KOMPAS.com - Perayaan hari raya Idul Fitri membawa kebahagiaan sekaligus kebersamaan bagi umat Islam.
Namun di balik kemeriahan tersebut, tanpa disadari ada potensi lonjakan sampah, terutama dari sisa-sisa makanan dan kemasan.
Tradisi jamu-menjamu tamu lewat hidangan Lebaran seringkali berujung pada pemborosan makanan.
Jika tidak dikelola dengan baik, sisa makanan atau pemborosan makanan bisa menjadi sampah.
Baca juga: Nalar Membuang Sampah dan Ironi Integritas di Ruang Publik Kita
Menurut Dosen Fakultas Ekonomi dan Manajemen (FEM) IPB University Dr Meti Ekayani, lonjakan sampah makanan selama Lebaran bisa disebabkan oleh dua hal.
Pertama, budaya konsumsi masyarakat. Kedua, sistem pengelolaan sampah yang belum efektif.
Ia menjelaskan, menyediakan makanan berlimpah seringkali dianggap sebagai penghormatan kepada tamu yang hadir.
"Kita cenderung tidak mau dianggap tidak sopan kalau makanan kurang. Jadi lebih baik lebih kan. Padahal sering kali akhirnya tidak habis," papar Meti dilansir dari website resmi IPB University, Selasa (17/3/2026).
Makanan yang tidak habis itulah yang berpotensi menjadi sampah makanan.
Meningkatnya sampah makanan juga dipicu kebiasaan konsumsi yang kurang terencana dalam keluarga.
"Misalnya di rumah ada lima orang, tapi ternyata tiga orang berbuka di luar. Akhirnya makanan yang sudah disiapkan jadi berlebih," katanya.
Hal ini makin tampak saat Ramadhan hingga Idul Fitri.
Tak sedikit orang yang memutuskan untuk membeli makanan dalam jumlah banyak karena terlihat menarik. Namun, tidak semuanya dimakan.
Selain itu, sistem pengelolaan sampah di Indonesia juga turut tersorot. Menurut Meti, pengelolaan sampah Indonesia masih didominasi sistem kumpul-angkut-buang.
"Berapa pun sampah yang dihasilkan, iurannya sama. Jadi tidak ada insentif bagi masyarakat untuk mengurangi sampah," katanya.