Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Suasana Halalbihalal Pemkab Lebak Memanas, Bupati Hasbi Sindir Status Mantan Napi Wabup Amir Hamzah

Kompas.com, 30 Maret 2026, 17:49 WIB
Acep Nazmudin,
Irfan Maullana

Tim Redaksi

LEBAK, KOMPAS.com – Acara halalbihalal Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemerintah Kabupaten Lebak berubah tegang, Senin (30/3/2026).

Bupati Lebak Hasbi Asyidiki Jayabaya terlibat aksi saling sindir dengan Wakil Bupati (Wabup) Amir Hamzah di hadapan para pejabat daerah.

Ketegangan bermula saat Hasbi memberikan sambutan yang menyinggung batasan tugas wakil kepala daerah sesuai Undang-Undang ASN. Ia menyoroti tindakan Amir Hamzah yang dinilainya melampaui kewenangan.

“Dalam Undang-Undang ASN Pasal 66, tugas wakil bupati itu jelas. Tidak boleh memanggil kepala dinas ke rumahnya, kecuali ada pendelegasian atau bupati berhalangan,” ujar Hasbi di Pendopo Bupati Lebak.

Baca juga: Bupati Lebak Singgung Kades, Jalan Rusak tetapi Mobil Mewah-mewah: Ke Mana Dana Desa?

Singgung Status Mantan Narapidana

Situasi kian memanas ketika Hasbi melontarkan pernyataan dalam bahasa Sunda yang menyinggung status masa lalu Amir Hamzah sebagai mantan narapidana.

"Uyuhan bae mantan narapidana geus jadi wakil bupati, (Masih beruntung mantan narapidana bisa jadi wakil bupati) bersyukur," tambahnya.

Pernyataan tersebut memicu reaksi keras dari Amir Hamzah yang langsung berdiri dan berusaha menghampiri Hasbi, sebelum akhirnya dilerai oleh sejumlah pejabat yang hadir.

Usai acara, Hasbi berkilah bahwa pernyataannya adalah bagian dari gaya komunikasi dan bentuk apresiasi atas kemampuan Amir bangkit dari masa lalu.

Menurut dia, keberhasilan mantan warga binaan menjadi pejabat publik adalah sebuah prestasi.

Baca juga: SE Bupati Dicuekin Sopir Truk Tambang, Wabup Lebak: Apa Perlu Bannya Dikempesi?

Amir Hamzah Sesalkan Etika Politik Bupati

Menanggapi insiden tersebut, Amir Hamzah menilai pernyataan Hasbi sangat tidak pantas disampaikan dalam forum resmi kenegaraan, terlebih saat momentum halalbihalal. Ia menekankan pentingnya etika dan sopan santun dalam berpolitik.

"Kita berpidato. Ini masalah kenegaraan. Dan ada tata kramanya ya, ada sopan santun politik. Ada etika politik. Ya kita itu orang-orang berpendidikan," kata Amir saat ditemui di kediamannya, Senin.

Amir menambahkan, seharusnya suasana Lebaran menjadi ajang untuk mempererat kerukunan dan saling memaafkan, bukan justru menyerang personal.

"Berbicara itu harus lihat situasi ya, lihat konteks. Kalau kita sedang halalbihalal, yang lebih baik bicaralah tentang persatuan, kerukunan, kemudian saling memaafkan," pungkasnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Sektor ASN di Karawang yang Tak Lakukan WFH, Tetap Kerja di Kantor
Sektor ASN di Karawang yang Tak Lakukan WFH, Tetap Kerja di Kantor
Bandung
Melayat ke Rumah Duka di Cimahi, Panglima TNI Jamiin Hak Prajurit dan Siapkan Kenaikan Pangkat
Melayat ke Rumah Duka di Cimahi, Panglima TNI Jamiin Hak Prajurit dan Siapkan Kenaikan Pangkat
Bandung
Farhan Optimistis Ibadah Haji Aman meski Ada Konflik di Timur Tengah
Farhan Optimistis Ibadah Haji Aman meski Ada Konflik di Timur Tengah
Bandung
WFH ASN Tasikmalaya Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Diprediksi Tingkatkan Wisata Domestik
WFH ASN Tasikmalaya Tiap Jumat Mulai Pekan Depan, Diprediksi Tingkatkan Wisata Domestik
Bandung
Tabrak Truk yang Diduga Parkir Sembarangan, Pengendara Motor di Bandung Tewas
Tabrak Truk yang Diduga Parkir Sembarangan, Pengendara Motor di Bandung Tewas
Bandung
Tumpukan Sampah di Jalur Kebun Teh Pangalengan, Camat: Oknum Pungut Iuran lalu Buang Sembarangan
Tumpukan Sampah di Jalur Kebun Teh Pangalengan, Camat: Oknum Pungut Iuran lalu Buang Sembarangan
Bandung
Dedi Mulyadi Sorot Pentingnya Pahami Karakter Sosial Masyarakat Sunda di Pelantikan PUI Jabar
Dedi Mulyadi Sorot Pentingnya Pahami Karakter Sosial Masyarakat Sunda di Pelantikan PUI Jabar
Bandung
Mengenal Kapten Zulmi yang Gugur di Lebanon, Kebanggaan Keluarga dan Tetangga di Cimahi
Mengenal Kapten Zulmi yang Gugur di Lebanon, Kebanggaan Keluarga dan Tetangga di Cimahi
Bandung
Bupati Ciamis Kaji Opsi ASN ke Kantor Pakai Angkot atau Sepeda
Bupati Ciamis Kaji Opsi ASN ke Kantor Pakai Angkot atau Sepeda
Bandung
Wakil Wali Kota Absen HUT Blitar, Ibin: Sudah Lama Beliau Tidak Japri
Wakil Wali Kota Absen HUT Blitar, Ibin: Sudah Lama Beliau Tidak Japri
Bandung
Dedi Mulyadi Buka Akses Rutilahu, Begini Syarat dan Cara Mengajukan Bantuan Rumah Tak Layak Huni
Dedi Mulyadi Buka Akses Rutilahu, Begini Syarat dan Cara Mengajukan Bantuan Rumah Tak Layak Huni
Bandung
ASN Bandung yang Masih Ngantor Saat WFH Jumat Wajib Naik Transportasi Umum
ASN Bandung yang Masih Ngantor Saat WFH Jumat Wajib Naik Transportasi Umum
Bandung
Farhan Sebut Pimpinan di Pemkot Bandung Tidak Ikut WFH Setiap Jumat
Farhan Sebut Pimpinan di Pemkot Bandung Tidak Ikut WFH Setiap Jumat
Bandung
Peserta Trail Run Tewas, Polisi Sebut “Lebarun Sentul Ultra” Tanpa Izin dan Minim Prosedur Keselamatan
Peserta Trail Run Tewas, Polisi Sebut “Lebarun Sentul Ultra” Tanpa Izin dan Minim Prosedur Keselamatan
Bandung
Profil Kapten Inf Zulmi Aditya, Prajurit Kopassus Asal Cimahi yang Gugur di Lebanon
Profil Kapten Inf Zulmi Aditya, Prajurit Kopassus Asal Cimahi yang Gugur di Lebanon
Bandung
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau