Penulis
KOMPAS.com - Semen merupakan salah satu bahan bangunan paling penting dalam sejarah peradaban manusia. Namun, pertanyaan menariknya adalah siapa sebenarnya orang pertama yang menggunakan semen?
Mengutip World Cement Association (WCA), bukti paling awal penggunaan material mirip semen ditemukan sekitar 12.000 tahun lalu di wilayah Turki modern.
Penemuan arkeologis menunjukkan adanya lantai yang dipadatkan dan dilapisi material putih, terbuat dari batu kapur bakar dan tanah liat.
Temuan ini menandakan bahwa manusia prasejarah sudah memahami cara mengolah bahan alami untuk menciptakan permukaan yang kuat dan tahan lama, cikal bakal semen yang kita kenal saat ini.
Perkembangan berikutnya terjadi di kawasan Bulan Sabit Subur atau kawasan Timur Tengah, tempat lahirnya banyak inovasi peradaban awal.
Baca juga: Mengapa Kebanyakan Semen Bangunan Dinamakan Semen Portland?
Di wilayah ini, manusia mulai mengembangkan batu bata tanah liat bakar dan menemukan bahwa batu kapur dapat diolah menjadi kapur untuk membuat mortar.
Sekitar 800 SM, bangsa Fenisia menemukan campuran kapur bakar dan abu vulkanik yang dikenal sebagai pozzolana.
Campuran ini menghasilkan kapur hidroli, jenis semen yang mampu mengeras di bawah air dan memiliki kekuatan lebih tinggi dibandingkan material sebelumnya.
Penggunaan semen mencapai tingkat yang jauh lebih maju pada masa Kekaisaran Romawi. Bangsa Romawi mengembangkan teknik konstruksi inovatif, termasuk penggunaan beton awal yang dikenal sebagai opus caementitium.
Material ini merupakan campuran kapur dengan agregat seperti pasir dan batu pecah, yang digunakan untuk membangun struktur besar dan kokoh.
Pengetahuan konstruksi ini didokumentasikan secara rinci oleh Marcus Vitruvius Pollio, seorang arsitek dan insinyur Romawi.
Baca juga: Orang Zaman Dahulu Bikin Bangunan Megah Tanpa Semen, Kok Bisa?
Hasilnya, sejumlah bangunan megah yang masih berdiri hingga kini menjadi bukti kehebatan teknologi mereka, seperti Koloseum dan Pantheon di Roma, serta Hagia Sophia di Istanbul.
Memasuki Abad Pertengahan, perkembangan semen cenderung melambat. Pengetahuan tentang bahan bangunan lebih banyak diwariskan secara lisan di dalam kelompok tukang batu.
Meski demikian, semen hidrolik tetap digunakan untuk membangun benteng dan kanal. Pada masa ini, campuran umum masih berupa kapur dan pasir, sementara beton modern belum dikenal.
Perkembangan besar kembali terjadi saat Revolusi Industri di Eropa pada akhir abad ke-18. Sejumlah tokoh memberikan kontribusi penting, seperti John Smeaton, James Parker, Louis Vicat, dan Egor Cheliev.
Namun, tonggak utama terjadi pada tahun 1824 ketika Joseph Aspdin menemukan semen Portland. Ia menciptakan bahan ini dengan memanaskan batu kapur dan tanah liat, lalu menggilingnya menjadi bubuk yang dapat mengeras saat dicampur air.
Penemuan ini kemudian disempurnakan oleh putranya, William Aspdin, serta oleh Isaac Johnson yang berhasil menghasilkan bentuk semen modern melalui proses pembakaran suhu tinggi hingga terbentuk klinker.
Sejak pertengahan abad ke-19, penggunaan semen Portland meningkat pesat. Beton mulai digunakan dalam berbagai proyek, mulai dari jembatan kecil hingga sistem pembuangan limbah skala besar di kota-kota seperti London dan Paris.
Inovasi terus berlanjut, termasuk munculnya beton bertulang yang memungkinkan pembangunan gedung lebih tinggi dan struktur lebih kuat.
Baca juga: Mesin Penyerap Karbon dari Mikroalga Dipasang di Pabrik Semen Bekasi
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang