Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Parlin Pakpahan
Penulis di Kompasiana

Kompasiana sendiri merupakan platform opini yang berdiri sejak tahun 2008. Siapapun bisa membuat dan menayangkan kontennya di Kompasiana.

Museum Mpu Purwa, Penjaga Sunyi Jejak Kanjuruhan hingga Majapahit di Malang Raya

Kompas.com, 26 Februari 2026, 07:52 WIB
Kompasianer Parlin Pakpahan,
Ayunda Pininta Kasih

Tim Redaksi

Konten ini merupakan kerja sama dengan Kompasiana, setiap artikel menjadi tanggung jawab penulis dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.com

Di tengah ketenangan kawasan hunian Perumahan Griya Santa di Lowokwaru, berdiri sebuah bangunan yang seolah memelihara percakapan panjang antara masa lalu dan masa kini, yaitu Museum Mpu Purwa. 

Dari luar, ia tampak sederhana, tidak berada di jalur wisata utama, tidak pula berdesain monumental seperti museum-museum negara.

Namun, di dalamnya tersimpan jejak panjang peradaban Malang Raya, khususnya dari era Hindu-Buddha, yang secara perlahan menyingkap narasi tentang kontinuitas sejarah Jawa Timur dari Kanjuruhan hingga Majapahit.

Baca juga: Sekarang 2026, Negara Ini Ternyata Masih Tahun 2018, Kok Bisa?

Ganesha tikus, Museum Mpu Purwa, Griyasanta, Malang. (Foto: Parlin Pakpahan)Kompasiana Ganesha tikus, Museum Mpu Purwa, Griyasanta, Malang. (Foto: Parlin Pakpahan)

Selama bertahun-tahun, berbagai media nasional kerap menyebut museum ini hanya memiliki sekitar 132 koleksi artefak. Angka itu kini terasa usang.

Menurut pengelola Manuel Da Silva, jumlah koleksi telah melampaui seribu item, sebuah lonjakan signifikan yang mencerminkan bertambahnya temuan arkeologis serta penghimpunan artefak dari berbagai situs di Malang Raya. 

Arca, prasasti, fragmen bangunan, hingga artefak batu kini ditata lebih sistematis dan dilengkapi panel informasi serta kode digital yang dapat dipindai pengunjung. Museum ini pelan-pelan bergerak dari sekadar ruang penyimpanan benda purbakala menjadi ruang tafsir sejarah.

Baca juga: KAI Wisata Hadirkan Kereta Panoramic Rute Jakarta–Yogyakarta dan Solo

Salah satu artefak yang paling memikat adalah Arca Ganesha Tikus, arca yang diyakini satu-satunya di Indonesia yang menggambarkan Ganesha menunggang tikus. Dalam ikonografi Hindu, tikus memang dikenal sebagai wahana (kendaraan) Ganesha, tetapi jarang sekali divisualisasikan secara eksplisit dalam arca Nusantara. 

Keunikan ini menjadikan arca tersebut bukan hanya objek seni religius, melainkan juga bukti keragaman ekspresi lokal dalam tradisi Hindu Jawa. Arca ini dihibahkan oleh seorang warga Rampal Celaket, menandakan sejarah sering kali bertahan bukan di pusat kekuasaan, melainkan di halaman-halaman rumah warga yang menyimpannya secara turun-temurun.

Keterangan tentang Ganesha tikus, Museum Mpu Purwa, Griyasanta, Malang. (Foto: Parlin Pakpahan)Kompasiana Keterangan tentang Ganesha tikus, Museum Mpu Purwa, Griyasanta, Malang. (Foto: Parlin Pakpahan)

Koleksi arca lain memperlihatkan spektrum religius Jawa Timur klasik : Siwa, Nandiswara, Resi Guru, Durga Mahisasuramardini, hingga Suramardini. Sebagian besar berasal dari konteks Singasari-Majapahit, periode ketika sinkretisme Siwa--Buddha mencapai bentuk matang di Jawa Timur. 

Sebuah arca Bodhisattwa dari masa Majapahit, misalnya, menampilkan ciri meditasi dengan prabhamandala di belakang kepala, lingkar cahaya yang menandakan kesucian spiritual. Ia bukan sekadar patung, tetapi representasi kosmologi tentang manusia yang melampaui dunia profan menuju kesadaran transenden.

