Penulis
MANILA, KOMPAS.com – Sebuah kapal yang membawa lebih dari 700.000 barrel minyak mentah Rusia dilaporkan tiba di Filipina, di tengah situasi darurat energi yang dipicu konflik di Timur Tengah.
Pengiriman ini terjadi hanya beberapa hari setelah pemerintah Filipina menyatakan krisis energi nasional akibat lonjakan harga dan gangguan pasokan global.
Negara kepulauan itu kini berpacu dengan waktu karena cadangan energi domestik diperkirakan menipis. Di saat yang sama, pemerintah mulai menjajaki berbagai sumber pasokan baru, termasuk dari Rusia.
Baca juga: Dampak Perang Iran Lebih Mengerikan dari Gabungan 3 Krisis Minyak dalam Sejarah
Kapal berbendera Sierra Leone bernama Sara Sky yang membawa minyak mentah berkualitas tinggi dari jalur pipa ESPO Rusia tiba pada Senin (23/3/2026).
Berdasarkan dokumen pengiriman, penerima muatan adalah Petron Corp, operator satu-satunya kilang minyak di Filipina.
Seorang sumber yang mengetahui hal tersebut mengatakan kepada AFP bahwa kapal tersebut telah berlabuh di pelabuhan Limay, dekat Manila, lokasi kilang Petron berada.
Pengiriman ini diyakini menjadi yang pertama dari Rusia ke Filipina dalam lima tahun terakhir.
Sebelumnya, CEO Petron, Ramon Ang, mengatakan, perusahaannya sedang “dalam pembicaraan” untuk kemungkinan membeli minyak Rusia, namun ia menolak mengonfirmasi kedatangan pengiriman tersebut.
Asap membubung dari Pelabuhan Zayed setelah serangan Iran di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, 1 Maret 2026. Perang Iran berkecamuk setelah serangan Amerika Serikat-Israel menghantam Teheran, memicu respons Iran menyerang pangkalan militer AS di kawasan Teluk.Filipina sangat bergantung pada impor bahan bakar, yang harganya melonjak ke tingkat tertinggi dalam sejarah setelah perang yang melibatkan Amerika Serikat, Israel, dan Iran mengganggu distribusi energi global.
Perang tersebut memaksa penutupan sebagian jalur strategis Selat Hormuz, yang menjadi salah satu rute utama pengiriman minyak dunia.
Kondisi ini memperparah tekanan terhadap pasokan energi global dan memicu krisis di negara-negara pengimpor seperti Filipina.
Baca juga: AS Kini Cabut Sanksi Minyak Iran, Perang Jadi Senjata Makan Tuan?
Presiden Ferdinand Marcos Jr menyatakan bahwa pemerintah sedang mencari berbagai alternatif sumber energi untuk mengatasi krisis.
“Kami tidak hanya pergi ke pemasok minyak tradisional kami, kami juga mencoba menjajaki sumber lain yang tidak terdampak oleh perang yang sedang berlangsung di Timur Tengah,” ujarnya dalam konferensi pers.
Ia menegaskan bahwa pemerintah membuka semua kemungkinan. “Tidak ada yang dikesampingkan. Kami melihat semuanya, semua yang bisa kami lakukan.”