Penulis
KOMPAS.com - Di kawasan dengan kebudayaan tinggi yang berkembang sejak ratusan bahkan ribuan tahun silam, mudah sekali ditemui bangunan besar dan megah.
Di Eropa, selama abad pertengahan, banyak bangunan-bangunan kastil yang dibangun. Bangunan megah ini juga berguna sebagai benteng pertahanan bagi para penguasa feodal setempat.
Kastil-kastil megah yang berdiri kokoh sejak ratusan tahun lalu sering memunculkan pertanyaan, bagaimana cara orang zaman dulu membangunnya, padahal belum ada semen modern seperti sekarang?
Dikutip dari World Cement Association (WCA), sekitar 800 SM, bangsa Fenisia menemukan campuran kapur bakar dan abu vulkanik yang dikenal sebagai pozzolana. Material ini menjadi salah satu cikal bakal semen.
Campuran tersebut menghasilkan kapur hidrolik, yaitu bahan yang mampu mengeras bahkan di bawah air. Itu sebabnya, semen jenis ini disebut dengan semen hidrolik.
Baca juga: Mengapa Kebanyakan Semen Bangunan Dinamakan Semen Portland?
Kekuatan dan daya tahannya jauh lebih baik dibandingkan material bangunan sebelumnya, sehingga sangat membantu dalam pembangunan struktur besar.
Perkembangan teknik konstruksi juga terjadi di kawasan Timur Tengah, khususnya di wilayah Suriah Selatan dan Yordania. Di daerah ini, bangsa Nabatea mengembangkan metode baru.
Mereka mencampurkan kapur dengan abu vulkanik, lalu memadatkannya hingga membentuk material yang keras dan solid. Hasilnya adalah kapur hidrolik yang mampu mengeras dalam kondisi basah, bahkan di bawah air.
Penemuan ini menjadi langkah penting menuju perkembangan beton yang lebih maju di masa berikutnya.
Pada masa lalu, pembangunan kastil tidak sepenuhnya bergantung pada "lem" seperti semen modern. Para tukang batu di Eropa Abad Pertengahan mengombinasikan beberapa teknik, seperti penggunaan mortar sederhana.
Baca juga: Saat Bangunan Tua Belanda Diubah Nasution Jadi Masjid
Mortar ini dibuat dari campuran kapur dan pasir. Kemudian bahan semen sederhana ini dipadukan dengan teknik penyusunan batu besar dengan presisi tinggi agar saling mengunci
Pemadatan material lalu digunakan untuk meningkatkan kekuatan struktur. Teknik-teknik ini membuat kastil tetap kokoh meski tanpa teknologi modern.
Saat Abad Pertengahan, perkembangan teknologi semen memang cenderung melambat. Pengetahuan tentang bahan bangunan tidak banyak ditulis, melainkan diwariskan secara lisan di kalangan tukang batu.
Meski begitu, kapur hidrolik tetap digunakan, terutama untuk membangun benteng, kastil, dan kanal. Campuran yang umum dipakai saat itu masih sederhana, yaitu kapur dan pasir.
Beton seperti yang dikenal saat ini belum digunakan, tetapi teknik konstruksi yang ada sudah cukup untuk menghasilkan bangunan yang kuat dan bertahan lama.
Baca juga: Rahasia Bangunan Romawi Tetap Utuh Selama Ribuan Tahun
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang