Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Jalan Tol Bertambah Tapi Jadebotabek Makin Macet, Apa Penyebabnya?

Kompas.com, 17 Maret 2026, 09:10 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

JAKARTA, KOMPAS.com - Jaringan jalan tol Jabodetabek dianggap tengah berada di titik jenuh yang mengkhawatirkan.

Dalam Forum Group Discussion (FGD) Penanganan Kepadatan Lalu Lintas Tol Jadebotabek yang digelar Senin (16/3/2026), Henry Armijaya dan LB Budi Prasetyo dari Program Studi Teknik Sipil ITSB memaparkan fakta-fakta yang menjelaskan mengapa kemacetan di Jakarta dan sekitarnya semakin sulit terurai meskipun ruas jalan terus bertambah.

Menurut mereka, inti persoalannya adalah ketidakseimbangan beban lalu lintas yang dipicu oleh disparitas tarif dan pola perjalanan yang masih sangat tersentralisasi ke arah Jakarta.

Baca juga: Antisipasi Macet, Dua Ruas Tol Jadi Buffer Zone Mudik Lebaran

Salah satu temuan paling krusial dalam kajian ITSB adalah besarnya disparitas tarif per kilometer antar-ruas tol.

Kondisi ini menciptakan perilaku pengemudi yang cenderung mencari rute dengan tarif terendah, meskipun harus menempuh jarak lebih jauh atau melewati titik kemacetan.

Sistem tarif yang ada saat ini dianggap belum mampu berfungsi sebagai instrumen manajemen permintaan (demand management).

Akibatnya, terjadi penumpukan beban lalu lintas yang ekstrem di ruas-ruas tertentu, sementara ruas lain tidak termanfaatkan secara optimal.

Baca juga: Jogyakarta Outer Ring Road Jadi Solusi Macet Parah DIY

"Penanganan terkait disparitas tarif sangat mendesak untuk meningkatkan distribusi beban lalu lintas yang seimbang. Kita membutuhkan intervensi regulator untuk mengembangkan tarif berbasis wilayah dan waktu," tegas Henry.

Pembatasan Angkutan Barang

Kajian ITSB menyimulasikan tiga skenario kebijakan untuk meningkatkan kinerja jaringan jalan.

Fokus utamanya adalah pada operasional kendaraan berat (angkutan barang) yang seringkali dituding sebagai penyebab rendahnya kecepatan rata-rata di jalan tol.

Skenario 1: Larangan angkutan barang melintas 24 jam di Tol Dalam Kota (Cawang-Tomang) dan ruas Jakarta-Tangerang (Kembangan-Tomang).

Skenario 2: Menambahkan pembatasan operasional di Tol JORR (Kampung Rambutan-Kembangan-PIK) pada jam sibuk (05.00-22.00).

Baca juga: Hindari Terjebak Macet Mudik, Pantau Lalin Lewat 1.351 CCTV

Skenario 3: Pengetatan menyeluruh pada seluruh jaringan utama yang membatasi pergerakan logistik masuk ke inti kota secara masif.

Henry menjelaskan, pengaruh JORR terhadap kinerja jaringan jalan sangat dominan. Namun, pembatasan angkutan barang tidak bisa berdiri sendiri.

Ia harus dibarengi dengan perbaikan kinerja operasional moda logistik lainnya agar tidak menghambat arus barang nasional.

Halaman:


Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau