Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Bukan Cuma Minyak, Gas Langka Ini Jadi Rebutan Dunia Akibat Konflik Timur Tengah

Kompas.com, 31 Maret 2026, 15:51 WIB
Danur Lambang Pristiandaru

Penulis

KOMPAS.com - Konflik Timur Tengah yang berlangsung lebih dari satu bulan tidak hanya mengguncang sektor energi fosil, tetapi juga mulai mencekik pasokan gas helium global. 

Kelangkaan ini mengancam keberlangsungan industri teknologi tinggi mulai dari pembuatan chip akal imitasi (AI) hingga operasional mesin MRI di rumah sakit.

Gas helium, yang selama ini lebih dikenal sebagai pengisi balon pesta, merupakan komponen krusial dalam mendinginkan alat pembuat chip AI dan menjaga magnet superkonduktor pada pemindai MRI tetap berfungsi.

Baca juga: Pasukan Elite AS Tiba di Timur Tengah, Susul Ribuan Marinir ke Dekat Iran

Konflik Timur Tengah dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari.

Iran membalas serangan dan menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi 20 persen meinyak dunia.

Selain krisis minyak, krisis gas helium ini dipicu oleh terhentinya ekspor gas alam dari Qatar, yang menyumbang sekitar sepertiga dari total pasokan helium dunia. 

Hampir seluruh ekspor helium Qatar dikirim melalui Selat Hormuz, jalur perdagangan vital yang kini lumpuh akibat konflik.

Meski perang berakhir dengan cepat, dampaknya diprediksi akan bertahan lama. 

Baca juga: Jepang Akhirnya Terima Minyak Timur Tengah, Lewati Jalur Alternatif

Serangan Iran terhadap kilang gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) Ras Laffan milik Qatar pada awal Maret dilaporkan menyebabkan kerusakan parah.

"Kerusakan tersebut memangkas ekspor helium tahunan Qatar sebesar 14 persen dan membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk diperbaiki," tulis laporan resmi pihak Qatar, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Selasa (30/3/2026).

Ralf Gubler, Direktur Riset di S&P Global Energy yang spesialis dalam gas industri, menilai situasi ini menunjukkan kerentanan dalam ekosistem teknologi modern.

"Kejutan pasokan helium ini menyoroti kerentanan yang lebih dalam pada pembangunan AI: ketergantungan ekstrem pada sejumlah kecil titik (node) yang terpapar risiko geopolitik," ujar Gubler.

Baca juga: Kapal Serbu Amfibi AS Tiba di Timur Tengah, Bersiap Invasi Darat ke Iran?

Harga melonjak dan rebutan pasokan

Kelangkaan ini langsung memicu perang harga di pasar spot. Para pengamat pasar mencatat harga helium telah melonjak lebih dari dua kali lipat. 

Perusahaan-perusahaan yang biasanya bergantung pada kontrak jangka panjang kini berebut untuk mengamankan kargo jangka pendek yang sangat terbatas.

Cliff Cain, Manajer Urusan Komersial dan Eksternal di Pulsar, sebuah perusahaan eksplorasi helium, menyebut situasi ini sebagai ancaman yang selama ini dikhawatirkan oleh industri.

Halaman:


Terkini Lainnya
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Tunggu Serangan Darat AS, Menlu Iran: Mereka Tak Akan Berani
Internasional
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Houthi Tembakkan Rudal ke Israel, Klaim Serangan Gabungan dengan Iran-Hizbullah
Internasional
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Paus Leo XIV Desak Trump Cari Jalan Keluar Perang di Iran
Internasional
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Spesifikasi USS George HW Bush yang Dikirim AS ke Timur Tengah
Internasional
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal 'Nyangkut' di Ruang Mesin
Iran Tembaki Kapal Tanker Qatar, 1 Rudal "Nyangkut" di Ruang Mesin
Internasional
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Trump Ngamuk Perancis Blokir Pesawat AS ke Israel: Kami Akan Mengingatnya
Internasional
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Iran Akui Jalin Kontak dengan AS, tapi Bantah Ada Negosiasi
Internasional
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
China Mulai Terdampak Perang Iran, Bisa Picu Risiko Besar
Internasional
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Berbalik Arah, Uni Emirat Arab Siap Ikut AS Lawan Iran demi Buka Selat Hormuz
Internasional
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Warga AS Ikut Tanggung Dampak Perang, Marah Harga BBM yang Meroket
Internasional
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Trump Akan Tinggalkan Perang Iran meski Tanpa Kesepakatan, Abaikan Masalah Selat Hormuz
Internasional
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Dewan Sains Trump Diisi Para Miliarder Rp 15.000 Triliun, Mengapa Ilmuwan Akademik Tersingkir?
Internasional
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Mengapa Selat Hormuz Sulit Direbut dari Iran?
Internasional
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Israel Dilaporkan Tak Akan Bantu Invasi Darat AS di Iran
Internasional
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Israel Salahkan Hizbullah atas Kematian 3 Prajurit Indonesia di Lebanon
Internasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau