BANDUNG, KOMPAS.com - Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sempat memicu kepanikan warga pada Rabu (1/4/2026) pagi mulai mereda setelah pemerintah memastikan kabar tersebut tidak benar.
Meski demikian, dampaknya masih terasa di lapangan.
Antrean kendaraan terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU), termasuk di SPBU Pertamina Jalan Terusan Kopo Katapang, Kabupaten Bandung.
Sejak pagi, antrean kendaraan roda dua didominasi pekerja sektor informal dan buruh pabrik yang tetap memilih mengisi BBM lebih awal.
Ali Wibowo (48), pengemudi ojek daring asal Katapang, mengaku sempat berkeliling ke beberapa SPBU pada Selasa malam karena khawatir harga BBM naik pada tengah malam.
"Semalam itu kacau sekali, saya sudah keliling cari yang antreannya pendek tapi semuanya penuh sesak sampai ke jalan raya. Karena badan sudah tidak kuat dan antrean tidak bergerak, saya terpaksa pulang dan baru bisa mengisi pagi ini," ujar Ali.
Baca juga: Alasan Pemerintah Tak Naikkan Harga BBM Per 1 April 2026
Hal serupa dirasakan Hakim Nugraha (42), tenaga pemasar yang bergantung pada kendaraan untuk bekerja.
Ia sempat mengantre hampir satu jam di SPBU pada malam sebelumnya, namun tidak mendapatkan BBM karena stok sempat habis.
"Saya baru bisa isi sekarang. Meskipun harganya tidak jadi naik hari ini, tetap saja rasa khawatir itu ada karena kalau bensin tidak ada, saya tidak bisa bekerja," tuturnya.
Sementara itu, Yuda Gazali (36), pekerja swasta asal Soreang, menyoroti kelangkaan BBM yang menurutnya mulai terasa dalam beberapa hari terakhir.
Baca juga: Hemat BBM, ASN Pamekasan Diminta Bersepeda, Model WFH Masih Dibahas
Ia mengaku kerap menemukan jenis BBM tertentu kosong dengan keterangan “dalam perjalanan” di SPBU.
"Katanya stok nasional aman, tapi faktanya di lapangan kita sering kesulitan mencari Pertalite atau bahkan Pertamax. Kalau sudah begini, kita dipaksa beli yang lebih mahal atau mengantre berjam-jam," kata Yuda.
Bagi warga, isu kenaikan BBM bukan sekadar soal harga, tetapi juga dampaknya terhadap kebutuhan hidup sehari-hari.
Ali mengaku kenaikan kecil sekalipun bisa langsung menggerus pendapatannya sebagai pengemudi ojek daring.
"Tarif ojek daring itu susah naiknya, tapi kalau bensin naik seribu perak saja, pendapatan harian saya langsung terpotong drastis," keluhnya.