swasembada pangan di masa depan.

Baca juga: Bagaimana Cara Drone AI Bantu Konservasi Gajah di Alam Liar?

Menggenjot kemampuan sumber daya manusia, peralatan, perangkat lunak, dan teknologi perangkat keras sangat penting untuk kemajuan pertanian.

Dalam beberapa tahun terakhir, terdapat peningkatan minat mengintegrasian kecerdasan buatan (AI), Internet of Things (IoT), informasi, teknologi komunikasi, dan jaringan sensor nirkabel dalam bidang pertanian.

Munculnya digitalisasi mempunyai arti penting memajukan seluruh elemen kehidupan, tak terkecuali pertanian. Pertanian berbasis IoT merevolusi pertanian empiris tradisional menjadi pertanian intensif.

Pertanian presisi yang berkelanjutan mampu merasionalisasi pemanfaatan sumber daya alam dan meningkatkan produktivitas.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau