Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Pisowanan Ageng Mei 1998: Momentum di Yogya Sebelum Soeharto Turun

Kompas.com, 21 Mei 2025, 05:00 WIB
Ahmad Yasin

Penulis

KOMPAS.com - Pisowanan Ageng yang digelar pada 20 Mei 1998 merupakan salah satu momentum penting jelang Soeharto turun sebagai presiden.

Kala itu, Yogyakarta mengambil sikap di tengah krisis ekonomi dan politik di tahun 1998.

Hanya sehari sebelum Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, sebuah pertemuan akbar digelar di Alun-Alun Utara.

Peristiwa yang kerap disebut Pisowanan Ageng ini merupakan momen saat Sultan HB X sebagai raja Yogyakarta turut bersuara di tengah tuntutan rakyat akan reformasi dan penurunan Soeharto.

Baca juga: Jelang Reformasi 1998: Pimpinan DPR/MPR Desak Soeharto Mundur

Kondisi sebelum Pisowanan Ageng

Pada akhir 1990-an, krisis ekonomi dan politik menciptakan keresahan di berbagai lapisan masyarakat. Pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto dianggap tak mampu mengatasi persoalan tersebut.

Di samping itu, terdapat keraguan atas kredibilitas rezim Soeharto seiring dengan maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Praktis, hal ini menurunkan kepercayaan rakyat kepada Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.

Situasi ini memicu mahasiswa menyuarakan tuntutan reformasi dan pergantian rezim. Sebagai realisasinya, mereka mengorganisasi aksi protes di berbagai wilayah, termasuk di Jakarta, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya.

Baca juga: Krisis Ekonomi dan Politik Menjelang Reformasi 1998

Di saat bersamaan, muncul sejumlah insiden kekerasan yang menyulut kemarahan publik. Sebut saja Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 di Jakarta.

Dalam aksi itu, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas karena tertembak peluru dari aparat keamanan.

Setelah itu, pecah kerusuhan dan penjarahan yang melanda berbagai daerah, termasuk di Jakarta pada 13-15 Mei 1998.

Sementara itu, kondisi di Yogyakarta tak kalah memanas pada 8 Mei 1998. Melansir Kompas.com, seorang mahasiswa bernama Mozes Gatotkaca tewas dalam rangkaian aksi unjuk rasa di Gejayan.

Peristiwa kematian Mozes Gatotkaca semakin memperkeruh situasi di Yogyakarta.

Baca juga: Peristiwa Gejayan 1998

Pisowanan Ageng 20 Mei 1998

Di tengah ketidakstabilan negara pada Mei 1998, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengambil langkah strategis untuk mendinginkan suasana.

Pada 20 Mei 1998, ia menggelar Pisowanan Ageng di Alun-alun Utara Yogyakarta. Pisowanan Ageng dapat diartikan sebagai momen bersatunya rakyat dan sultan atau raja dengan Tuhan.

Peristiwa ini merupakan simbol dari eksistensi kraton sebagai otoritas tradisional yang mengayomi rakyat kecil. Tradisi Pisowanan Ageng diketahui sudah ada sejak zaman kerajaan.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Stori
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Stori
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Stori
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Stori
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Stori
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Stori
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Stori
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Stori
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Stori
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Stori
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Stori
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Stori
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Stori
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Stori
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau