Starlink Terpapar Gelombang Geomagnetik Luar Biasa Selama Badai Matahari

Kompas.com, 15 Mei 2024, 16:00 WIB
Reska K. Nistanto

Editor

Sumber Reuters

KOMPAS.com - Elon Musk mengatakan, layanan internet satelit miliknya, Starlink berada dalam tingkat tekanan tinggi selama badai Matahari berlangsung, pada minggu lalu.

Badai Matahari yang terjadi pada 10-12 Mei 2024 disebut sebagai yang terbesar setelah beberapa lama, dan bisa mengganggu koneksi internet Starlink.

Meski demikian, Elon Musk melalui akun X/Twitter pribadinya mengeklaim sejauh ini layanan satelit Starlink masih bisa bertahan.

Berbeda dengan internet kabel, Starlink menggunakan medium gelombang udara untuk mentransmisikan internet.

Baca juga: Perbedaan Internet Satelit dan Internet Kabel, Starlink Vs IndiHome-Biznet dkk

Karena itu, gangguan cuaca seperti hujan deras, badai, hingga badai Matahari bisa memengaruhi kualitas sinyal internet Starlink.

Sepanjang badai Matahari berlangsung, Bumi dihantam oleh badai gelombang geomagnetik, dan badai Matahari yang berlangsung pada minggu lalu itu disebut-sebut sebagai yang terbesar dalam dua dekade terakhir.

Badan Kelautan dan Atmosfer Nasional AS (National Oceanic and Atmospheric Administration) mengatakan bahwa badai ini merupakan badai terbesar sejak Oktober 2003 dan kemungkinan besar akan berlangsung selama sepekan, sehingga menimbulkan risiko pada sistem navigasi, jaringan listrik, dan navigasi satelit, serta layanan-layanan lainnya.

Sementara menurut Koordinator Bidang Geofisika Potensial Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Muhamad Syirojudin, gangguan magnet Bumi mengakibatkan komunikasi berbasis satelit menjadi sulit tersambung.

Baca juga: Cerita Orang Bandung dan Jaksel Pakai Internet Starlink Elon Musk, Kecepatan Tembus 300 Mbps

“Untuk wilayah Indonesia sendiri karena berada di wilayah ekuator mungkin dampaknya gangguan pada beberapa komunikasi berbasis satelit," ujar Syirojudin kepada Kompas.com.

“Untuk sumber gangguannya dari faktor aktivitas Matahari, yaitu lontaran massa korona,” lanjutnya.

Dikutip KompasTekno dari Reuters, Rabu (15/5/2024), Starlink memiliki sekitar 60 persen dari sekitar 7.500 satelit yang mengorbit Bumi, dan merupakan pemain dominan dalam internet satelit.

Ribuan satelit Starlink yang berada di orbit rendah (LEO) Bumi menggunakan sambungan laser antar-satelit untuk mengirimkan data antara satu sama lain di luar angkasa dengan kecepatan cahaya, sehingga memungkinkan jaringan ini menawarkan jangkauan internet di seluruh dunia.

 
 
 
View this post on Instagram
 
 
 

A post shared by Kompas.com (@kompascom)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau