Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Asal Usul Semen Portland

Kompas.com, 28 Maret 2026, 12:31 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Semen menjadi salah satu material paling vital dalam dunia konstruksi modern. Hampir seluruh bangunan, mulai dari rumah tinggal hingga gedung pencakar langit, bergantung pada bahan ini sebagai perekat utama.

Secara umum, semen merupakan hasil industri dari perpaduan bahan baku berupa batu kapur atau gamping dan lempung atau tanah liat. Hasil akhirnya berupa bubuk halus yang akan mengeras atau membatu ketika dicampur dengan air.

Batu kapur sendiri merupakan bahan alami yang kaya akan senyawa kalsium oksida (CaO). Sementara itu, tanah liat mengandung berbagai senyawa penting seperti silika oksida (SiO2), aluminium oksida (Al2O3), besi oksida (Fe2O3), dan magnesium oksida (MgO).

Dalam proses pembuatannya, bahan-bahan tersebut dibakar pada suhu tinggi hingga meleleh dan membentuk material setengah jadi yang disebut klinker. Klinker kemudian dihancurkan dan dicampur dengan gips (gypsum) dalam takaran tertentu agar menghasilkan semen berbentuk bubuk halus.

Awal Mula Penemuan Semen

Dilansir dari Modul Teknik Konstruksi Batu Beton yang diterbitkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, sejarah semen modern tak lepas dari peran John Smeaton, seorang insinyur asal Inggris pada abad ke-18.

Baca juga: Tahukah Kamu Siapa Orang Pertama yang Menggunakan Semen?

Ia dikenal sebagai sosok yang menemukan kembali formula kuno semen saat membangun mercusuar Eddystone di lepas pantai Cornwall, Inggris.

Dalam proyek tersebut, Smeaton menggunakan campuran batu kapur dan tanah liat untuk menghasilkan material yang mampu mengeras dan tahan terhadap air laut. Temuan ini menjadi tonggak penting dalam perkembangan teknologi semen modern.

Namun, bukan Smeaton yang mematenkan penemuan tersebut. Hak paten justru diajukan oleh Joseph Aspdin, seorang insinyur berkebangsaan Inggris, pada tahun 1824.

Lahirnya Semen Portland

Aspdin menamai temuannya sebagai Semen Portland. Nama ini diambil karena warna hasil akhir semen yang telah mengeras menyerupai batuan alami dari Pulau Portland.

Baca juga: Mengapa Kebanyakan Semen Bangunan Dinamakan Semen Portland?

Secara komposisi, ramuan yang dikembangkan Aspdin tidak jauh berbeda dari milik Smeaton. Ia tetap menggunakan dua bahan utama, yakni batu kapur yang kaya kalsium karbonat dan tanah liat yang mengandung silika, alumina, serta oksida besi.

Proses pembuatannya dilakukan dengan menghaluskan bahan-bahan tersebut, kemudian memanaskannya pada suhu tinggi hingga terbentuk campuran baru. Selama pemanasan, terbentuk material padat yang menjadi dasar semen.

Agar tidak mengeras seperti batu sebelum digunakan, campuran tersebut kemudian ditambahkan gips dan digiling hingga menjadi partikel-partikel halus berbentuk bubuk.

Hasil rekayasa Aspdin inilah yang menjadi cikal bakal semen modern yang digunakan saat ini. Semen Portland terus berkembang dengan berbagai inovasi, tetapi prinsip dasarnya tetap sama seperti yang ditemukan hampir dua abad lalu.

Baca juga: Orang Zaman Dahulu Bikin Bangunan Megah Tanpa Semen, Kok Bisa?

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau