Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Mendisdakmen Imbau Pelajar Pakai Sepeda, Orangtua Siswa: Kalau Dekat Cocok, Kalau Jauh Kasihan...

Kompas.com, 31 Maret 2026, 16:01 WIB
Wisang Seto Pangaribowo,
Krisiandi

Tim Redaksi

YOGYAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengimbau siswa naik sepeda ke sekolah atau jalan kaki apabila jarak rumahnya dekat dengan sekolah.

Imbauan ini disambut baik oleh orang tua di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Nasrul Nasikh (38) warga Bantul, DIY mengatakan ia setuju apabila siswa yang sekolahnya dekat dengan rumah menggunakan sepeda untuk berangkat dan pulang sekolah.

Menurut dia dengan bersepeda dapat mengurangi polusi udara di Yogyakarta selain itu juga baik untuk kesehatan anak-anak.

Baca juga: Kota Tua Ramai Diserbu Wisatawan, Antre Foto hingga Naik Sepeda Ontel

“Cocok sekolahnya tidak terlalu jauh dari rumah, jalanannya tidak padat dengan kendaraan bermotor, ujar Nasik, Selasa (30/3/2026).

Namun menurut, bersepeda ke sekolah jadi kurang cocok jika jarak tempuh dari rumah ke sekolah cukup jauh.

“Kalau naik sepeda sekolah jauh ya kasihan, apalagi lalu lintas kendaraannya padat. Kalau pelajar SMP atau SMA sekolahnya tidak jauh baiknya memang pakai sepeda sendiri,” kata dia.

Nasik memiliki putra yang duduk di kelas 2 SD.

Untuk saat ini menurut dia dirinya belum akan mengizinkan anaknya ke sekolah menggunakan sepeda karena walaupun jaraknya tidak terlalu jauh, harus melewati jalanan besar dengan lalu lintas yang padat.

“Sekolahnya jaraknya 1,5 kilometer tapi harus melewati jalanan besar jadi enggak mungkin pakai sepeda sendiri,” ujarnya.

Orang tua lainnya Baharuddin atau kerap disapa Udin mengatakan kebijakan yang baru sebatas imbauan tersebut sebagai langkah positif, namun perlu diarahkan agar lebih strategis serta dimulai dari pejabat publik terlebih dahulu untuk memberikan contoh kepada masyarakat.

“Jangan masyarakat terus dijadikan percontohan atas kebijakan pemerintah,” kata dia.

Baca juga: Efisiensi Energi, Gubernur Jateng Dorong ASN Naik Sepeda ke Kantor: Kalau Perlu Lari

Menurut Udin, jalan kaki ataupun bersepeda ke sekolah terutama jarak dekat tersebut memiliki nilai positif terutama dalam menerapkan pola hidup sehat, mengurangi polusi serta menghemat penggunaan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM).

Udin menilai kebijakan yang baru sebatas imbauan itu seharusnya dapat dimanfaatkan sebagai momentum yang lebih besar, yakni memperkuat penggunaan transportasi umum di Kota Yogyakarta, misalnya.

“Tawaran yang dapat dijadikan solusi adalah bertransformasi ke transportasi publik yang aman dan nyaman bagi semua termasuk bagi penyandang disabilitas,” ucap dia.

Imbauan naik sepeda Mendikdasmen

Mendikdasmen Abdul Mu'ti ditemui di Masjid Baitut Tholibin area Gedung Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (14/3/2026).KOMPAS.com/MELVINA TIONARDUS Mendikdasmen Abdul Mu'ti ditemui di Masjid Baitut Tholibin area Gedung Kemendikdasmen, Senayan, Jakarta Pusat, Sabtu (14/3/2026).
Sebelumnya, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu'ti mengimbau siswa ke sekolah dengan naik sepeda atau jalan kaki apabila jarak rumahnya dekat dengan sekolah.

Hal itu guna mendukung program efisiensi energi yang tengah digalakkan oleh Presiden Prabowo Subianto.

Ia menilai kebiasaan bersepeda bisa kembali dipopulerkan, khususnya pada masa ancaman krisis minyak imbas perang di negara-negara Teluk, Timur Tengah saat ini.

Baca juga: Mendikdasmen Imbau Siswa ke Sekolah Naik Sepeda untuk Dukung Efisiensi Energi

“Jadi misalnya kami imbau kalau yang rumahnya dekat dari sekolah dan kalau memang kira-kira aman dan nyaman, saya kira tidak ada salahnya jalan kaki atau kembali kepada kebiasaan bersepeda selama masa Covid,” kata Mu'ti dikutip dari Antara, Senin (30/3/2026).

“Kenapa kebiasaan itu tidak kita juga lanjutkan lagi? Itu kan sehat dan juga bisa hemat energi dan bersih lingkungan,” sambungnya.

Ia juga mengimbau pihak sekolah agar dapat menggalakkan kegiatan daur ulang sampah bersama para murid.

Tujuannya agar sampah-sampah yang ada di lingkungan sekolah dapat diolah dan diubah menjadi sumber energi ramah lingkungan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Mementingkan Pelayanan Publik, Pemkab Sleman Putuskan Tidak Terapkan WFH ASN Setiap Jumat
Mementingkan Pelayanan Publik, Pemkab Sleman Putuskan Tidak Terapkan WFH ASN Setiap Jumat
Yogyakarta
Pemda DIY Belum Terapkan WFH MInggu Ini: Kemrungsung Juga Enggak Bagus
Pemda DIY Belum Terapkan WFH MInggu Ini: Kemrungsung Juga Enggak Bagus
Yogyakarta
Canda Hasto soal Mobil Dinas Wali Kota Yogyakarta Dijatah 5 Liter Per Hari
Canda Hasto soal Mobil Dinas Wali Kota Yogyakarta Dijatah 5 Liter Per Hari
Yogyakarta
Permudah Akses Warga, 11 Jembatan Garuda Dibangun di Gunungkidul
Permudah Akses Warga, 11 Jembatan Garuda Dibangun di Gunungkidul
Yogyakarta
Kondisi Pembalap WorldSSP Aldi Satya Mahendra Pasca-Tabrak Lari di Jogja, Tetap Balapan di Portugal meski Menahan Sakit
Kondisi Pembalap WorldSSP Aldi Satya Mahendra Pasca-Tabrak Lari di Jogja, Tetap Balapan di Portugal meski Menahan Sakit
Yogyakarta
Upaya Pemkot Yogyakarta Kencangkan Ikat Pinggang setelah SE Kemendagri Keluar, BBM Dijatah hingga Lelang Kendaraan Lama
Upaya Pemkot Yogyakarta Kencangkan Ikat Pinggang setelah SE Kemendagri Keluar, BBM Dijatah hingga Lelang Kendaraan Lama
Yogyakarta
DPRD DIY Usulkan Prajurit asal Kulon Progo Gugur di Lebanon Jadi Pahlawan Nasional
DPRD DIY Usulkan Prajurit asal Kulon Progo Gugur di Lebanon Jadi Pahlawan Nasional
Yogyakarta
Sepak Terjang Sultan HB X di Usia 80 Tahun, Raja dan Gubernur DIY 3 Dekade
Sepak Terjang Sultan HB X di Usia 80 Tahun, Raja dan Gubernur DIY 3 Dekade
Yogyakarta
Pekerja Pabrik Garmen Demo di Kantor Bupati Sleman, Tolak Pesangon Rendah
Pekerja Pabrik Garmen Demo di Kantor Bupati Sleman, Tolak Pesangon Rendah
Yogyakarta
Jenazah Praka Farizal Diperkirakan Tiba di Kulon Progo 3 April 2026, Keluarga Tunggu Kepastian
Jenazah Praka Farizal Diperkirakan Tiba di Kulon Progo 3 April 2026, Keluarga Tunggu Kepastian
Yogyakarta
Jelang Paskah, Tim Jibom Brimob Polda DIY Sterilisasi 5 Gereja di Gunungkidul
Jelang Paskah, Tim Jibom Brimob Polda DIY Sterilisasi 5 Gereja di Gunungkidul
Yogyakarta
Rekayasa Lalu Lintas Kirab Budaya Sultan HB X Besok, Cek Lokasi dan Jadwalnya
Rekayasa Lalu Lintas Kirab Budaya Sultan HB X Besok, Cek Lokasi dan Jadwalnya
Yogyakarta
Profil Sri Sultan HB X: Jejak Panjang Menjaga Keistimewaan DIY
Profil Sri Sultan HB X: Jejak Panjang Menjaga Keistimewaan DIY
Yogyakarta
Ribuan Orang Bakal Sowan ke Keraton Yogyakarta saat HUT Sultan HB X, Sejumlah Ruas Ditutup
Ribuan Orang Bakal Sowan ke Keraton Yogyakarta saat HUT Sultan HB X, Sejumlah Ruas Ditutup
Yogyakarta
Kirab Budaya HUT Sri Sultan HB X Digelar 2 April, Rekayasa Lalu Lintas Dimulai Pukul 06.00
Kirab Budaya HUT Sri Sultan HB X Digelar 2 April, Rekayasa Lalu Lintas Dimulai Pukul 06.00
Yogyakarta
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau