Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Rest Area KM 57 dan 62 Bikin Macet Mudik, Menteri PU Bakal Tata Ulang

Kompas.com, 28 Maret 2026, 11:48 WIB
Hilda B Alexander

Penulis

BREBES, KOMPAS.com – Puncak arus balik Lebaran 2026 yang diprediksi jatuh pada 28-29 Maret ini menjadi ujian sesungguhnya bagi infrastruktur jalan tol.

Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, turun langsung memastikan bahwa perjalanan jutaan pemudik tidak terhambat oleh lubang jalan maupun penyebab kemacetan Rest Area.

Menurutnya, tantangan terbesar di lapangan saat ini bukan hanya soal volume kendaraan, melainkan cuaca ekstrem.

Intensitas hujan yang tinggi, berpadu dengan beban kendaraan berat, secara alami melahirkan lubang-lubang baru (potholes) yang mengintai keselamatan.

Baca juga: Tol Cisumdawu Retak, Lalu Lintas Tetap Aman Terkendali

Dody menegaskan bahwa pihaknya tidak memberikan toleransi bagi jalan rusak selama periode krusial ini.

"Instruksi saya jelas: begitu ada lubang, dalam waktu 1x24 jam harus langsung ditambal. Saya monitor terus, seperti di ruas Cirebon-Bandung yang kemarin saya temukan titik lubang, hari ini harus sudah tuntas dikerjakan," tegas Dody saat meninjau lapangan, seperti dikutip dari NTMC Polri, Sabtu (28/3/2026).

Bedah Total KM 57 dan KM 62

Evaluasi dari arus mudik lalu menunjukkan satu titik lemah yang berdampak besar yakni Rest Area KM 57 dan KM 62 Tol Jakarta-Cikampek.

Kedua titik ini menjadi "botleneck" utama akibat desain pintu masuk yang terlalu sempit, menyebabkan antrean mengular hingga ke bahu jalan tol dan melumpuhkan laju kendaraan di jalur utama.

Menteri PU memastikan penataan ulang rest area secara fundamental akan segera dilakukan. 

"Setelah arus balik usai, tim khusus akan dibentuk untuk merancang ulang tata letak pintu masuk dan keluar agar lebih landai dan mampu menampung volume kendaraan besar," cetus Dody.

Baca juga: Hakaaston Optimalisasi Fasilitas di 4 Wilayah Tol Kelolaan

Selain itu, penataan juga akan menyasar fasilitas tanpa SPBU agar lebih menarik bagi pemudik. Targetnya adalah menghilangkan kebiasaan berbahaya pemudik yang berhenti di bahu jalan tol hanya untuk beristirahat sejenak.

Perombakan ini ditargetkan rampung sebelum libur Natal dan Tahun Baru 2027 agar skenario kemacetan serupa tidak terulang.

Strategi Arus Balik

Sementara itu, menurut Direktur Utama PT Jasa Marga (Persero) Tbk, Rivan Achmad Purwantono, mengatakan, sekitar 2,5 juta kendaraan atau 74 persen telah kembali ke Jakarta.

"Dengan demikian masih ada sisa 25 persen atau sekitar 500.000 kendaraan yang diprediksi akan memadati ruas tol pada Sabtu dan Minggu ini," kata Rivan.

Baca juga: One Way Berlaku, Pengguna Tol Arah Bandung Diminta Keluar di KM 72

Untuk menghadapi sisa gelombang besar ini, pemerintah menyiapkan dua strategi utama yakni penerapan sistem satu arah dari GT Kalikangkung hingga Cikampek Utama yang akan dilakukan secara dinamis berdasarkan data pergerakan kendaraan secara real-time.

Kemudian solusi jarak antar rest area yang terlalu jauh (terutama di ruas Batang-Semarang), Jasa Marga menyiapkan 9 titik rest area fungsional di luar jalur tol.

Menariknya, pemudik tidak akan dikenakan beban tarif tambahan saat masuk kembali ke jalan tol setelah dari titik fungsional tersebut.

Menanggapi keluhan masyarakat soal minimnya tempat istirahat di beberapa ruas, Dody mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengkaji "trade balance" dengan pihak investor.

Membangun rest area permanen memang dilematis secara ekonomi jika hanya ramai setahun sekali. Namun, pemerintah berkomitmen memberikan insentif khusus agar investor tertarik membangun fasilitas Tipe A atau B demi kenyamanan publik di masa depan.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau