BERAU, KOMPAS.com – Perayaan Idulfitri biasanya identik dengan hidangan ketupat di meja makan.
Namun di pusat rehabilitasi satwa di Kalimantan Timur, ketupat justru menjadi media pembelajaran bagi orangutan untuk melatih naluri bertahan hidup di alam liar.
Dua pusat rehabilitasi di Kabupaten Berau, yakni Pusat Penyelamatan Satwa (PPS) Long Sam di Kampung Merasa yang dikelola Conservation Action Network (CAN), serta Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA) yang dikelola Center for Orangutan Protection (COP), menghadirkan inovasi unik dengan membungkus makanan satwa dalam anyaman ketupat.
Di PPS Long Sam, ketupat-ketupat berisi pakan digantung di area bermain (playground), menciptakan tantangan baru bagi empat bayi orangutan yang sedang menjalani tahap awal rehabilitasi.
Alih-alih disuapi atau diberi makan secara langsung, bayi orangutan tersebut harus memanjat, bergelantungan, dan meraih ketupat yang digantung di ketinggian.
Baca juga: Perjuangan Induk Orangutan Rawat Bayi Kembar di Hutan Rusak, Alami Beban Berlipat Ganda
Setelah itu, mereka harus membuka anyaman ketupat untuk mendapatkan makanan di dalamnya.
Pendekatan ini dirancang menyerupai kondisi alami di hutan, di mana orangutan harus berusaha untuk mendapatkan makanan, seperti memetik buah di pucuk pohon.
Founder dan Direktur CAN, Paulinus Kristanto mengatakan, bahwa setiap momen, termasuk hari besar keagamaan, dimanfaatkan sebagai sarana pembelajaran bagi satwa.
"Metode pengayaan (enrichment) ketupat yang kami terapkan di sekolah hutan bertujuan untuk menantang batas kemampuan fisik dan kognitif para bayi orang utan," ujar Paulinus pada Kamis (26/3/2026).
Ia menjelaskan, ketupat sengaja digantung di area bermain untuk mendorong satwa tetap aktif bergerak dan menggunakan kemampuan alaminya.
Baca juga: Bayi Orangutan Ditemukan di Kebun Sawit Kutai Timur Kaltim, Sempat Demam dan Kurus
Lebih dari sekadar aktivitas fisik, proses membuka anyaman ketupat juga menjadi bagian penting dalam melatih keterampilan motorik halus serta kesabaran satwa.
Menurut Paulinus, setiap keberhasilan orangutan dalam menyelesaikan tantangan kecil seperti ini menjadi indikator penting dalam proses rehabilitasi.
"Optimisme kami sederhana, setiap kali mereka berhasil memecahkan tantangan di sekolah hutan, mereka selangkah lebih dekat untuk kembali menjadi penguasa rimba yang mandiri," ucapnya.
Pendekatan serupa juga diterapkan di Bornean Orangutan Rescue Alliance (BORA).
Di pusat rehabilitasi ini, ketupat berisi potongan buah, selai, dan madu digantung di dahan pohon, terutama saat orangutan mengikuti kegiatan sekolah hutan.