
Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com
Di tengah ketenangan kawasan hunian Perumahan Griya Santa di Lowokwaru, berdiri sebuah bangunan yang seolah memelihara percakapan panjang antara masa lalu dan masa kini, yaitu Museum Mpu Purwa.
Dari luar, ia tampak sederhana, tidak berada di jalur wisata utama, tidak pula berdesain monumental seperti museum-museum negara.
Namun, di dalamnya tersimpan jejak panjang peradaban Malang Raya, khususnya dari era Hindu-Buddha, yang secara perlahan menyingkap narasi tentang kontinuitas sejarah Jawa Timur dari Kanjuruhan hingga Majapahit.
Baca juga: Sekarang 2026, Negara Ini Ternyata Masih Tahun 2018, Kok Bisa?
Ganesha tikus, Museum Mpu Purwa, Griyasanta, Malang. (Foto: Parlin Pakpahan)Selama bertahun-tahun, berbagai media nasional kerap menyebut museum ini hanya memiliki sekitar 132 koleksi artefak. Angka itu kini terasa usang.
Menurut pengelola Manuel Da Silva, jumlah koleksi telah melampaui seribu item, sebuah lonjakan signifikan yang mencerminkan bertambahnya temuan arkeologis serta penghimpunan artefak dari berbagai situs di Malang Raya.
Arca, prasasti, fragmen bangunan, hingga artefak batu kini ditata lebih sistematis dan dilengkapi panel informasi serta kode digital yang dapat dipindai pengunjung. Museum ini pelan-pelan bergerak dari sekadar ruang penyimpanan benda purbakala menjadi ruang tafsir sejarah.
Baca juga: KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo
Salah satu artefak yang paling memikat adalah Arca Ganesha Tikus, arca yang diyakini satu-satunya di Indonesia yang menggambarkan Ganesha menunggang tikus. Dalam ikonografi Hindu, tikus memang dikenal sebagai wahana (kendaraan) Ganesha, tetapi jarang sekali divisualisasikan secara eksplisit dalam arca Nusantara.
Keunikan ini menjadikan arca tersebut bukan hanya objek seni religius, melainkan juga bukti keragaman ekspresi lokal dalam tradisi Hindu Jawa. Arca ini dihibahkan oleh seorang warga Rampal Celaket, menandakan sejarah sering kali bertahan bukan di pusat kekuasaan, melainkan di halaman-halaman rumah warga yang menyimpannya secara turun-temurun.
Keterangan tentang Ganesha tikus, Museum Mpu Purwa, Griyasanta, Malang. (Foto: Parlin Pakpahan)Koleksi arca lain memperlihatkan spektrum religius Jawa Timur klasik : Siwa, Nandiswara, Resi Guru, Durga Mahisasuramardini, hingga Suramardini. Sebagian besar berasal dari konteks Singasari-Majapahit, periode ketika sinkretisme Siwa--Buddha mencapai bentuk matang di Jawa Timur.
Sebuah arca Bodhisattwa dari masa Majapahit, misalnya, menampilkan ciri meditasi dengan prabhamandala di belakang kepala, lingkar cahaya yang menandakan kesucian spiritual. Ia bukan sekadar patung, tetapi representasi kosmologi tentang manusia yang melampaui dunia profan menuju kesadaran transenden.
Baca juga: Tiket Kereta Ekonomi Kerakyatan Sudah Bisa Dipesan, Harga Mulai Rp 175.000
Di lantai dua, terdapat arca yang secara ikonografis sangat penting Arca Nadwayamudra atau Dewi Sri Laksmi, ditemukan di kawasan Muharto, Jodipan. Dewi berdiri tegak sambil memegang bagian dada yang berfungsi sebagai pancuran air, suatu bentuk yang berkaitan dengan patirthan, tempat pemandian suci dalam tradisi Hindu Jawa.
Arca sejenis ditemukan di Petirtaan Belahan dan Goa Gajah, menegaskan Malang Raya berada dalam jaringan sakralitas air yang luas di Nusantara klasik. Air dalam kosmologi Hindu bukan sekadar unsur alam, melainkan medium pemurnian spiritual dan simbol kesuburan. Dengan demikian, arca Laksmi di Mpu Purwa tidak hanya menceritakan religiositas lokal, tetapi juga hubungan manusia Jawa dengan lanskap suci.
Ganesha, Museum Mpu Purwa, Griyasanta, Malang. (Foto: Parlin Pakpahan)Namun artefak paling krusial bagi rekonstruksi sejarah Malang Raya bukanlah arca, melainkan prasasti Widodaren, Muncang dan Dinoyo. Dalam historiografi Indonesia kuno, prasasti merupakan sumber primer untuk memahami kronologi, struktur kekuasaan dan kosmologi politik kerajaan.
Prasasti Dinoyo khususnya penting karena menyebut Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke-8 - salah satu bukti tertua keberadaan negara terorganisasi di Malang. Prasasti Dinoyo yang berada di museum merupakan yang kedua; prasasti asli yang pertama masih berada di lokasi temuan karena sulit dipindahkan tanpa risiko kerusakan.
Sayangnya, hingga kini ketiga prasasti utama tersebut belum dilengkapi penjelasan rinci yang memadai di museum. Padahal di dalamnya tersimpan kemungkinan besar untuk menautkan garis sejarah Kanjuruhan dengan Tumapel-Singasari-Majapahit.
Baca juga: Menu Sahur yang Gak Bikin Cepat Haus Saat Puasa Menurut Ahli Gizi