Penulis
WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menolak usulan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk secara terbuka mendorong rakyat Iran turun ke jalan melawan pemerintahnya.
Menurut laporan Axios pada Rabu (25/3/2026), yang mengutip sumber AS dan Israel, Netanyahu mengusulkan hal tersebut karena menilai kondisi dalam negeri Iran sedang melemah dan membuka peluang untuk mengguncang rezim.
Namun Trump dengan tegas menolak gagasan tersebut dengan memperingatkan bahwa aksi turun ke jalan hanya akan membahayakan warga sipil.
Baca juga: AS Serba Kontradiktif, Apakah Trump Sedang Cari Jalan Keluar dari Perang Iran?
“Kenapa kita harus menyuruh orang turun ke jalan kalau mereka hanya akan ditembaki?” kata Trump dalam percakapan itu.
Trump juga menyatakan kekhawatiran bahwa seruan aksi justru berpotensi memicu pembantaian massal.
Dalam percakapan yang sama, Netanyahu disebut meyakini bahwa kepemimpinan Iran sedang dalam kondisi kacau. Ia melihat serangan terhadap tokoh-tokoh penting Iran dapat membuka jalan bagi pemberontakan internal.
Bahkan sebelumnya, Netanyahu sempat menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran dengan mengatakan, “Pesawat kami menyerang para pelaku teror di lapangan, di persimpangan, di alun-alun kota. Jadi keluarlah dan rayakan. Kami mengawasi dari atas.”
Israel selama ini memandang perubahan rezim sebagai tujuan strategis utama, dengan harapan tekanan militer dan ketidakstabilan internal bisa menjatuhkan pemerintah Iran, yang juga berimbas pada melemahnya proksi-proksi Teheran.
Perbedaan pandangan ini mencerminkan pendekatan yang semakin berbeda antara Washington dan Tel Aviv. Israel tetap fokus pada upaya melemahkan hingga menjatuhkan rezim Iran.
Sebaliknya, Amerika Serikat kini cenderung lebih berhati-hati. Meski sebelumnya Trump sempat mendorong demonstrasi di Iran, kini ia lebih mengutamakan pengelolaan risiko dan hasil yang terkendali.
Pejabat AS menyebutkan bahwa tujuan akhir dan toleransi risiko kedua negara kini mulai berbeda.
AS juga tetap membuka jalur diplomasi, termasuk menawarkan rencana 15 poin untuk mengakhiri perang, meski ditolak oleh Teheran.
Baca juga: Rudal Iran Menggila Saat Trump Klaim Negosiasi Sedang Berjalan
Harapan akan pemberontakan besar di Iran sejauh ini belum terwujud. Bahkan saat Chaharshanbe Suri atau festival api tahunan—yang sempat diprediksi menjadi momentum aksi—hanya sedikit warga yang turun ke jalan.
Kelompok HAM sebelumnya juga melaporkan ribuan demonstran telah tewas dalam aksi protes sebelum perang, bahkan ada laporan jumlah korban bisa mencapai puluhan ribu. Hal ini membuat masyarakat semakin enggan mengambil risiko.
Intelijen AS pun menilai rezim Iran kemungkinan besar masih akan bertahan, meski berada di bawah tekanan militer dan ekonomi.
Kondisi bangunan di Kota Dimona yang hancur lebur setelah Israel gagal mencegat serangan rudal Iran di kota itu, juga Kota Arad, pada Sabtu (21/3/2026) malam.Sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang.
Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta negara-negara yang menampung aset militer AS di kawasan.
Serangan balasan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan.
Baca juga: Iran Ejek Trump Kalah Perang: Jangan Tutupi Kegagalan dengan Klaim Negosiasi
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang