Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Macet di Tempat Wisata Saat Libur Lebaran, Hindari Penggunaan Klakson Berlebihan

Kompas.com, 24 Maret 2026, 18:41 WIB
Muh. Ilham Nurul Karim,
Aditya Maulana

Tim Redaksi

JAKARTA, KOMPAS.com – Momen libur Lebaran identik dengan meningkatnya mobilitas masyarakat, termasuk perjalanan motor menuju berbagai destinasi wisata. Namun, di tengah kepadatan lalu lintas yang sulit dihindari, muncul kebiasaan yang kerap memicu ketegangan di jalan, yakni penggunaan klakson secara berlebihan oleh pengendara motor.

Menurut Agus Sani, kebiasaan membunyikan klakson terus-menerus saat terjebak macet justru berpotensi menimbulkan konflik antar pengendara motor.

Baca juga: Update Arus Balik: One Way Tahap 2 Berlaku Km 390-70 Trans-Jawa

"Penggunaan klakson yang berlebihan, apalagi dalam kondisi macet, bisa memicu emosi pengendara motor lain. Klakson digunakan cukup sebagai alat komunikasi untuk memberi peringatan, bukan untuk meluapkan kekesalan," kata Agus kepada Kompas.com, Senin (23/3/2026).

Ia menjelaskan, dalam situasi padat seperti arus menuju tempat wisata, pengendara motor memiliki ruang gerak terbatas. Membunyikan klakson secara terus-menerus tidak akan membuat motor di depan bergerak lebih cepat.

Sebaliknya, suara klakson yang bersahut-sahutan justru memperkeruh suasana dan meningkatkan potensi kesalahpahaman di jalan. Tidak jarang, hal ini bisa berujung pada adu mulut bahkan konflik fisik antar pengendara motor.

Kemacetan kendaraan terjadi di jalur wisata Puncak, Bogor, Jawa Barat, pada hari ke-3 Idul Fitri 1447 Hijriah atau H+2 Lebaran, Senin (23/3/2026) pagi. Antrean panjang kendaraan terlihat mengular sejak kawasan Simpang Gadog atau selepas Exit GT Ciawi, bahkan nyaris tanpa celah di kedua arah.KOMPAS.COM/AFDHALUL IKHSAN Kemacetan kendaraan terjadi di jalur wisata Puncak, Bogor, Jawa Barat, pada hari ke-3 Idul Fitri 1447 Hijriah atau H+2 Lebaran, Senin (23/3/2026) pagi. Antrean panjang kendaraan terlihat mengular sejak kawasan Simpang Gadog atau selepas Exit GT Ciawi, bahkan nyaris tanpa celah di kedua arah.

Agus juga menekankan pentingnya menjaga etika berkendara motor, terutama di momen Lebaran yang seharusnya menjadi waktu untuk saling menghargai dan menjaga suasana tetap kondusif.

Menurutnya, sikap sabar dan saling menghormati jauh lebih efektif dalam menjaga kelancaran lalu lintas dibandingkan memaksakan jalan dengan klakson.

Selain itu, pengendara motor diimbau untuk tetap fokus, menjaga jarak aman, serta menghindari manuver yang dapat membahayakan pengendara motor lain, terutama di kawasan wisata yang cenderung dipadati kendaraan dari berbagai daerah.

Baca juga: Jangan Sering Pindah Lajur Saat Macet di Tol, Picu Emosi

Dengan mengedepankan etika dan pengendalian emosi, perjalanan motor saat libur Lebaran tidak hanya lebih aman, tetapi juga lebih nyaman bagi semua pengendara motor.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau