Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama

Kompas.com, 1 April 2026, 11:01 WIB
Rachmawati

Editor

BANGKALAN, KOMPAS.com – Masyarakat di sekitar Sungai Tunjung, Kecamatan Burneh, Kabupaten Bangkalan, Jawa Timur, diresahkan dengan kemunculan dua ekor buaya yang masuk ke area halaman sebuah kafe di tepi sungai, Minggu (29/3/2026) malam.

Di tengah upaya petugas menangkap hewan predator tersebut, seorang ibu dan anaknya dilaporkan hilang misterius di aliran sungai yang sama pada Selasa (31/3/2026) dini hari.

Kemunculan Buaya di Halaman Kafe

Camat Burneh, Erwin Yusoef, mengonfirmasi bahwa petugas gabungan dari BPBD dan Pemadam Kebakaran telah diterjunkan ke lokasi untuk mengamankan situasi. Petugas berupaya melakukan evakuasi dengan memasang perangkap di titik-titik kemunculan buaya.

"Dari kemarin kita pasang perangkap, namun sampai tadi malam masih belum mendapatkan hasil," ujar Erwin saat dikonfirmasi, Selasa (31/3/2026).

Erwin menjelaskan bahwa dirinya melihat langsung keberadaan predator tersebut. Ada dua ekor buaya dengan ukuran yang berbeda yang kerap menampakkan diri.

Baca juga: Ibu dan Anak di Bangkalan Hilang Misterius, Tas dan Sendal Ditemukan di Tepi Sungai Tempat Buaya Muncul

"Jadi itu buayanya ada dua. Yang satu ukurannya lebih satu meter dan satunya lebih kecil tidak sampai satu meter," ungkap Erwin.

Berdasarkan laporan warga, buaya tersebut sempat naik ke daratan dan berjalan di area halaman kafe. Meski belum ada laporan mengenai serangan terhadap manusia, pihak berwenang tetap meningkatkan kewaspadaan.

Koordinasi dengan KKP dan Kekhawatiran Warga

Buaya muncul di halaman cafe yang ada di tepi sungai TunjungKOMPAS.com / Repro (rahem) Buaya muncul di halaman cafe yang ada di tepi sungai Tunjung
Kepala Pelaksana (Kalaksa) BPBD Kabupaten Bangkalan, M. Zainul Qomar, menyatakan akan berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terkait temuan reptil ini.

"Kita akan koordinasi, dan sejauh ini upaya yang kita lakukan dengan cara memasang perangkap di dekat sarangnya supaya warga juga tidak resah," tutur Zainul.

Ketakutan warga cukup beralasan. Salah satu warga setempat, Qomariyah, mengaku khawatir jika ada induk buaya yang berukuran lebih besar yang masih bersembunyi. Terlebih, pemukiman warga hanya berjarak sekitar 3 meter dari bibir sungai.

"Itu kan dua anaknya ya. Takutnya ada induknya yang lebih besar dan masuk ke pemukiman. Semoga bisa segera ditemukan dan dievakuasi," kata Qomariyah.

Baca juga: Dua Ekor Buaya Muncul dari Sungai di Bangkalan, Petugas Gabungan Pasang Perangkap

Misteri Hilangnya Ibu dan Anak di Aliran Sungai

Di tengah upaya perburuan buaya, dilaporkan seorang ibu berinisial SR (35) dan anaknya IB (8) hilang setelah meninggalkan rumah mereka di Kecamatan Burneh pada Selasa pukul 03.00 WIB.

Keluarga korban menemukan barang-barang pribadi milik SR di tepi aliran atas Sungai Tunjung, berupa:

  • Tas ransel berisi pakaian
  • Satu pasang sandal

Anehnya, ponsel dan dompet berisi kartu identitas serta uang tunai yang dibawa korban tidak ditemukan di lokasi tersebut. Pihak keluarga sempat mencoba menghubungi nomor telepon korban pada pukul 06.00 WIB, namun panggilan ditolak (reject) dan tak lama kemudian nomor tersebut menjadi tidak aktif.

Baca juga: Warga Bangkalan Didakwa Cuci Uang Puluhan Miliar Rupiah Bersama Kades Berstatus Buron

Proses Pencarian dan Tim SAR

Kekhawatiran keluarga memuncak karena lokasi penemuan barang korban berada di aliran sungai yang beberapa hari terakhir menjadi tempat munculnya dua ekor buaya. Namun, hingga kini belum ada saksi mata yang melihat kedua korban jatuh ke sungai.

Halaman:


Terkini Lainnya
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
WFH Jumat di Kota Blitar, ASN Harus Absen dan Lapor Progres Kerja
Surabaya
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
ASN Kota Batu WFH Setiap Jumat, Pemkot Juga Buka Opsi Bersepeda ke Kantor
Surabaya
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Ikuti Arahan Pusat, Pemprov Jatim Siapkan Skema Pemangkasan Perjalanan Dinas
Surabaya
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Sopir Truk Blokade Jalur ke Pelabuhan Ketapang, Kesal Aksi Serobot Antrean
Surabaya
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Kronologi Pengunjung Mikutopia Pingsan saat Antre Tiket hingga Meninggal, Punya Riwayat Darah Tinggi
Surabaya
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Eri Cahyadi Marah TPS di Surabaya Jadi Parkir Gerobak hingga Rongsokan
Surabaya
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
BBM Aman tapi Warga Tetap Antre: Kisah Cemas di SPBU Jatim
Surabaya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Pondok Gontor Larang Pengajar di Bawah 30 Tahun Naik Motor, Ini Aturan Lengkapnya
Surabaya
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Skema Dirombak, Pemkab Sumenep Pindah WFH ke Jumat
Surabaya
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Hari Pertama WFH, Khofifah Larang ASN Jatim Nonaktifkan Ponsel
Surabaya
Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama
Teror Buaya di Sungai Tunjung Bangkalan dan Misteri Hilangnya Ibu Anak di Lokasi yang Sama
Surabaya
Beda Petis Madura dan Petis Surabaya, dari Bahan Baku, Tekstur, hingga Sejarahnya
Beda Petis Madura dan Petis Surabaya, dari Bahan Baku, Tekstur, hingga Sejarahnya
Surabaya
Tabrak Truk Parkir, Ibu dan Balita di Jombang Tewas
Tabrak Truk Parkir, Ibu dan Balita di Jombang Tewas
Surabaya
7 ASN Kota Pasuruan Bolos Hari Pertama Kerja, Ancaman Sanksi Menanti
7 ASN Kota Pasuruan Bolos Hari Pertama Kerja, Ancaman Sanksi Menanti
Surabaya
Hemat BBM, ASN Pamekasan Diminta Bersepeda, Model WFH Masih Dibahas
Hemat BBM, ASN Pamekasan Diminta Bersepeda, Model WFH Masih Dibahas
Surabaya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau