Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Try Sutrisno Wafat di Usia 90 Tahun, Ini Jejak Kariernya dari Prajurit hingga Wapres RI

Kompas.com, 2 Maret 2026, 13:25 WIB
Serafica Gischa

Editor

KOMPAS.com - Kabar duka datang dari dunia politik dan militer Indonesia. Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia, Jenderal TNI (Purn) Try Sutrisno, wafat pada Minggu, 2 Maret 2026, dalam usia 90 tahun.

Melansir dari Kompas.com, Try Sutrisno meninggal dunia di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Soebroto, Jakarta. 

Kepergian sosok yang pernah mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1993–1998 ini menandai berakhirnya perjalanan panjang seorang prajurit yang meniti karier dari bawah hingga menduduki jabatan tertinggi di lingkungan militer dan pemerintahan.

Baca juga: Pendidikan dan Karier Presiden Prabowo Subianto, Dari Taruna Terbaik hingga Pemimpin Negara 

Dari Surabaya ke dunia militer

Merangkum dari Kompas.id, Try Sutrisno lahir di Surabaya, Jawa Timur, pada 15 November 1935. 

Ia tumbuh dalam keluarga sederhana. Sejak remaja, ia telah bersentuhan dengan dunia militer, mengikuti jejak ayahnya yang bekerja di lingkungan kesehatan militer.

Setelah menyelesaikan pendidikan menengah, ia melanjutkan ke Akademi Teknik Angkatan Darat (ATEKAD) di Bandung pada 1956 dan lulus pada 1959.

Karier militernya dimulai dengan pangkat Letnan Dua Zeni.

Sebagai perwira muda, Try tercatat mengikuti berbagai operasi militer besar, antara lain penumpasan DI/TII, PRRI, Operasi Trikora dalam pembebasan Irian Barat, hingga Operasi Seroja. 

Pengalaman tersebut membentuk reputasinya sebagai prajurit lapangan yang disiplin dan konsisten menjalankan tugas.

Kariernya terus menanjak. Ia pernah menjabat Pangdam IV/Sriwijaya dan Pangdam V/Jaya, dua posisi strategis di tubuh TNI Angkatan Darat. 

Pada 1985, ia diangkat menjadi Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakil KSAD), lalu tak lama kemudian dipercaya menjabat KSAD pada 25 Juni 1986.

Puncak karier militernya terjadi ketika ia diangkat sebagai Panglima ABRI pada 27 Februari 1988, jabatan yang diembannya hingga 1993. 

Pada masa itu, ABRI masih mencakup TNI Angkatan Darat, Angkatan Laut, Angkatan Udara, dan Kepolisian.

Baca juga: Kapan Soekarno Resmi jadi Presiden? Ini Sejarah dan Alasannya

Wakil Presiden terpilih Try Sutrisno mengucapkan sumpah jabatan.commons.wikimedia.org/Sekretariat Wakil Presiden Indonesia Wakil Presiden terpilih Try Sutrisno mengucapkan sumpah jabatan.

Menjadi Wakil Presiden ke-6 Republik Indonesia

Sidang Umum MPR masa bakti 1992–1997 memilih Try Sutrisno sebagai Wakil Presiden Republik Indonesia untuk mendampingi Presiden Soeharto pada periode 1993–1998. 

Ia menggantikan Sudharmono dan menjadi Wakil Presiden ke-6 dalam sejarah Indonesia.

Halaman:


Terkini Lainnya
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Sejarah April Mop: Mengungkap Asal-usul Hari Prank Sedunia dan Lelucon Paling Ikonik dalam Sejarah
Stori
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Sejarah Kenapa Harga Batu Bara Bisa Mahal? Ini Faktor Global, Kebijakan, hingga Krisis Energi
Stori
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Penangkapan Pangeran Diponegoro 28 Maret 1830, Akhir Perang Jawa yang Bersejarah
Stori
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Apa Itu Lebaran Ketupat? Ini Sejarah, Tradisi, dan Filosofinya di Bulan Syawal
Stori
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Kenapa Iran Sering Disebut Negara Arab? Ini Fakta Sejarahnya
Stori
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Sejarah Pearl Harbor: Serangan Jepang yang Mengubah Arah Perang Dunia II
Stori
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Sejarah Halalbihalal di Indonesia: Dari Tradisi Jawa hingga Strategi Politik Soekarno
Stori
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Sejarah Hari Nyepi: Makna, Nilai, dan Rangkaian Upacara Tahun Baru Saka
Stori
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Mengenal Tawur Kesanga, Upacara Sebelum Nyepi yang Sarat Makna dan Filosofi
Stori
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Rudal Sejjil Iran: Sejarah Senjata Balistik yang Mengubah Kekuatan Timur Tengah
Stori
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Sejarah Sistem Teritorial TNI: Dari Perang Gerilya hingga Lahirnya Jabatan Kaster
Stori
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Sejarah Rudal: Dari Batu Ketapel Kuno hingga Senjata Mutakhir Iran dan Hizbullah
Stori
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Sejarah Istilah Mudik di Indonesia: Dari Tradisi Lama hingga Fenomena Sosial Lebaran
Stori
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Mengapa Lailatul Qadar Disebut Malam Kemuliaan? Ini 5 Alasan Keistimewaannya dalam Islam
Stori
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Sejarah Lailatul Qadar: Malam Kemuliaan yang Lebih Baik dari Seribu Bulan
Stori
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau