Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Thailand Tetapkan 5 Ras Kucing sebagai Hewan Peliharaan Nasional, Termasuk Khao Manee

Kompas.com, 2 Desember 2025, 19:00 WIB
Aditya Priyatna Darmawan,
Irawan Sapto Adhi

Tim Redaksi

BANGKOK, KOMPAS.com — Pemerintah Thailand resmi menetapkan lima ras kucing asli sebagai simbol hewan peliharaan nasional pada 18 November 2025.

Kelima ras tersebut, yakni Suphalak, Korat, Siamese, Konja, dan Khao Manee, yang merupakan kucing khas Thailand dan telah dikenal luas secara internasional.

Kebijakan ini berasal dari usulan Komite Identitas Nasional Thailand dan kemudian disetujui pemerintah.

Menurut Government Public Relations Department of Thailand, masing-masing ras memiliki ciri fisik dan perilaku yang jelas membedakannya dari ras lain.

“Keunikan mereka telah mendapatkan pengakuan internasional, dengan beberapa peternak asing mencoba mendaftarkan garis keturunan kucing Thailand murni,” demikian pernyataan mereka, dikutip dari CNA, Jumat (28/11/2025).

Baca juga: Mengapa Kucing Suka Buang Air Sembarangan? Ini Penjelasan Dokter Hewan UGM

Ciri khas kucing Thailand

Pengelola Bangrak Cat Farm di Bangkok, Preecha Vadhana, mengatakan kelima ras tersebut memiliki karakteristik visual yang mudah dibedakan.

  1. Suphalak: berbulu coklat tembaga, dianggap membawa prestise dan keberuntungan.
  2. Korat: berwarna abu-abu kebiruan dengan mata hijau besar dan cerah.
  3. Khao Manee: berbulu putih, sering memiliki mata berbeda warna (heterochromia).
  4. Konja: kucing hitam mengilap yang dipercaya membawa keberuntungan.
  5. Siamese: berbulu gading dengan titik-titik gelap khas dan dikenal sangat cerdas.

Presiden International Maew Boran Association, Titipat Laohaprasertsiri, menilai kucing-kucing asli Thailand memiliki sifat yang sangat dekat dengan manusia.

“Mereka energik, penasaran, penyayang, dan benar-benar menambahkan kehangatan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.

Baca juga: Benarkah Kucing Liar Bisa Bantu Kucing Hilang untuk Pulang? Ini Kata Dokter Hewan

Kucing di budaya Thailand

Dalam manuskrip Thailand kuno, kucing muncul sebagai spesies yang dihormati, pembawa kemakmuran, perlindungan, dan kasih sayang kerajaan.

Hewan itu memiliki akar dalam warisan nasional Thailand, dengan dapat ditelusuri hingga sebelum naskah abad ke-14 yang disebut Tamra Maew.

Kucing juga bisa ditelusuri dari buku-buku samut khoi, buku lipat tradisional Thailand yang terbuat dari kulit pohon murbei.

Buku itu menggambarkan kucing berbulu perak dan putih dengan mata berkilau sebagai penjaga kuil. Penggambaran ciri khas itu juga bisa ditemukan dalam puisi.

Baca juga: Ramai soal Kucing Minum Matcha, Ahli Ingatkan Bahayanya

Bukan hanya bentuk simbolis

Keputusan untuk mengakui lima ras kucing asal Thailand sebagai simbol nasional bukan hanya sebagai bentuk simbolis.

Tujuannya adalah untuk membantu melestarikan ras asli yang langka, menstandarisasi mereka, dan melindungi kepemilikan Thailand atas hewan itu.

Kelima ras kucing juga akan lebih banyak digunakan dalam branding ekonomi kreatif dan pariwisata.

Halaman:


Terkini Lainnya
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Ancaman Nyata Pesisir Utara Jawa: Pekalongan, Semarang, Jakarta Bisa Tenggelam
Tren
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Berlaku 1 April 2026, Ini 7 Aturan Baru Transformasi Budaya Kerja, WFH ASN hingga Efisiensi Perjalanan Dinas
Tren
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Resmi Berlaku 1 April 2026, Ini Batas Pembelian BBM Subsidi per Kendaraan
Tren
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
5 Fakta 3 Prajurit TNI Gugur karena Serangan Israel ke Lebanon, IDF Tak Mau Disalahkan
Tren
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Analisis Geospasial: Hujan Bukan Satu-satunya Penyebab Banjir dan Longsor di Indonesia, Apa Saja?
Tren
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Resmi, Ini Daftar Harga LPG 5,5 Kg dan 12 Kg Per 1 April 2026
Tren
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Respons Strategis Asia terhadap Krisis Energi Global 2026: Indonesia Terapkan WFH, Sri Lanka Rabu Libur
Tren
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Jangka Waktu Terus Diperpanjang, Pakar Sebut AS Sudah Tak Lagi Kendalikan Perang Iran
Tren
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Sudah Berapa Orang yang Tewas Usai AS-Israel Serang Iran dan di Mana Saja?
Tren
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Respons Israel soal 3 Prajurit TNI yang Gugur di Lebanon, Apa Kata Mereka?
Tren
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Pesawat Sengaja Dijatuhkan di Meksiko, Ini Kursi Paling Aman Menurut Hasil Uji
Tren
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Harga BBM April 2026 Tetap, Stok di Indonesia Aman? Ini Kata Pertamina
Tren
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Pink Moon Muncul 1–2 April 2026, Ini Bedanya dengan Bulan Purnama Biasa
Tren
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
PLN Beri Potongan Rp 10.000 Bayar Listrik via PLN Mobile, Ini Jadwalnya
Tren
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
WFH ASN Setiap Jumat Resmi Berlaku, Ini Untung-Rugi dari Sudut Psikologi Kerja
Tren
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau