Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+

Tahukah Kamu Siapa Orang Pertama yang Menggunakan Semen?

Kompas.com, 28 Maret 2026, 10:16 WIB
Muhammad Idris

Penulis

KOMPAS.com - Semen merupakan salah satu bahan bangunan paling penting dalam sejarah peradaban manusia. Namun, pertanyaan menariknya adalah siapa sebenarnya orang pertama yang menggunakan semen?

Mengutip World Cement Association (WCA), bukti paling awal penggunaan material mirip semen ditemukan sekitar 12.000 tahun lalu di wilayah Turki modern.

Penemuan arkeologis menunjukkan adanya lantai yang dipadatkan dan dilapisi material putih, terbuat dari batu kapur bakar dan tanah liat.

Temuan ini menandakan bahwa manusia prasejarah sudah memahami cara mengolah bahan alami untuk menciptakan permukaan yang kuat dan tahan lama, cikal bakal semen yang kita kenal saat ini.

Berkembang di Timur Tengah

Perkembangan berikutnya terjadi di kawasan Bulan Sabit Subur atau kawasan Timur Tengah, tempat lahirnya banyak inovasi peradaban awal.

Baca juga: Mengapa Kebanyakan Semen Bangunan Dinamakan Semen Portland?

Di wilayah ini, manusia mulai mengembangkan batu bata tanah liat bakar dan menemukan bahwa batu kapur dapat diolah menjadi kapur untuk membuat mortar.

Sekitar 800 SM, bangsa Fenisia menemukan campuran kapur bakar dan abu vulkanik yang dikenal sebagai pozzolana.

Campuran ini menghasilkan kapur hidroli, jenis semen yang mampu mengeras di bawah air dan memiliki kekuatan lebih tinggi dibandingkan material sebelumnya.

Penggunaan semen mencapai tingkat yang jauh lebih maju pada masa Kekaisaran Romawi. Bangsa Romawi mengembangkan teknik konstruksi inovatif, termasuk penggunaan beton awal yang dikenal sebagai opus caementitium.

Material ini merupakan campuran kapur dengan agregat seperti pasir dan batu pecah, yang digunakan untuk membangun struktur besar dan kokoh.

Pengetahuan konstruksi ini didokumentasikan secara rinci oleh Marcus Vitruvius Pollio, seorang arsitek dan insinyur Romawi.

Baca juga: Orang Zaman Dahulu Bikin Bangunan Megah Tanpa Semen, Kok Bisa?

Hasilnya, sejumlah bangunan megah yang masih berdiri hingga kini menjadi bukti kehebatan teknologi mereka, seperti Koloseum dan Pantheon di Roma, serta Hagia Sophia di Istanbul.

Memasuki Abad Pertengahan, perkembangan semen cenderung melambat. Pengetahuan tentang bahan bangunan lebih banyak diwariskan secara lisan di dalam kelompok tukang batu.

Meski demikian, semen hidrolik tetap digunakan untuk membangun benteng dan kanal. Pada masa ini, campuran umum masih berupa kapur dan pasir, sementara beton modern belum dikenal.

Penemu Semen Modern

Perkembangan besar kembali terjadi saat Revolusi Industri di Eropa pada akhir abad ke-18. Sejumlah tokoh memberikan kontribusi penting, seperti John Smeaton, James Parker, Louis Vicat, dan Egor Cheliev.

Namun, tonggak utama terjadi pada tahun 1824 ketika Joseph Aspdin menemukan semen Portland. Ia menciptakan bahan ini dengan memanaskan batu kapur dan tanah liat, lalu menggilingnya menjadi bubuk yang dapat mengeras saat dicampur air.

Penemuan ini kemudian disempurnakan oleh putranya, William Aspdin, serta oleh Isaac Johnson yang berhasil menghasilkan bentuk semen modern melalui proses pembakaran suhu tinggi hingga terbentuk klinker.

Sejak pertengahan abad ke-19, penggunaan semen Portland meningkat pesat. Beton mulai digunakan dalam berbagai proyek, mulai dari jembatan kecil hingga sistem pembuangan limbah skala besar di kota-kota seperti London dan Paris.

Inovasi terus berlanjut, termasuk munculnya beton bertulang yang memungkinkan pembangunan gedung lebih tinggi dan struktur lebih kuat.

Baca juga: Mesin Penyerap Karbon dari Mikroalga Dipasang di Pabrik Semen Bekasi

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang



Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Unduh Kompas.com App untuk berita terkini, akurat, dan tepercaya setiap saat
QR Code Kompas.com
Arahkan kamera ke kode QR ini untuk download app
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Komentar
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau