Penulis
JAKARTA, KOMPAS.com - Jaringan jalan tol Jabodetabek dianggap tengah berada di titik jenuh yang mengkhawatirkan.
Dalam Forum Group Discussion (FGD) Penanganan Kepadatan Lalu Lintas Tol Jadebotabek yang digelar Senin (16/3/2026), Henry Armijaya dan LB Budi Prasetyo dari Program Studi Teknik Sipil ITSB memaparkan fakta-fakta yang menjelaskan mengapa kemacetan di Jakarta dan sekitarnya semakin sulit terurai meskipun ruas jalan terus bertambah.
Menurut mereka, inti persoalannya adalah ketidakseimbangan beban lalu lintas yang dipicu oleh disparitas tarif dan pola perjalanan yang masih sangat tersentralisasi ke arah Jakarta.
Baca juga: Antisipasi Macet, Dua Ruas Tol Jadi Buffer Zone Mudik Lebaran
Salah satu temuan paling krusial dalam kajian ITSB adalah besarnya disparitas tarif per kilometer antar-ruas tol.
Kondisi ini menciptakan perilaku pengemudi yang cenderung mencari rute dengan tarif terendah, meskipun harus menempuh jarak lebih jauh atau melewati titik kemacetan.
Sistem tarif yang ada saat ini dianggap belum mampu berfungsi sebagai instrumen manajemen permintaan (demand management).
Akibatnya, terjadi penumpukan beban lalu lintas yang ekstrem di ruas-ruas tertentu, sementara ruas lain tidak termanfaatkan secara optimal.
Baca juga: Jogyakarta Outer Ring Road Jadi Solusi Macet Parah DIY
"Penanganan terkait disparitas tarif sangat mendesak untuk meningkatkan distribusi beban lalu lintas yang seimbang. Kita membutuhkan intervensi regulator untuk mengembangkan tarif berbasis wilayah dan waktu," tegas Henry.
Kajian ITSB menyimulasikan tiga skenario kebijakan untuk meningkatkan kinerja jaringan jalan.
Fokus utamanya adalah pada operasional kendaraan berat (angkutan barang) yang seringkali dituding sebagai penyebab rendahnya kecepatan rata-rata di jalan tol.
Skenario 1: Larangan angkutan barang melintas 24 jam di Tol Dalam Kota (Cawang-Tomang) dan ruas Jakarta-Tangerang (Kembangan-Tomang).
Skenario 2: Menambahkan pembatasan operasional di Tol JORR (Kampung Rambutan-Kembangan-PIK) pada jam sibuk (05.00-22.00).
Baca juga: Hindari Terjebak Macet Mudik, Pantau Lalin Lewat 1.351 CCTV
Skenario 3: Pengetatan menyeluruh pada seluruh jaringan utama yang membatasi pergerakan logistik masuk ke inti kota secara masif.
Henry menjelaskan, pengaruh JORR terhadap kinerja jaringan jalan sangat dominan. Namun, pembatasan angkutan barang tidak bisa berdiri sendiri.
Ia harus dibarengi dengan perbaikan kinerja operasional moda logistik lainnya agar tidak menghambat arus barang nasional.