Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Cadangan Minyak Sisa 45 Hari, Filipina Buru-buru Impor dari Rusia

Kompas.com, 26 Maret 2026, 13:18 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

Sumber AFP

MANILA, KOMPAS.com – Sebuah kapal yang membawa lebih dari 700.000 barrel minyak mentah Rusia dilaporkan tiba di Filipina, di tengah situasi darurat energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.

Pengiriman ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintah Filipina menyatakan krisis energi nasional akibat lonjakan harga dan gangguan pasokan global.

Negara kepulauan itu kini berpacu dengan waktu karena cadangan energi domestik diperkirakan menipis. Di saat yang sama, pemerintah mulai menjajaki berbagai sumber pasokan baru, termasuk dari Rusia.

Baca juga: Dampak Perang Iran Lebih Mengerikan dari Gabungan 3 Krisis Minyak dalam Sejarah

Kapal minyak Rusia tiba di Filipina

Kapal berbendera Sierra Leone bernama Sara Sky yang membawa minyak mentah berkualitas tinggi dari jalur pipa ESPO Rusia tiba pada Senin (23/3/2026).

Berdasarkan dokumen pengiriman, penerima muatan adalah Petron Corp, operator satu-satunya kilang minyak di Filipina.

Seorang sumber yang mengetahui hal tersebut mengatakan kepada AFP bahwa kapal tersebut telah berlabuh di pelabuhan Limay, dekat Manila, lokasi kilang Petron berada.

Pengiriman ini diyakini menjadi yang pertama dari Rusia ke Filipina dalam lima tahun terakhir.

Sebelumnya, CEO Petron, Ramon Ang, mengatakan, perusahaannya sedang “dalam pembicaraan” untuk kemungkinan membeli minyak Rusia, namun ia menolak mengonfirmasi kedatangan pengiriman tersebut.

Dampak Perang Timur Tengah pada pasokan energi

Asap membubung dari Pelabuhan Zayed setelah serangan Iran di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026. Perang Iran berkecamuk setelah serangan Amerika Serikat-Israel menghantam Teheran, memicu respons Iran menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk.AFP/RYAN LIM Asap membubung dari Pelabuhan Zayed setelah serangan Iran di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026. Perang Iran berkecamuk setelah serangan Amerika Serikat-Israel menghantam Teheran, memicu respons Iran menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk.

Filipina sangat bergantung pada impor bahan bakar, yang harganya melonjak ke tingkat tertinggi dalam sejarah setelah perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengganggu distribusi energi global.

Perang tersebut memaksa penutupan sebagian jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.

Kondisi ini memperparah tekanan terhadap pasokan energi global dan memicu krisis di negara-negara pengimpor seperti Filipina.

Baca juga: AS Kini Cabut Sanksi Minyak Iran, Perang Jadi Senjata Makan Tuan?

Pemerintah: “Tidak ada opsi yang dikesampingkan”

Presiden Ferdinand Marcos Jr menyatakan bahwa pemerintah sedang mencari berbagai alternatif sumber energi untuk mengatasi krisis.

“Kami tidak hanya pergi ke pemasok minyak tradisional kami, kami juga mencoba menjajaki sumber lain yang tidak terdampak oleh perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah,” ujarnya dalam konferensi pers.

Ia menegaskan bahwa pemerintah membuka semua kemungkinan. “Tidak ada yang dikesampingkan. Kami melihat semuanya, semua yang bisa kami lakukan.”

Halaman:


Terkini Lainnya
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Mengapa Israel Menolak Disalahkan Atas Gugurnya 3 Prajurit TNI di Lebanon?
Internasional
Irak Mendadak 'Lupa Perang' Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Irak Mendadak "Lupa Perang" Usai Lolos Piala Dunia, Ukir Sejarah 40 Tahun
Internasional
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau