KOMPAS.COM - Siapa sangka di tengah riuhnya pusat kota Yogyakarta, tepatnya di belakang kemegahan Masjid Gedhe Kauman, terdapat sebuah oase ketenangan yang unik?
Kalau kamu biasanya terbiasa dengan suara bising knalpot dan kepulan asap kendaraan, bersiaplah untuk terpukau dengan suasana berbeda di Kampung Kauman.
Berdasarkan laporan mendalam dari Kompas.com dalam artikel bertajuk "Matikan Mesin dan Tuntun Motornya, Aturan di Kauman Kampung Pedestrian", kampung ini punya aturan main sendiri yang bikin siapa pun merasa kembali ke masa lalu.
Yogyakarta memang nggak pernah kehabisan cerita soal budaya dan tata kramanya. Salah satu manifestasi nyata dari adab tersebut bisa kamu temukan di Kampung Kauman.
Kampung yang terletak di Kelurahan Ngupasan, Kapanewon Gondomanan ini dikenal sebagai kampung pedestrian sejati.
Bukan karena jalanannya ditutup total, tapi karena ada sebuah kesepakatan tak tertulis namun dijunjung tinggi "kendaraan bermotor tidak boleh menyala saat melintasi gang-gang sempitnya."
Baca juga: Libur Lebaran di Atlantis Ancol, Ada Water Games hingga Fly Board Show
Suasana Kampung Kauman pada Kamis (30/10/2025)Begitu kamu memasuki gerbang Kampung Kauman, kamu akan disambut oleh papan pengumuman yang meminta pengendara untuk mematikan mesin. Ini bukan sekadar himbauan formalitas, tapi sudah menjadi nafas kehidupan warga setempat.
Melansir dari Kompas.com, aturan ini bertujuan untuk menjaga kekhusyukan lingkungan, mengingat Kauman adalah kampung santri yang erat dengan kegiatan ibadah dan pembelajaran agama.
Tokoh masyarakat Kampung Kauman, Azman Latief, menjelaskan bahwa larangan mengendarai kendaraan di kampung tersebut sudah ada sejak ia masih kecil, sekitar tahun 1960-an.
“Waktu saya kecil itu di enggak ada di jalan-jalan, waktu itu masih sepeda. Sepeda itu dinaiki,” ungkapnya pada Kamis (30/10/2025).
Azman menambahkan, hanya satu profesi yang diperbolehkan menggunakan sepeda di Kampung Kauman pada masa itu, yaitu tukang pos yang mengantarkan surat.
Ia juga mencatat bahwa banyak warga yang tidak menyadari bahwa tanah yang mereka lewati telah diwakafkan, sehingga mereka merasa sungkan untuk menaiki sepeda.
“Jadi orang sungkan menaikki sepeda,” kata dia.
“Sejak saya kecil (tahun) 60-an sudah seperti itu, sepeda sudah dituntun tidak dinaiki di kampung-kampung,” ucapnya.