Penulis
KOMPAS.com - Semen menjadi salah satu material paling vital dalam dunia konstruksi modern. Hampir seluruh bangunan, mulai dari rumah tinggal hingga gedung pencakar langit, bergantung pada bahan ini sebagai perekat utama.
Secara umum, semen merupakan hasil industri dari perpaduan bahan baku berupa batu kapur atau gamping dan lempung atau tanah liat. Hasil akhirnya berupa bubuk halus yang akan mengeras atau membatu ketika dicampur dengan air.
Batu kapur sendiri merupakan bahan alami yang kaya akan senyawa kalsium oksida (CaO). Sementara itu, tanah liat mengandung berbagai senyawa penting seperti silika oksida (SiO2), aluminium oksida (Al2O3), besi oksida (Fe2O3), dan magnesium oksida (MgO).
Dalam proses pembuatannya, bahan-bahan tersebut dibakar pada suhu tinggi hingga meleleh dan membentuk material setengah jadi yang disebut klinker. Klinker kemudian dihancurkan dan dicampur dengan gips (gypsum) dalam takaran tertentu agar menghasilkan semen berbentuk bubuk halus.
Dilansir dari Modul Teknik Konstruksi Batu Beton yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sejarah semen modern tak lepas dari peran John Smeaton, seorang insinyur asal Inggris pada abad ke-18.
Baca juga: Tahukah Kamu Siapa Orang Pertama yang Menggunakan Semen?
Ia dikenal sebagai sosok yang menemukan kembali formula kuno semen saat membangun mercusuar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris.
Dalam proyek tersebut, Smeaton menggunakan campuran batu kapur dan tanah liat untuk menghasilkan material yang mampu mengeras dan tahan terhadap air laut. Temuan ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan teknologi semen modern.
Namun, bukan Smeaton yang mematenkan penemuan tersebut. Hak paten justru diajukan oleh Joseph Aspdin, seorang insinyur berkebangsaan Inggris, pada tahun 1824.
Aspdin menamai temuannya sebagai Semen Portland. Nama ini diambil karena warna hasil akhir semen yang telah mengeras menyerupai batuan alami dari Pulau Portland.
Baca juga: Mengapa Kebanyakan Semen Bangunan Dinamakan Semen Portland?
Secara komposisi, ramuan yang dikembangkan Aspdin tidak jauh berbeda dari milik Smeaton. Ia tetap menggunakan dua bahan utama, yakni batu kapur yang kaya kalsium karbonat dan tanah liat yang mengandung silika, alumina, serta oksida besi.
Proses pembuatannya dilakukan dengan menghaluskan bahan-bahan tersebut, kemudian memanaskannya pada suhu tinggi hingga terbentuk campuran baru. Selama pemanasan, terbentuk material padat yang menjadi dasar semen.
Agar tidak mengeras seperti batu sebelum digunakan, campuran tersebut kemudian ditambahkan gips dan digiling hingga menjadi partikel-partikel halus berbentuk bubuk.
Hasil rekayasa Aspdin inilah yang menjadi cikal bakal semen modern yang digunakan saat ini. Semen Portland terus berkembang dengan berbagai inovasi, tetapi prinsip dasarnya tetap sama seperti yang ditemukan hampir dua abad lalu.
Baca juga: Orang Zaman Dahulu Bikin Bangunan Megah Tanpa Semen, Kok Bisa?
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang