Penulis
KOMPAS.com - Konflik Timur Tengah yang berlangsung lebih dari satu bulan tidak hanya mengguncang sektor energi fosil, tetapi juga mulai mencekik pasokan gas helium global.
Kelangkaan ini mengancam keberlangsungan industri teknologi tinggi mulai dari pembuatan chip akal imitasi (AI) hingga operasional mesin MRI di rumah sakit.
Gas helium, yang selama ini lebih dikenal sebagai pengisi balon pesta, merupakan komponen krusial dalam mendinginkan alat pembuat chip AI dan menjaga magnet superkonduktor pada pemindai MRI tetap berfungsi.
Baca juga: Pasukan Elite AS Tiba di Timur Tengah, Susul Ribuan Marinir ke Dekat Iran
Konflik Timur Tengah dipicu oleh serangan gabungan Amerika Serikat (AS) dan Israel ke Iran pada 28 Februari.
Iran membalas serangan dan menutup Selat Hormuz, jalur penting bagi 20 persen meinyak dunia.
Selain krisis minyak, krisis gas helium ini dipicu oleh terhentinya ekspor gas alam dari Qatar, yang menyumbang sekitar sepertiga dari total pasokan helium dunia.
Hampir seluruh ekspor helium Qatar dikirim melalui Selat Hormuz, jalur perdagangan vital yang kini lumpuh akibat konflik.
Meski perang berakhir dengan cepat, dampaknya diprediksi akan bertahan lama.
Baca juga: Jepang Akhirnya Terima Minyak Timur Tengah, Lewati Jalur Alternatif
Serangan Iran terhadap kilang gas alam cair atau liquefied natural gas (LNG) Ras Laffan milik Qatar pada awal Maret dilaporkan menyebabkan kerusakan parah.
"Kerusakan tersebut memangkas ekspor helium tahunan Qatar sebesar 14 persen dan membutuhkan waktu hingga lima tahun untuk diperbaiki," tulis laporan resmi pihak Qatar, sebagaimana dilansir Wall Street Journal, Selasa (30/3/2026).
Ralf Gubler, Direktur Riset di S&P Global Energy yang spesialis dalam gas industri, menilai situasi ini menunjukkan kerentanan dalam ekosistem teknologi modern.
"Kejutan pasokan helium ini menyoroti kerentanan yang lebih dalam pada pembangunan AI: ketergantungan ekstrem pada sejumlah kecil titik (node) yang terpapar risiko geopolitik," ujar Gubler.
Baca juga: Kapal Serbu Amfibi AS Tiba di Timur Tengah, Bersiap Invasi Darat ke Iran?
Kelangkaan ini langsung memicu perang harga di pasar spot. Para pengamat pasar mencatat harga helium telah melonjak lebih dari dua kali lipat.
Perusahaan-perusahaan yang biasanya bergantung pada kontrak jangka panjang kini berebut untuk mengamankan kargo jangka pendek yang sangat terbatas.
Cliff Cain, Manajer Urusan Komersial dan Eksternal di Pulsar, sebuah perusahaan eksplorasi helium, menyebut situasi ini sebagai ancaman yang selama ini dikhawatirkan oleh industri.