Penulis
KOMPAS.com - Pisowanan Ageng yang digelar pada 20 Mei 1998 merupakan salah satu momentum penting jelang Soeharto turun sebagai presiden.
Kala itu, Yogyakarta mengambil sikap di tengah krisis ekonomi dan politik di tahun 1998.
Hanya sehari sebelum Soeharto lengser pada 21 Mei 1998, sebuah pertemuan akbar digelar di Alun-Alun Utara.
Peristiwa yang kerap disebut Pisowanan Ageng ini merupakan momen saat Sultan HB X sebagai raja Yogyakarta turut bersuara di tengah tuntutan rakyat akan reformasi dan penurunan Soeharto.
Baca juga: Jelang Reformasi 1998: Pimpinan DPR/MPR Desak Soeharto Mundur
Pada akhir 1990-an, krisis ekonomi dan politik menciptakan keresahan di berbagai lapisan masyarakat. Pemerintahan Orde Baru di bawah Presiden Soeharto dianggap tak mampu mengatasi persoalan tersebut.
Di samping itu, terdapat keraguan atas kredibilitas rezim Soeharto seiring dengan maraknya praktik korupsi, kolusi, dan nepotisme (KKN). Praktis, hal ini menurunkan kepercayaan rakyat kepada Soeharto yang telah berkuasa selama 32 tahun.
Situasi ini memicu mahasiswa menyuarakan tuntutan reformasi dan pergantian rezim. Sebagai realisasinya, mereka mengorganisasi aksi protes di berbagai wilayah, termasuk di Jakarta, Yogyakarta, dan kota-kota lainnya.
Baca juga: Krisis Ekonomi dan Politik Menjelang Reformasi 1998
Di saat bersamaan, muncul sejumlah insiden kekerasan yang menyulut kemarahan publik. Sebut saja Tragedi Trisakti pada 12 Mei 1998 di Jakarta.
Dalam aksi itu, empat mahasiswa Universitas Trisakti tewas karena tertembak peluru dari aparat keamanan.
Setelah itu, pecah kerusuhan dan penjarahan yang melanda berbagai daerah, termasuk di Jakarta pada 13-15 Mei 1998.
Sementara itu, kondisi di Yogyakarta tak kalah memanas pada 8 Mei 1998. Melansir Kompas.com, seorang mahasiswa bernama Mozes Gatotkaca tewas dalam rangkaian aksi unjuk rasa di Gejayan.
Peristiwa kematian Mozes Gatotkaca semakin memperkeruh situasi di Yogyakarta.
Baca juga: Peristiwa Gejayan 1998
Di tengah ketidakstabilan negara pada Mei 1998, Sri Sultan Hamengku Buwono X mengambil langkah strategis untuk mendinginkan suasana.
Pada 20 Mei 1998, ia menggelar Pisowanan Ageng di Alun-alun Utara Yogyakarta. Pisowanan Ageng dapat diartikan sebagai momen bersatunya rakyat dan sultan atau raja dengan Tuhan.
Peristiwa ini merupakan simbol dari eksistensi kraton sebagai otoritas tradisional yang mengayomi rakyat kecil. Tradisi Pisowanan Ageng diketahui sudah ada sejak zaman kerajaan.