Bos Schneider Ungkap Ironi AI, Boros Listrik tapi Bisa Jadi Solusi Hijau

Kompas.com, 22 Mei 2025, 09:09 WIB
Galuh Putri Riyanto,
Reza Wahyudi

Tim Redaksi

TAIPEI, KOMPAS.com – Kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) selama ini dikenal sebagai teknologi yang haus daya.

Dari pelatihan model AI generatif seperti ChatGPT hingga pengolahan data di pusat data raksasa, semuanya memerlukan listrik dalam jumlah besar.

Namun, di balik fakta tersebut, ada satu ironi, yakni AI bisa menjadi alat untuk menyelesaikan masalah energi, bukan hanya menjadi bagian dari masalah itu sendiri.

Setidaknya begitulah menurut Pankaj Sharma, Executive Vice President Secure Power Division Schneider Electric, dalam sesi keynote di pameran teknologi Computex 2025 di Taipei, Taiwan.

"AI tidak hanya memakan listrik, tapi juga bisa membantu kita menghematnya," kata Sharma di Taipei Nangang Exhibition, Rabu (21/5/2025), seperti dilaporkan jurnalis KOMPAS.com Galuh Putri Riyanto.

Baca juga: Schneider Electric Beri Panduan untuk Memaksimalkan Potensi Data Center dan AI

AI = Boros Listrik?

Salah satu pelanggan Schneider, memanfaatkan AI untuk mengelola sistem HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning) secara otomatis. Hasilnya, pelanggan bisa mengurangi konsumsi listrik hingga 9 persen.KOMPAS.com/ Galuh Putri Riyanto Salah satu pelanggan Schneider, memanfaatkan AI untuk mengelola sistem HVAC (Heating, Ventilation, and Air Conditioning) secara otomatis. Hasilnya, pelanggan bisa mengurangi konsumsi listrik hingga 9 persen.
Tak bisa dimungkiri, pertumbuhan pesat AI membuat konsumsi energi pusat data (data center) melonjak drastis.

Per April 2024, IEA (International Energy Agency) memperkirakan bahwa pusat data yang AI-ready akan menggunakan 945 terawatt-hours (TWh) pada 2030. Angka ini kira-kira setara dengan konsumsi listrik tahunan Jepang saat ini.

Sebagai perbandingan, pusat data mengkonsumsi 415 TWh pada 2024, sekitar 1,5 persen dari total konsumsi listrik dunia.

IEA sendiri adalah organisasi internasional yang berfokus pada energi yang berkelanjutan, terjangkau, dan aman.

Sementara, menurut Sharma, di era booming AI sekarang, beban daya per rak di pusat data AI bisa mencapai 1 megawatt atau setara dengan memberi daya sekitar 800 hingga 1.000 rumah rata-rata di AS selama setahun, dengan asumsi rata-rata rumah tangga mengkonsumsi sekitar 1.200 kWh per bulan. 

Angka kebutuhan energi untuk data center AI ini naik puluhan kali lipat dari standar lama yang berkisar 15 kilowatt hingga 20 kilowatt per rak.

Jumlah rak di pusat data sangat bervariasi tergantung pada ukuran dan kapasitas fasilitas. Pusat data biasa mungkin memiliki ratusan atau bahkan ribuan rak, sedangkan fasilitas yang lebih kecil hanya bisa memiliki beberapa rak.

Ledakan AI ini menciptakan kekhawatiran global, mengingat sebagian besar data center masih bergantung pada sumber listrik konvensional. Jika tidak dikelola dengan baik, adopsi AI bisa memperburuk jejak karbon sektor digital.

Jejak karbon atau carbon footprint sendiri adalah jumlah emisi karbon dioksida (CO2) yang dihasilkan dari seluruh aktivitas seseorang atau entitas lain, termasuk gedung, perusahaan, negara, penyedia layanan digital, dan lainnya.

Hal ini menjadi perhatian tersendiri mengingat carbon footprint berdampak negatif pada lingkungan, termasuk berkontribusi pada terjadinya perubahan iklim di bumi. Alhasil, kini banyak perusahaan, termasuk di teknologi punya cita-cita mencapai net-zero emission (nol-karbon) setidaknya dalam 10 tahun ke depan.

Baca juga: Schneider Electric Siapkan “Penurun Panas” untuk Data Center Pelayan AI

Halaman:
Baca tentang


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau