Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Saat Penumpang Pesawat Air India Temukan Kecoak di Tengah Penerbangan...

Kompas.com, 5 Agustus 2025, 18:30 WIB
Fatimah Az Zahra,
Irawan Sapto Adhi

Tim Redaksi

KOMPAS.com - Maskapai Air India meminta maaf atas keberadaan kecoa di dalam pesawatnya yang terbang dari San Fransisco menuju Mumbai via Kolkata pada Sabtu (2/8/2025).

Keberadaan kecoa di dalam pesawat tersebut diketahui menyebabkan beberapa penumpang harus dipindahkan ke tempat duduk lain.

Pesawat berjenis Boeing 777 itu merupakan pesawat bekas Delta Air Lines (VT-AEH) yang masih tergolong baru.

Para petugas kemudian menjalani pembersihan pesawat secara menyeluruh saat berhenti secara teknis di Kolkata. 

Baca juga: Penumpang Lion Air Teriak Ada Bom di Pesawat, Diduga Kesal Penerbangan Tertunda

Dua penumpang temukan beberapa ekor kecoak

Pesawat Air India yang mengalami "insiden kecoak" diketahui dijadwalkan berangkat dari San Francisco pada Sabtu (2/8/2025) pukul 20.28 waktu setempat, dan akan tiba di Kolkata sekitar 16 jam kemudian, sebelum melanjutkan menuju Mumbai.

Saat perjalanan dari San Francisco menuju Kolkata, dua orang penumpang menemukan beberapa ekor kecoak di dalam pesawat. Peristiwa itu terjadi saat pesawat masih mengudara.

Karena merasa terganggu, dua penumpang tersebut melapor kepada petugas. Petugas lalu memindahkan kedua penumpang ke kursi lain.

“Dua penumpang sayangnya merasa terganggu dengan kehadiran beberapa ekor kecoak kecil di dalam pesawat. Kru kabin kami kemudian memindahkan kedua penumpang tersebut ke kursi lain,” kata seorang juru bicara maskapai Air India, sebagaimana dilansir Times of India, Selasa (5/8/2025).

Saat pesawat melakukan pemberhentian terjadwal untuk mengisi bahan bakar di Kolkata, petugas segera melakukan pembersihan menyeluruh guna menangani masalah kecoak di pesawat.

Setelah pembersihan selesai, pesawat yang sama melanjutkan penerbangan ke Mumbai sesuai dengan jadwal.

Baca juga: Pakar Ungkap Gempa Rusia Bisa Picu Tsunami Secepat Pesawat Terbang, Ini Wilayah Terdampak

Maskapai meminta maaf atas kejadian tersebut

Juru bicara maskapai Air India diketahui meminta maaf atas kejadian tersebut. Mereka mengatakan sebelumnya telah rutin melakukan pengasapan serangga.

“Meskipun kami secara rutin melakukan pengasapan (fumigasi), serangga terkadang tetap dapat masuk ke pesawat selama proses di darat. Kami dengan tulus meminta maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan,” tambah juru bicara tersebut.

Maskapai penerbangan mengatakan akan memulai penyelidikan menyeluruh guna mengetahui penyebab dari insiden tersebut dan akan menerapkan langkah antisipasi mencegah kejadian tersebut terulang kembali.

Baca juga: Moncong Iberia Menganga Besar, Bukti Bahayanya Pesawat Tabrak Burung

Bukan peristiwa pertama

Media India Today pada Senin (4/8/2025) melaporkan, maskapai Air India terbilang kerap menerima kritik karena kelalaian dalam menjaga kebersihan di dalam pesawat. 

Pada September 2024, seorang penumpang dalam penerbangan rute Delhi menuju New York melaporkan menemukan kecoak di dalam omeletnya, yang menyebabkan anaknya jatuh sakit. 

Sebelumnya, sebuah pisau ditemukan di dalam hidangan fig-chaat dalam penerbangan rute Bengaluru menuju San Francisco.

Maskapai tersebut juga berada di bawah pengawasan ketat menyusul kecelakaan mematikan Dreamliner pada bulan Juni dan temuan sejumlah pelanggaran keselamatan dalam audit oleh badan pengawas penerbangan DGCA.

Pada bulan Juni 2025, penerbangan Air India dari Tokyo ke Delhi dialihkan ke Kolkata karena suhu kabin yang luar biasa tinggi, sementara penerbangan lain dari Mumbai ke Chennai mengharuskan segera kembali setelah lepas landas karena tercium bau terbakar di kabin.

Baca juga: Tak Sengaja Terekam, Ini Pesawat Legendaris Concorde yang Bisa Terbang 2 Kali Lebih Cepat dari Suara

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
10 Orang Terkaya di Dunia Awal April 2026 Versi Forbes, Kekayaan Elon Musk Rp 13.862 triliun
Tren
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau