Penulis
PARIS, KOMPAS.com - Pertemuan menteri luar negeri negara-negara anggota G7 di Perancis diwarnai ketegangan diplomatik.
Menteri Luar Negeri Amerika Serikat (AS) Marco Rubio terlibat adu argumen dengan para mitranya terkait dukungan militer di kawasan Teluk dan perang di Ukraina.
Ketegangan ini dipicu oleh desakan Presiden AS Donald Trump agar sekutu-sekutu Eropa memberikan bantuan militer di Selat Hormuz, Iran.
Baca juga: Media Asing Soroti Pemangkasan Anggaran MBG Indonesia di Tengah Perang Iran
Namun, permintaan tersebut tampaknya menemui jalan buntu, sebagaimana dilansir South China Morning Post, Jumat (27/3/2026).
Sebelum bertolak dari pertemuan pada Jumat waktu setempat, Rubio menyampaikan kritik tajam terhadap negara-negara sekutu yang dianggap enggan membantu AS di Timur Tengah.
Padahal, Washington telah jorjoran membantu Eropa di Ukraina.
"AS terus-menerus diminta untuk membantu dalam sebuah perang," ujar Rubio merujuk pada konflik di Ukraina.
Baca juga: Strategi Lepas Tangan Trump, Akhiri Perang Iran dan Biarkan Selat Hormuz Tutup
"Namun, ketika AS memiliki kebutuhan, ia tidak mendapatkan respons yang positif," tambahnya.
Rubio menekankan bahwa meskipun Ukraina bukan perang AS, Washington telah berkontribusi lebih besar dibandingkan negara lain di dunia.
Dia memberikan sinyal bahwa sikap sekutu saat ini akan menjadi catatan bagi Trump di masa depan.
"Jadi, ini akan menjadi sesuatu yang perlu diperiksa dan harus dipertimbangkan oleh Presiden ke depannya," tegas Rubio.
Baca juga: Kapal Amfibi dan Bayang-Bayang Perang Darat di Iran
Di sisi lain, negara-negara Eropa menolak permintaan Trump agar angkatan laut mereka terlibat dalam mengamankan Selat Hormuz selama konflik masih memanas.
Menteri Luar Negeri Jerman Johann Wadephul menyatakan keberatannya terhadap tekanan AS tersebut.
Dia menyebut hingga kini belum ada permintaan spesifik atau dasar hukum yang jelas bagi Jerman untuk bertindak.
"Ini menjengkelkan, harus saya katakan. Saat ini, persyaratan hukum bagi kami untuk operasi semacam itu belum terpenuhi. Dan tidak ada permintaan khusus bagi kami untuk mengambil tindakan saat ini," tutur Wadephul kepada radio Deutschlandfunk.
Baca juga: Spanyol Resmi Tutup Ruang Udara bagi Pesawat Militer AS, Tolak Perang Iran