Baca juga: Tiket Kereta Ekonomi Kerakyatan Sudah Bisa Dipesan, Harga Mulai Rp 175.000

Di lantai dua, terdapat arca yang secara ikonografis sangat penting Arca Nadwayamudra atau Dewi Sri Laksmi, ditemukan di kawasan Muharto, Jodipan. Dewi berdiri tegak sambil memegang bagian dada yang berfungsi sebagai pancuran air, suatu bentuk yang berkaitan dengan patirthan, tempat pemandian suci dalam tradisi Hindu Jawa. 

Arca sejenis ditemukan di Petirtaan Belahan dan Goa Gajah, menegaskan Malang Raya berada dalam jaringan sakralitas air yang luas di Nusantara klasik. Air dalam kosmologi Hindu bukan sekadar unsur alam, melainkan medium pemurnian spiritual dan simbol kesuburan. Dengan demikian, arca Laksmi di Mpu Purwa tidak hanya menceritakan religiositas lokal, tetapi juga hubungan manusia Jawa dengan lanskap suci.

Ganesha, Museum Mpu Purwa, Griyasanta, Malang. (Foto: Parlin Pakpahan)Kompasiana Ganesha, Museum Mpu Purwa, Griyasanta, Malang. (Foto: Parlin Pakpahan)

Namun artefak paling krusial bagi rekonstruksi sejarah Malang Raya bukanlah arca, melainkan prasasti Widodaren, Muncang dan Dinoyo. Dalam historiografi Indonesia kuno, prasasti merupakan sumber primer untuk memahami kronologi, struktur kekuasaan dan kosmologi politik kerajaan. 

Prasasti Dinoyo khususnya penting karena menyebut Raja Gajayana dari Kerajaan Kanjuruhan pada abad ke-8 - salah satu bukti tertua keberadaan negara terorganisasi di Malang. Prasasti Dinoyo yang berada di museum merupakan yang kedua; prasasti asli yang pertama masih berada di lokasi temuan karena sulit dipindahkan tanpa risiko kerusakan.

Sayangnya, hingga kini ketiga prasasti utama tersebut belum dilengkapi penjelasan rinci yang memadai di museum. Padahal di dalamnya tersimpan kemungkinan besar untuk menautkan garis sejarah Kanjuruhan dengan Tumapel-Singasari-Majapahit. 

Baca juga: Menu Sahur yang Gak Bikin Cepat Haus Saat Puasa Menurut Ahli Gizi

Halaman:


Terkini Lainnya
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Liburan Sambil Peduli Bumi, Ini 7 Wisata Ramah Lingkungan di Indonesia
Travel Ideas
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Setelah 20 Tahun Gratis, Inggris Kaji Tiket Masuk Museum untuk Turis
Travel News
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Berburu Jejak BTS di Korea Selatan, dari Gang Sempit hingga Pantai Ikonik
Travel News
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Rekomendasi 7 Obyek Wisata di Bukit Sekipan Tawangmangu, Cocok Untuk Keluarga
Travel Ideas
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Rekomendasi 7 Tempat Wisata di Malang Raya, Banyak Pemandangan Alam
Travel Ideas
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Labuan Bajo Bakal Hening 9 Jam Saat Jumat Agung 2026, Apa Itu?
Travel News
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
3 April 2026 Libur Apa? Bisa Lanjut Long Weekend
Travel News
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Bandara Internasional Palm Beach akan Ganti Nama Jadi Bandara Donald Trump
Travel News
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Daftar Libur April 2026, Ada Long Weekend
Travel News
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Penumpang Trans Jatim Malang Raya Melonjak Saat Libur Lebaran, Kota Batu Jadi Favorit
Travel News
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Jatiluwih Bali Panen Turis Saat Libur Lebaran 2026, Diserbu 7.983 Wisatawan
Travel News
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Jadi Situs Warisan Dunia UNESCO, Ini 8 Fakta Menarik Taman Nasional Komodo
Travelpedia
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Ada dari Indonesia! Ini Daftar Pantai Terbaik Asia Tenggara Versi Conde Nast Traveler
Travel News
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Kasus Amsal Sitepu Picu Aturan Baru, Standar Biaya Kretif Desa Wisata Akan Diatur
Travel News
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Lebih dari 100 Persen Tiket KA Jarak Jauh Terjual Selama Lebaran 2026
Travel News
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar di Artikel Lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau