Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Trump Tolak Ide Netanyahu Ajak Warga Iran Memberontak, AS-Israel Mulai Beda Tujuan?

Kompas.com, 26 Maret 2026, 12:50 WIB
Inas Rifqia Lainufar

Penulis

WASHINGTON DC, KOMPAS.com – Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dilaporkan menolak usulan Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, untuk secara terbuka mendorong rakyat Iran turun ke jalan melawan pemerintahnya.

Menurut laporan Axios pada Rabu (25/3/2026), yang mengutip sumber AS dan Israel, Netanyahu mengusulkan hal tersebut karena menilai kondisi dalam negeri Iran sedang melemah dan membuka peluang untuk mengguncang rezim.

Namun Trump dengan tegas menolak gagasan tersebut dengan memperingatkan bahwa aksi turun ke jalan hanya akan membahayakan warga sipil.

Baca juga: AS Serba Kontradiktif, Apakah Trump Sedang Cari Jalan Keluar dari Perang Iran?

“Kenapa kita harus menyuruh orang turun ke jalan kalau mereka hanya akan ditembaki?” kata Trump dalam percakapan itu.

Trump juga menyatakan kekhawatiran bahwa seruan aksi justru berpotensi memicu pembantaian massal.

Netanyahu yakin ada peluang guncang rezim Iran

Dalam percakapan yang sama, Netanyahu disebut meyakini bahwa kepemimpinan Iran sedang dalam kondisi kacau. Ia melihat serangan terhadap tokoh-tokoh penting Iran dapat membuka jalan bagi pemberontakan internal.

Bahkan sebelumnya, Netanyahu sempat menyampaikan pesan langsung kepada rakyat Iran dengan mengatakan, “Pesawat kami menyerang para pelaku teror di lapangan, di persimpangan, di alun-alun kota. Jadi keluarlah dan rayakan. Kami mengawasi dari atas.”

Israel selama ini memandang perubahan rezim sebagai tujuan strategis utama, dengan harapan tekanan militer dan ketidakstabilan internal bisa menjatuhkan pemerintah Iran, yang juga berimbas pada melemahnya proksi-proksi Teheran.

AS dan Israel mulai berbeda arah strategi

Perbedaan pandangan ini mencerminkan pendekatan yang semakin berbeda antara Washington dan Tel Aviv. Israel tetap fokus pada upaya melemahkan hingga menjatuhkan rezim Iran.

Sebaliknya, Amerika Serikat kini cenderung lebih berhati-hati. Meski sebelumnya Trump sempat mendorong demonstrasi di Iran, kini ia lebih mengutamakan pengelolaan risiko dan hasil yang terkendali.

Pejabat AS menyebutkan bahwa tujuan akhir dan toleransi risiko kedua negara kini mulai berbeda.

AS juga tetap membuka jalur diplomasi, termasuk menawarkan rencana 15 poin untuk mengakhiri perang, meski ditolak oleh Teheran.

Baca juga: Rudal Iran Menggila Saat Trump Klaim Negosiasi Sedang Berjalan

Minimnya respons publik Iran

Harapan akan pemberontakan besar di Iran sejauh ini belum terwujud. Bahkan saat Chaharshanbe Suri atau festival api tahunan—yang sempat diprediksi menjadi momentum aksi—hanya sedikit warga yang turun ke jalan.

Kelompok HAM sebelumnya juga melaporkan ribuan demonstran telah tewas dalam aksi protes sebelum perang, bahkan ada laporan jumlah korban bisa mencapai puluhan ribu. Hal ini membuat masyarakat semakin enggan mengambil risiko.

Intelijen AS pun menilai rezim Iran kemungkinan besar masih akan bertahan, meski berada di bawah tekanan militer dan ekonomi.

Konflik berlanjut, korban terus bertambah

Kondisi bangunan di Kota Dimona yang hancur lebur setelah Israel gagal mencegat serangan rudal Iran di kota itu, juga Kota Arad, pada Sabtu (21/3/2026) malam.AFPTV/JORGE NOVOMINSKY via AFP Kondisi bangunan di Kota Dimona yang hancur lebur setelah Israel gagal mencegat serangan rudal Iran di kota itu, juga Kota Arad, pada Sabtu (21/3/2026) malam.

Sejak 28 Februari, Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan udara ke Iran yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang.

Iran membalas dengan serangan drone dan rudal ke Israel serta negara-negara yang menampung aset militer AS di kawasan.

Serangan balasan tersebut menyebabkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta gangguan pada pasar global dan penerbangan.

Baca juga: Iran Ejek Trump Kalah Perang: Jangan Tutupi Kegagalan dengan Klaim Negosiasi

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Terkini Lainnya
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
5 Faktor Kenapa Perang Iran Bikin Harga Minyak Dunia Naik
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau